SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MENIKMATI, SEMOGA BERMANFAAT
Tampilkan postingan dengan label MATERI KULTUM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI KULTUM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Desember 2011

“ KUMPULAN KEUTAMAAN BULAN RAJAB“

Bulan Rajab sedang kita jalani, dua bulan kedepan akan datang bulan yang Mulia yaitu Bulan Ramadhan. Namun dibulan Rajab ini sudah seharusnya kita memulai untuk membenahi diri kita untuk persiapan di bulan Rajab. Berikut ini kumpulan hadist yang membahas tentang keutamaan dan hikmah yang ada di bulan Rajab , Semoga Bermanfaat.

1. Hadits: “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis dari pada madu, siapa yang puasa sehari di bulan Rajab maka Allah akan memberi minum orang ini dengan air sungai tersebut.” (Riwayat Abul Qosim At Taimi dalam At Targhib wat Tarhib, Al Hafidz Al Ashbahani dalam kitab Fadlus Shiyam, dan Al Baihaqi dalam Fadhail Auqat. Ibnul Jauzi mengatakan dalam Al Ilal Al Mutanahiyah: Dalam sanadnya terdapat banyak perawi yang tidak dikenal, sanadnya dhaif secara umum, namun tidak sampai untuk dihukumi palsu.)

2. Hadis: “Allahumma baarik lanaa fii rajabin wa sya’baana wa ballighnaa Ramadhaana.” (Riwayat Ahmad, dan di sanadnya terdapat perawi Zaidah bin Abi Raqqad, dari Ziyadah An Numairi. Tentang para perawi ini, Imam Bukhari mengatakan: Munkarul hadis. An Nasa’i mengatakan: Mungkarul hadis. Sementara Ibn Hibban menyatakan: hadisnya tidak bisa dijadikan dalil)

3. Hadis: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah puasa setelah Ramadhan, selain di bulan Rajab dan Sya’ban.” (Riwayat Al Baihaqi. Ibn Hajar mengatakan: ini adalah hadis munkar, disebabkan adanya perawi yang bernama Yusuf bin Athiyah, dia orang yang dhaif sekali.- Tabyinul Ajbi, hal. 12)

4. Hadis: “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” (Riwayat Abu Bakr An Naqasy. Al Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan: An Naqasy adalah pemalsu hadis, pendusta. Ibnul Jauzi, As Shaghani, dan As Suyuthi menyebut hadis ini dengan hadis maudlu’)

5. Hadis: “Keutamaan Rajab dibanding bulan yang lain, seperti keutamaan Al Qur’an dibanding dzikir yang lain.” (Ibn Hajar mengatakan: Perawi hadis ini ada yang bernama As Saqathi, dia adalah penyakit dan orang yang terkenal sebagai pemalsu hadis).

6. Hadis: “Rajab adalah bulan Allah Al Asham. Siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, atas dasar iman dan ihtisab (mengharap pahala) maka dia berhak mendapat ridla Allah yang besar.” (Hadis palsu, sebagaimana penjelasan As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah)

7. Hadis: “Barangsiapa yang berpuasa tiga hari bulan Rajab, Allah catat baginyu puasa sebulan penuh. Siapa yang puasa tujuh hari maka Allah menutup tujuh pintu neraka.” (Hadis maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/206)

8. Hadis: “Siapa yang shalat maghrib di malam pertama bulan Rajab, setelah itu dia shalat dua puluh rakaat, setiap rakaat dia membaca Al Fatihah dan surat Al Ikhlas sekali, dan dia melakukan salam sebanyak sepuluh kali. Tahukah kalian apa pahalanya? ….lanjutan hadis: Allah akan menjaga dirinnya, keluarganya, hartanya, dan anaknya. Dia dilindungi dari siksa kubur, …“(Hadis maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/123)

9. Hadis: “Siapa yang puasa di bulan Rajab dan shalat empat rakaat…maka dia tidak akan mati sampai dia melihat tempatnya di surga atau dia diperlihatkan.” (Hadis maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/124, Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 47)

10.         Hadis: “Barangsiapa yang shalat pada malam pertengahan bulan Rajab, sebanyak 14 rakaat, setiap rakaat membaca Al Fatihah sekali dan surat Al Ikhlas 20 kali…..” (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/126, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 25, As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 50)

11.         Hadis: “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang agung, siapa yang berpuasa sehari, Allah akan mencatat baginya puasa seribu tahun…”(Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/206 – 207, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 26, As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 101, As Suyuthi dalam Al Lali’ Al Mashnu’ah, 2/115)

