SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MENIKMATI, SEMOGA BERMANFAAT

Kamis, 02 November 2017

*Zaid bin Tsabit Al Anshoriy* – Penerjemah Rasulullah


Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Tahun itu, tahun kedua Hijriyah, Kota Madinah sedang sibuk persiapan perang Badar. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam melakukan pemeriksaan terakhir pasukan yang akan menuju Badar. Di sela-sela barisan pasukan tersebut ada seorang pemuda belia yang umurnya belum genap 13 tahun. Ia membawa pedang yang panjangnya hampir setara dengan dirinya atau bahkan lebih. Terlihat jelas semangat yang berapi-api dari diri pemuda beliau tersebut.

Pemuda tersebut mendekat dan berkata pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, izinkan aku bersamamu untuk memerangi musuh-musuh Allah dan berjihad dibawah pimpinanmu?” Rasulullah pun memandangnya dengan pandangan penuh kebahagiaan dan takjub. Rasulullah pun memukul dengan lembut pahanya, menghibur dan menyuruhnya untuk pulang karena usianya masih terlalu dini untuk ikut berperang. Pemuda itupun kembali sambil menyeret pedangnya karena sedih tidak bisa mengikuti perang yang pertama kali Rasulullah pimpin. Siapakah pemuda itu? Dialah Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu.

Menjadi Penerjemah Rasulullah

Tidak berhasil menemani Rasulullah di medan Badar, Zaid –diusianya yang masih belia tersebut- berusaha mencari jalan agar bisa dekat dengan Rasulullah. Ia ingin melakukan sesuatu untuk Islam dan kaum Muslimin. Akhirnya ia mendapatkan ide untuk memanfaatkan ilmu dan kekuatan hafalan yang ia miliki. Ia membisikkan ide tersebut pada ibunya (An Nawaaru bintu al Malik). Ibunya pun senang dengan ide tersebut dan optimis bisa terwujud. Ibunya lalu menyampaikan ide tersebut pada sekelompok laki-laki dari kaumnya untuk kemudian disampaikan kepada Rasulullah. Mereka pun menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, ini anak kami Zaid bin Tsabit hafal 17 surat dari Kitabullah. Ia membacanya dengan benar sebagaimana diturunkan padamu. Lebih dari itu, ia pandai dalam membaca dan menulis. Dia ingin dekat dan selalu menemanimu… dengarkanlah darinya jika Engkau mau.”

Rasulullah menyimak sebagian bacaan Al Qur’an Zaid dari yang ia hafal. Rasulullah pun merasa bahagia dan takjub karena bacaan Zaid yang lancar, jelas dan menyentuh hati. Rasulullah pun bersabda padanya, “Wahai Zaid, pelajarilah kitabnya umat Yahudi untukku, sesunggunya saya tidak membuat mereka percaya dengan apa yang aku katakan..” Zaid menjawab, “Labbaika (aku penuhi seruanmu) ya Rasulullah!”. Ia pun mempelajari bahasa Ibrani dan dapat menguasainya dalam waktu singkat. Sehingga ia menjadi penulis surat jika Rasulullah ingin mengirimi kaum Yahudi surat dan sebaliknya membacakan untuk beliau jika mereka mengirimi beliau surat. Ia pun kemudian mempelajari bahasa Suryani atas perintah Rasulullah juga. Maka jadilah Zaid sebagai penerjemah Rasulullah.

💟 *Page 1*

*Menjadi Penulis Wahyu*

Seiring berjalannya waktu, berkat kepandaian dan sifat amanah yang ada pada diri Zaid maka Rasulullah mengamanahinya untuk menulis wahyu yang diturunkan pada beliau. Jika turun sebagian dari ayat Al Qur’an maka Zaid pun dipanggil dan diperintahkan untuk menulisnya. Dengan demikian, Zaid bin Tsabit mentallaqi Al Qur’an langsung dari Rasulullah. Dia mengambil langsung Al Qur’an dari lisan Rasulullah yang mulia dan dibarengi dengan mengetahui asbabul nuzulnya sehingga jiwa dan akalnya tersinari dengan ayat-ayat tersebut.  Maka jadilah Zaid sebagai penjaga al Qur’an dan sebagai rujukan utama setelah wafatnya Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam. Dialah yang memimpin untuk mengumpulkan Al Qur’an di zaman khalifah Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu anhu. Dia juga yang ditunjuk untuk mengawasi penyatuan mushaf di zaman kalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Ini semua tidak lain menunjukkan keutamaan Zaid bin Tsabit.