Demikian kumpulan hadist yang meriwayatkan bulan Rajab yang diambil dari muslimah.or.id, mudah-mudahan dapat menambah keimanan dan ketaqwaan kita dalam kehidupan sehari-hari. Mengenai pendapat tentang bid'ah atau tidaknya semua kita serahkan kepada Allah SWT , karena yang terpenting bagi kita adalah melaksanakan ibadah hanya untuk mencapai ridho Allah SWT . Wallahu'alam bishowab

(Juni 2011)
“ SEDEKAH YANG PALING UTAMA“

Pada satu kesempatan, Rasulullah SAW ditanya seseorang sahabatnya tentang sedekah yang paling utama. Sabda beliau, ''Engkau menyedekahkan harta itu pada saat engkau dalam keadaan sehat dan di kala engkau benar-benar menginginkan harta tersebut saat itu.''
(HR Abu Dawud).

Dalam Alquran, Allah SWT juga berfirman, ''Engkau tak akan mendapatkan kebaikan apa pun hingga kalian menyedekahkan sebagian harta yang paling kalian cintai. Ketahuilah, apa pun yang kalian infakkan, Allah pasti mengetahuinya.'' (Ali 'Imran: 92).

Mungkin kita semua pernah merasakan, ketika kita mendapatkan limpahan rezeki dari Allah SWT , ada perasaan ingin selalu menambah rezeki itu menjadi lebih banyak, tak jarang kita merasa dengan menambah terus menerus akan membuat harta kita semakin banyak. Tentu saja hal itu menyalahi aturan Allah SWT, karena dari rezeki yang kita dapat ada hak orang lain di dalam harta kita, ada doa orang tua kita, keluarga kia yang menyertai rezeki kita hingga datang menghampiri kita. Memiliki rezeki yang dikaruniakan Allah SWT kepada kita, sudah seharusnya kita syukuri dengan cara mengeluarkan apa yang sudah seharusnya dikeluarkan dari harta tersebut, kita bersihkan harta yang ada dengan cara mengeluarkan zakatnya bila sudah sampai nishob, atau kita sedekahkan kepada yang membutuhkan sebagian dari rezeki kita, karena tidak akan pernah menjadi  miskin orang yang banyak bersedekah.

Jangan pernah kita menjadi cinta terhadap harta , karena hal itu akan menjadi penghambat kita untuk mengeluarkan sedekah kita. Salah satu akhlak mulia yang patut dicontoh dalam masalah sedekah adalah dengan mempercepat dalam memberikan sedekah itu. Pernah suatu ketika, Nabi SAW mempercepat shalatnya hingga membuat para sahabatnya bertanya-tanya.

Setelah ditanya, beliau menjawab, ''Ketika shalat, aku teringat ada harta bendaku yang belum aku sedekahkan.'' (HR Bukhari).

Harta bukan untuk ditumpuk, kemudian dinikmati sendiri. Ada kewajiban yang mesti dilakukan terhadap harta itu, agar harta yang diberikan Allah tidak sia-sia. Yakni, bisa menjadi bekal hidup, baik dunia maupun di akhirat. Keseimbangan dalam mengelola harta itulah yang ditekankan Rasulullah SAW. Harta memang miliknya, tapi di dalamnya juga ada milik orang lain yang mesti diberikan. Inilah yang terkadang berat dilakukan, karena menganggap harta benda yang dimiliki adalah hasil kerja keras yang harus dinikmati sendiri. Padahal, dalam harta seseorang sejatinya ada campur tangan dari Allah SWT. Karena itu, harta mesti dikelola sesuai dengan petunjuk Allah juga. Insya Allah semoga apa yang kita miliki dapat menjadi penolong kita di akhirat kelak, karena kehidupan yang abadi adalah Akhirat yang kekal.
Wallahu 'alam bishowab

 (Mei 2011)
URGENSI KESABARAN DALAM KEHIDUPAN

Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)

Hadits singkat ini memiliki makna yang luas sekaligus memberikan definisi mengenai sifat dan karakter orang yang beriman. Setiap orang yang beriman digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah ‘ajaban’ . Karena sifat dan karakter ini akan mempesona siapa saja.  Kemudian Rasulullah SAW menggambarkan bahwa pesona tersebut berpangkal dari adanya positif thinking setiap mu’min. Dimana ia memandang segala persoalannya dari sudut pandang positif, dan bukan dari sudut negatifnya. Sebagai contoh, ketika ia mendapatkan kebaikan, kebahagian, rasa bahagia, kesenangan dan lain sebagainya, ia akan refleksikan dalam bentuk penysukuran terhadap Allah SWT. Karena ia tahu dan faham bahwa hal tersebut merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada dirinya. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya.  Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, bencana, rasa duka, sedih, kemalangan dan hal-hal negatif lainnya, ia akan bersabar. Karena ia meyakini bahwa hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang pasti memiliki rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT..

Urgensi Kesabaran
Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, adalah seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala.

Namun kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian "nrimo", ketidak mampuan dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi panggilan ilahi.

Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik lagi. Bahkan seseorang dikatakan dapat diakatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Sabar dalam ibadah diimplementasikan dalam bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah. Sehingga sabar tidak tepat jika hanya diartikan dengan sebuah sifat pasif, namun ia memiliki nilai keseimbangan antara sifat aktif dengan sifat pasif.

Bentuk-Bentuk Kesabaran
Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga hal; sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan sabar menghadapi ujian dari Allah:

1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.
Kemudian untuk dapat merealisasikan kesabaran dalam ketaatan kepada Allah diperlukan beberapa hal,
(1) Dalam kondisi sebelum melakukan ibadah berupa memperbaiki niat, yaitu kikhlasan. Ikhlas merupakan kesabaran menghadapi duri-duri riya'.
(2) Kondisi ketika melaksanakan ibadah, agar jangan sampai melupakan Allah di tengah melaksanakan ibadah tersebut, tidak malas dalam merealisasikan adab dan sunah-sunahnya.
(3) Kondisi ketika telah selesai melaksanakan ibadah, yaitu untuk tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.

2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, memandang sesuatu yang haram dsb. Karena kecendrungan jiwa insan, suka pada hal-hal yang buruk dan "menyenangkan". Dan perbuatan maksiat identik dengan hal-hal yang "menyenangkan".

3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai dsb.

Aspek-Aspek Kesabaran sebagaimana yang Digambarkan dalam Hadits

Dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, terdapat beberapa hadits yang secara spesifik menggambarkan aspek-aspek ataupun kondisi-kondisi seseroang diharuskan untuk bersabar. Meskipun aspek-aspek tersebut bukan merupakan ‘pembatasan’ pada bidang-bidang kesabaran, melainkan hanya sebagai contoh dan penekanan yang memiliki nilai motivasi untuk lebih bersabar dalam menghadapi berbagai permasalahan lainnya. Diantara kondisi-kondisi yang ditekankan agar kita bersabar adalah :

1. Sabar terhadap musibah.
Sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar yang Dalam sebuah hadits diriwayatkan, :
Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.’ Wanita tersebut menjawab, ‘Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.’ Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah SAW. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah SAW dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah SAW, ‘(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW.’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama.’ (HR. Bukhari Muslim)

2. Sabar ketika menghadapi musuh (dalam berjihad).
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian berangan-angan untuk menghadapi musuh. Namun jika kalian sudah menghadapinya maka bersabarlah (untuk menghadapinya).” HR. Muslim.

3. Sabar berjamaah, terhadap amir yang tidak disukai.
Dalam sebuah riwayat digambarkan; Dari Ibnu Abbas ra beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang melihat pada amir (pemimpinnya) sesuatu yang tidak disukainya, maka hendaklah ia bersabar. Karena siapa yang memisahkan diri dari jamaah satu jengkal, kemudian ia mati. Maka ia mati dalam kondisi kematian jahiliyah. (HR. Muslim)

4. Sabar terhadap jabatan & kedudukan.
Dalam sebuah riwayat digambarkan : Dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang dari kaum Anshar berkata kepada Rasulullah SAW; ‘Wahai Rasulullah, engkau mengangkat (memberi kedudukan) si Fulan, namun tidak mengangkat (memberi kedudukan kepadaku). Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku ‘atsaratan’ (yaitu setiap orang menganggap lebih baik dari yang lainnya), maka bersabarlah kalian hingga kalian menemuiku pada telagaku (kelak). (HR. Turmudzi).