*Saat Wafatnya Rasulullah*

Zaid bin Tsabit tumbuh dalam pancaran dan bimbingan Al Qur’an. Pancaran al Qur’an telah menunjukkinya kepada pendapat yang benar saat terjadi beberapa peristiwa pelik dan genting (dimana orang-orang yang berilmu pun menjadi bingung pada saat-saat itu). Salah satu peristiwa penting yang menunjukkan keutamaan Zaid adalah saat para sahabat berselisih pendapat siapa yang akan menjadi khalifah (pengganti) Rasulullah setelah beliau wafat. Orang-orang Muhajirin mengatakan bahwa mereka lebih utama untuk menjadi khalifah. Begitu juga Anshor mengatakan mereka lebih utama. Sebagian yang lain mengatakan bahwa hendaknya masing-masing memiliki pemimpin. Hampir-hampir terjadi fitnah besar diantara sahabat padahal jasad Rasulullah belum dikuburkan. Zaid pun mengucapkan kalimat yang agung dan meredakan suasana. Beliu berkata, “Wahai sekalian Anshor, sesungguhnya Rasulullah adalah dari Muhajirin, maka khalifahnya pun dari Muhajirin semisalnya. Dan sesungguhnya kita adalah para Anshoru (penolong) Rasulullah maka hendaknya kita menjadi penolong khalifah setelahnya dan membantunya diatas al Haq”. Lalu ia pun menjulurkan tangannya pada Abu Bakar as Siddiq sambil mengatakan “Ini adalah khalifah kalian maka bai’atlah dia!”

💟 *Page 2*

*Sanjungan Para Sahabat Pada Zaid bin Tsabit*

Khalifah Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Wahai sekalian manusia, barangsiapa ingin bertanya tentang al Qur’an maka bertanyalah pada Zaid bin Tsabit. Dan barangsiapa ingin bertanya tentang fikih maka bertanyalah kepada Muaz bin Jabbal. Dan barangsiapa ingin menanyakan(meminta) tentang harta maka datanglah kepadaku karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai wali dan pembagi untuknya.” Para penuntul ilmu di kalangan sahabat dan tabi’in mengetahui betul keutamaan Zaid bin Tsabit. Mereka benar-benar mengakui ilmu yang dimiliki Zaid bin Tsabit.

Suatu ketika Abdullah bin Abbas (samudra ilmu umat ini) melihat Zaid bin Tsabit mau menaiki tunggangannya. Maka Ibnu Abbas pun berdiri di depannya, lalu memegang tunggangan tersebut agar Zaid naik dan mengambil tali kekangnya. Zaid pun mengatakan padanya, ”Tinggalkan itu wahai anak paman Rasulullah!” Abdullah menjawab “Demikian kami diperintah untuk memperlakukan (menghormati) ulama kami.” Zaid pun mengatakan, “Keluarkan tanganmu”. Lalu Ibnu Abbas mengeluarkan tangannya lalu Zaid menciumnya dan berkata, “Demikian kami diperintah untuk memperlakukan ahli bait Rasulullah.”

Demikian sekilas tentang kehidupan Zaid bin Tsabit. Semoga Allah menumbuhkan pada hati kita rasa cinta pada seluruh para sahabat Rasul dan kita diberi kekuatan untuk meneladani mereka. Amien.

Disarikan dari Suwarun min Hayati Ash Shahabahkarya Dr. Abdurrahman Ra’fat Al Basya.



Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 13/11/1434.

www.ukhuwahislamiah.com

💟 *The end*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mau membaca, dengan segala kerendahan hati mohon diberikan komentar,semoga dapat bermanfaat