5. Sabar dalam kehidupan sosial dan interaksi dengan masyarakat.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seorang muslim apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif mereka adalah lebih baik dari pada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka. (HR. Turmudzi)

6. Sabar dalam kerasnya kehidupan dan himpitan ekonomi
Dalam sebuah riwayat digambarkan; ‘Dari Abdullah bin Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Barang siapa yang bersabar atas kesulitan dan himpitan kehidupannya, maka aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat baginya pada hari kiamat. (HR. Turmudzi).
Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterdzoliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh karena itulah, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di jalan-Nya...wallahu alam bishowab

(April 2011)
SIFAT-SIFAT INTEGRITAS WIRAUSAHA MUSLIM

Keberhasilan seorang wirausahawan dalam Islam bersifat independen. Artinya keunggulannya berpusat pada integritas pribadinya, bukan dari luar dirinya. Hal ini selain menimbulkan kehandalan menghadapi tantangan, juga merupakan garansi tidak terjebak dalam praktek–praktek negatif dan bertentangan dengan peraturan, baik peraturan negara maupun peraturan agama. Berikut ini  beberapa Integritas wirausahawan muslim tersebut terlihat dalam sifat – sifatnya, antara lain:

1. Taqwa, tawakal, zikir dan bersyukur.

Seorang wirausahawan muslim memiliki keyakinan yang kukuh terhadap kebenaran agamanya sebagai jalan keselamatan, dan bahwa dengan agamanya ia akan menjadi unggul. Keyakinan ini membuatnya melakukan usaha dan kerja sebagai dzikir dan bertawakal serta bersyukur pasca usahanya.

2. Motivasinya bersifat vertical dan horisontal.

Secara horizontal terlihat pada dorongannya untuk mengembangkan potensi dirinya dan keinginannya untuk selalu mencari manfaat sebesar mungkin bagi orang lain. Sementara secara vertical dimaksudkan untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Motivasi di sini berfungsi sebagai pendorong, penentu arah dan penetapan skala prioritas.

3. Niat Suci dan Ibadah

Bagi seorang muslim, menjalankan usaha merupakan aktifitas ibadah sehingga ia harus dimulai dengan niat yang suci (lillahi ta’ala), cara yang benar, dan tujuan serta pemanfaatan hasil secara benar. Sebab dengan itulah ia memperoleh garansi keberhasilan dari Tuhan.

4. Memandang Status dan profesi sebagai amanah

Seorang wirausahawan muslim senantiasa menyadari bahwa statusnya atau profesinya sebagai amanah. Karena itu, keberadaannya dalam tugas dan jabatan apapun selalu digunakan untuk mencapai penunaian amanah itu.

5. Aktualisasi diri untuk melayani

Wirausahawan muslim senantiasa berusaha untuk mengaktualisasikan dirinya, melayani konsumen yang menaruh harapan kepadanya atau kerjanya. Semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa, apa yang dilakukan sebagai pengabdian kepada Allah SWT

6. Mengembangkan Jiwa Bebas Merdeka

Bagi wirausahawan muslim, perlu memiliki jiwa bebas-merdeka. Baginya rahmat Tuhan dan rezeki-Nya sangat tidak terbatas sehingga cara dan upaya untuk mencapainya sangat luas pula. Perasaan ini membuatnya menjadi agak tampak tak merasa terikat dengan system yang ada. Namun kebebasannya selalu didasari pada patok –patok atau filosofi dan nilai – nilai yang dianggapnya benar.

7. Azam Bangun Lebih Pagi

Rasulullah mengajarkan kepada kita agar mulai bekerja sejak pagi hari. Setelah sholat Subuh, kalau tidak terpaksa, sebaiknya jangan tidur lagi. Bergeraklah untuk mencari rezeki dari Rab-mu. Para malaikat akan turun dan membagi rezeki sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

8. Selalu berusaha Meningkatkan llmu dan Ketrampilan

Ilmu pengetahuan dan ketrampilan, dua pilar bagi pelaksanaan suatu usaha. Oleh karenanya, memenej usaha berdasarkan ilmu dan ketrampilan di atas landasan iman dan ketaqwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan seorang wirausahawan.

9. Semangat Hijrah

Hijrah merupakan salah satu strategi Nabi Muhammad, yang pantas diteladani dan sangat cocok untuk diterapkan dalam dunia bisnis. Makna hijrah ini bukan hanya berarti kepindahan fisik semata, namun juga bermakna meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk menalankan perintah-Nya. Hijrah (dalam arti fisik dan spiritual) dalam berbisnis akan mendatangkan semangat baru, bahkan juga peluang baru yang tidak diduga sebelumnya.

10. Keberanian Memulai

Keberanian seringkali bukan merupakan bawaan lahir. Sebab, setiap orang dapat mengembangkan keberaniannya, dan bila dilakukan secara sungguh – sungguh keberanian tersebut akan berkembang dan berdayaguna. Bill Gates merupakan salah satu contoh yang baik dalam hal ini.

11. Memulai Usaha dengan Modal Sendiri Walaupun Kecil

Memulai usaha dengan modal sendiri meskipun kecil, apalagi kalau modal itu diperoleh dari hasil keringat sendiri ( bukan dari warisan apalagi meminta – minta ), merupakan awal yang baik untuk meraih sukses.

12. Sesuai Bakat

Setiap manusia dikarunia Allah kelebihan dan kekurangan. Kelebihan atau potensi dalam diri seseorang dapat dikembangkan atau dimenej untuk mencari rezek. Usaha yang dirintis dari hobby atau potensi/ketrampilan yanga ada dalam dirinya akan lebih berpeluang untuk sukses. Sebab ia akan selalu bersemangat, pekerjaannya menyenangkan, sehingga ia akan mencintainya. Hampir semua pengusaha yang sukses memulai usahanya dari sesuatu yang dicintai dan potensi yang ada dalam dirinya.

13. Jujur

Kejujuran merupakan salah satu kata kunci dalam kesuksesan seorang wirausahawan. Sebab suatu usaha tidak akan bisa berkembang sendiri tanpa ada kaitan dengan orang lain. Sementara kesuksesan dan kelanggengan hubungan dengan orang lain atau pihak lain, sangat ditentukan oleh kejujuran keduabelah pihak.

14. Suka Menyambung Tali Silaturahmi

Seorang wirausahawan haruslah sering melakukan silaturahmi dengan mitra bisnis dan bahkan juga dengan konsumennya. Hal ini harus merupakan bagian dari integritas seorang wirausahawan muslim. Sebab dalam perfektif Islam, silaturahmi selain meningkatkan ikatan persaudaraan juga akan membuka peluang – peluang bisnis baru.

15. Memiliki Komitmen Pada Pemberdayaan

Menurut perspektif Islam keberhasilan seseorang dalam usahanya bukanlah mutlak merupakan hasil kerjanya, melainkan merupakan kerja kolektif sejumlah manusia yang terkait dengannya. Oleh karenanya Islam menekankan sekali pentingnya komitmen pemberdayaan. Sedemikian pentingnya, sehingga menurut Islam, dalam harta seseorang selalu terdapat hak – hak orang miskin ( QS 51/Al Dzariyat : 19 ). Komitmen pada pemberdayaan memiliki arti luas, dan pelaksanaannya merupakan bagian dari tanggungjawab social pengusaha.

16. Menunaikan Zakat, Infaq dan Sadaqah ( ZIS )

Menunaikan zakat, infaq dan sadaqah harus menjadi budaya wirausahawan muslim. Menurut Islam sudah jelas, harta yang digunakan untuk membayar ZIS, tidak akan hilang, bahkan menjadi tabungan kita yang akan dilpatgandakan oleh Allah, di dunia dan di akhirat kelak.

17. Puasa dan Sholat Sunat dan Sholat Malam

Hubungan antara bisnis dan keluarga ibarat dua sisi mata uang sehingga satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Sebagai seorang entrepreneur, disamping menjadi pemimpin di perusahaannnya dia juga menjadi pemimpin di rumah tangganya. Membiasakan keluarga , istri, anak, untuk melaksanakan puasa-puasa atau sholat-sholat sunat

18. Mengasuh Anak Yatim

Sebagai pengusaha, mengasuh anak yatim merupakan kewajiban. Mengasuh atau memelihara dalam arti memberikan kasih sayang dan nafkah (makan, sandang, papan dan biaya pendidikan). Lebih baik lagi bila juga kita berikan bekal ( ilmu/agama/ketrampilan) sehingga mereka akan mampu mandiri menjalani kehidupan di kemudian hari.

19. Memampukan Orang Miskin

Memampukan orang miskin adalah pekerjaan yang sangat mulia di sisi Allah dan merupakan tabungan kita untuk akhirat. Kalau kita menabung untuk akhirat, maka dunia otomatis bisa diraih. Jadi dengan kata lain, kalau kita ingin dikayakan oleh Allah maka kita harus mau dan berani mengayakan orang lain. Atau, dengan jalan memampukan orang miskin.

20. Mengembangkan Sikap Tolerans

Toleransi, tenggang rasa, tepo sliro ( Jawa ) merupakan sikap yang penting dimiliki wirausahawan. Dengan demikian, tampak orang bisnis itu supel, mudah bergaul, fleksibel, pandai melihat situasi dan kondisi, teguh memegang prinsip namun tidak kaku dalam berhubungan dengan pihak lain ( termasuk dengan pelanggannya ).

21. Bersedia Mengakui Kesalahan dan Suka Bertaubat

Kesalahan dan kegagalan bagi wirausahawan muslim merupakan hal berharga dan bias menjadi guru di kemudian hari. Dari situ ia akan selalu melakukan koreksi dan intropeksi diri, tanpa harus diketahui publik. Pengakuan terhadap kesalahan atau kegagalan merupakan bagian dari perubahan sikap ( taubat ). Sementara itu mengungkap aib orang lain tetap merupakan perbuatan tercela.

Semoga kita termasuk orang yang selalu memperbaiki diri dan berusaha untuk menjadi wirausaha muslim yang memiliki sifat-sifat integritas diatas, wallahu'alam bishowab

(dari berbagai sumber)

(Maret 2011)
Berbisnis dengan Prinsip Rasul SAW

Muhammad SAW terkenal sebagai saudagar yang sukses. Sepanjang karirnya sebagai pedagang nabi selalu untung. Apa rahasianya? Berikut adalah lima hal yang selalu dipraktikan Nabi dalam berdagang:
  1. Tidak berbohong dan menipu mengenai barang yang akan dijual.
   2.    Kepada pelanggan yang tak mampu membayar kontan hendaknya diberi waktu untuk melunasi. Bila betul-betul tidak mampu membayar setelah masa tenggat pengunduran maka ikhlaskan.
   3.  Menjauhi sumpah palsu untuk mengelabui pembeli.
   4.  Selalu benar dalam timbangan dan takaran.
   5.  Tidak melakukan monopoli dalam perdagangan.
    
Menurut Nabi, modal berdagang yang sebenarnya adalah kejujuran dan keadilan dalam transaksi. Begitu pentingnya prinsip kejujuran dalam berdagang, sampai-sampai Nabi bersabda, seperti diriwayatkan oleh Abu Sa’id, bahwa orang yang jujur dalam berdagang, kelak di Hari Kiamat, akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada.

Muhammad Rasulullah, Nabi kita tercinta, adalah seorang saudagar ternama pada zamannya. Bahkan sejak usia muda, beliau dipandang sebagai sudagar sukses. Disadari atau tidak sukses tersebut tidak lepas dari aktivitas marketing yang diterapkannya --yang tak cuma ampuh tapi juga sesuai syariah dan, tentu saja, penuh ridlo dari Allah.  Inilah empat tips marketing a la Nabi, yang dikutip dari sumber niriah .com , adalah sebagai berikut :

1. Jujur adalah Brand
Saat berdagang Nabi Muhammad SAW muda dikenal dengan julukan Al Amin (yang terpercaya). Sikap ini tercermin saat dia berhubungan dengan customer maupun pemasoknya.
Nabi Muhammad SAW mengambil stok barang dari Khadijah, konglomerat kaya yang akhirnya menjadi istrinya. Dia sangat jujur terhadap Khadijah. Dia pun jujur kepada pelanggan. Saat memasarkan barangnya dia menjelaskan semua keunggulan dan kelemahan barang yang dijualnya. Bagi Rasulullah kejujuran adalah brand-nya.

2. Mencintai Customer
Dalam berdagang Rasulullah sangat mencintai customer seperti dia mencintai dirinya sendiri. Itu sebabnya dia melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Bahkan, dia tak rela pelanggan tertipu saat membeli.
Sikap ini mengingatkan pada hadits yang beliau sampaikan, "Belum beriman seseorang sehingga dia mencintai saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri."

3. Penuhi Janji
Nabi sejak dulu selalu berusaha memenuhi janji-janjinya. Firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman penuhi janjimu." (QS Al Maidah 3).
Dalam dunia pemasaran, ini berarti Rasulullah selalu memberikan value produknya seperti yang diiklankan atau dijanjikan. Dan untuk itu butuh upaya yang tidak kecil. Pernah suatu ketika Rasulullah marah saat ada pedagang mengurangi timbangan. Inilah kiat Nabi menjamin customer satisfaction (kepuasan pelanggan).

  1. Segmentasi ala Nabi
    Nabi pernah marah saat melihat pedagang menyembunyikan jagung basah di sela-sela jagung kering. Hal itu dengan Nabi, saat menjual barang dia selalu menunjukkan bahwa barang ini bagus karena ini, dan barang ini kurang bagus, tapi harganya murah.
  
Pelajaran dari kisah itu adalah bahwa Nabi selalu mengajarkan agar kita memberikan good value untuk barang yang dijual. Sekaligus Rasulullah mengajarkan segmentasi: barang bagus dijual dengan harga bagus dan barang dengan kualitas lebih rendah dijual dengan harga yang lebih rendah.

Marilah kita semua mengikut pada semua sunnah yang diajarkan rasulullah SAW, termasuk dalam berbisnis agar kita masuk kedalam golongan orang-orang yang beruntung, wallahu alam bishowab

(Februari 2011)
 3 Tempat Tersibuk di AKHIRAT
Andai kita mengetahui kehidupan setelah kematian, mungkin kehidupan kita di dunia ini akan selalu berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan dan mengejar kebahagiaan kehidupan di akhirat. Allah SWT telah memberikan tuntunan untuk hamba-Nya dengan Alqur'an dan As-Sunnah, tidak pernah dibiarkan hamba-Nya sendirian didunia ini mengarungi kehidupan untuk mencari modal dan bekal kehidupan yang panjang kelak, semuanya telah disediakan, dimodali, namun semuanya berpulang kepada kita sebagai seorang hamba, apakah kita paham dengan tugas kita di dunia ini atau tidak.
Kehidupan di akhirat kekal dan tidak akan kembali lagi ke dunia bila telah sampai disana, yang ada hanya penyesalan, karena dosa-dosa sudah terlanjur dibuat. Tahukah kita kalau diakhirat nanti terdapat tiga tempat dimana, setiap manusia tidak akan mengingat dengan sanak keluarganya, karena mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing, jangankan memikirkan keluarga, memikirkan nasibnya sendiri pada hari itu sudah membuatnya bercucuran keringat ,  adapun ketiga tempat tersebut adalah :
1. Pada saat catatan atau buku amal baik dan amal buruk kita berterbangan menghampiri si pemilik buku catatan , buku-buku tersebut tidak akan pernah tertukar kepada orang lain , dan pada saat manusia mencek catatan amal-amal tersebut tidak akan ada satupun yang terlewat untuk dicatat , semua tercatat dengan detail, tempat, waktu dan kejadiannya, apakah kita dapat mengingkari catatan ini semua? Dan akan ada pertanyaan “ Apakah ada catatan amal yang salah” lalu manusia menjawab “ tidak ada, semua lengkap tercatat” demikian dialog yang diungkap dalam kitab Nashoihul Ibad. Manusia yang beruntung apabila buku catatan amal diterima di bagian depan atau tangan kanannya, sedangkan bila sebaliknya , maka termasuk manusia yang merugi.
2. Pada saat hari perhitungan, ketika manusia dipanggil satu persatu untuk ditimbang segala amal baik dan buruk yang ada, mana yang lebih condong timbangan amal tersebut kearah kanan atau ke kiri, maka amalan yang paling memberatkan timbangan adalah kalimat “ Ashaduallah illahaillallah wa ashaduanna muhamadarusulullah “
3. Pada saat melintasi jembatan shirothol mustaqim, sebuah jembatan yang sangat panjang dan ketebalannya seperti sehelai rambut terbelah 7 bahkan lebih tipis lagi, dan dibawah jembatan yang terbentang bagian bawahnya adalah api neraka yang menyambar-nyambar. Pada lintasan jembatan shirotol mustaqim terdapat pos-pos perhentian yang mana setiap orang yang melewati harus berhenti pada tiap-tiap pos untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan nama pos tersebut , seperti pos shalat, puasa, zakat, haji, dll, semuanya harus dilewati manusia untuk sampai pada ujung lintasan. Dan berbagai macam cara manusia melewati lintasan dan pos-pos tersebut dan  semuanya tergantung dengan amal ibadah selama didunia, ada yang cepat seperti kilat, seperti cahaya, terbang seperti burung, berlari, merangkak, duduk, dll.  Dan ujung dari lintasan shirotol mustaqim adalah surga.
Ya Allah berikanlah kami kemudahan meraih ridho-Mu, menjauhi semua yang Engkau benci dan melaksanakan semua yang Engkau sukai. Ya Allah jangan biarkan kami malu menatap-Mu karena dosa-dosa kami. Ya Allah berilah kami RIDHO-MU, amin
(Januari 2011)
KEMABRURAN HAJI

Akhir bulan November ini mulai berdatangan para jamah haji indonesia pulang ke tanah air , setelah lebih dari 3 minggu melaksanakan segala ritual ibadah haji sebagaimana nabi Ibrahim dan rasulullah contohkan. Dan hanya satu keinginan para jamaah haji yaitu HAJI YANG MABRUR, karena tidak lain balasan dari haji yang mabrur adalah SURGA, itulah janji ALLAH SWT.
Namun Allah SWT memberikan setiap orang untuk menjadi haji yang mabrur dengan berbagai cara sesuai kehendaknya, bahkan orang yang tidak jadi berhaji pun , dapat menjadi haji mabrur apabila Allah SWT telah kehendaki sebagaimana kisah berikut ini :

Sa’id Ibnu Muhafah, Tukang Sol sepatu yang mendapatkan pahala haji mabrur, padahal ia tidak haji, suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.

“Rasannya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali” Komentar salah satu Malaikat
“Betul” Jawab yang lainya.
“Berapa kira – kira jumlah keseluruhan?”
“Tujuh ratus ribu”
“Pantas”
“Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira – kira yang mabrur”,
Selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang – orang haji tahun itu
“Wah, itu sih urusan Allah”
“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur”
“Kenapa?”
“Macam – macam, ada yang karena riyak, ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya’
“Terus?”
“Tapi Masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur tahun ini”
“Lho katannya tidak ada”
“Ya, karena orangnya tidak naik haji”
“Kok bisa”
“Begitulah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq”
Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, Tapi langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Hasan Al-Basyri
“Betul, kenapa?”
Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. “Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar” selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.
“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul”
“Tapi anda tidak berangkat haji”
“Benar”
“Kenapa?”
“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat”
“Terus?”
“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak.
Akhirnya saya tanya kenapa?.. “daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan” katanya
“Kenapa?” tanyaku lagi ,
“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan,”
Jawabnya sambil menahan air mata.
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia”
Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyripun tak bisa menahan air mata.”Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya” Ucapnya.

Demikian kisah yang dapat menjadi renungan bagi kita untuk berfikir, apakah setelah berhaji kita dapat mempertahankan ibadah kita sebagaimana ibadah di tanah suci, karena ujian sesungguhnya adalah ujian di tanah air tempat dimana suasananya adalah suasana bukan untuk beribadah, majemuk, dan disinilah kita sedang dalam ujian ibadah kita. Akhirnya semoga kita bisa menarik hikmah dari setiap hal yang dapat kita  jadikan motivasi dalam diri kita, bahwa haji adalah undangan Allah SWT dan Mabrur adalah kehendak Allah swt bagi hamba-Nya yang berusaha untuk selalu memberikan performa terbaik, insyua allah semoga kita menjadi hamba-Nya yang bertaqwa, amin





 (Desember 2010)


KEUTAMAAN HARI ASYURA

Hari asyura tahun 2010 ini jatuh pada hari kamis lalu tepatnya tanggal, 16 Desember 2010, berbahagialah orang yang memanfaatkan kehadiran hari ini, karena sesungguhnya sangat banyak keutamaan hari ini yang Allah swt janjikan kepada hamba-Nya.  Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda : " Siapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat , dan  akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu derajat. Dan siapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka."

Lalu para sahabat bertanya Rasulullah S.A.W : " Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?". Maka berkata Rasulullah S.A.W : " Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir'aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura !".
Ya Allah ...semoga kami kembali dipertemukan pada bulan muharram tahun depan untuk melaksanakan segala amalan sunnah di bulan muharram, dan mudahkan langkah kaki, tangan dan hati ini untuk menggapai semua janji-Mu.

 (November 2010)


“ SEMUA BULAN ISTIMEWA“

Kita semua tahu bahwa Tuhan adalah maha berkehendak dan maha berkuasa atas segala sesuatu, pun demikian tuhan tidak menciptakan alam semesta ini sekali jadi, tetapi melalui enam masa 'fi sittati ayam', manusia pun diciptakan oleh tuhan melalui proses yang panjang, dari tidak ada menjadi ada, walaupun sesungguhnya semuanya telah terencanakan oleh tuhan dan tertulis di dalam kitabnya. Allah menciptakan kita dalam suatu proses yang panjang karena ada suatu tujuan yang sesungguhnya sangat penting bagi kita. Untuk apa kita hidup kalau hanya sekedar mengisi ruang kosong di Alam ini, hidup tak nyaman mati pun tak mau, terus hidup dalam kesesatan, tidak berkembang dan tak berarti adanya ataupun tak adanya.. maka perlu bagi kita berusaha mencari tahu tujuan Tuhan menciptakan kita, akan lebih baik jika kita menjadikan Tuhan sebagai tujuan kita, lalu kita berkomitmen pada tujuan itu.

Dalam hidup ini, Tuhan memberikan kita waktu sampai 12 bulan, masa yang terus berulang-ulang sepanjang hidup kita. Sesungguhnya di dalam waktu yang telah diberikan tuhan itu ada misteri didalamnya sehingga Tuhan-pun sampai bersumpah demi waktu, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang percaya dan berkarya baik dan yang saling menasehati kepada prinsip-prinsip kebenaran dan saling menasehati untuk bersabar.
Masa pejalanan manusia hanya ada 12 bulan di sisinya, bermula dari bulan ramadhan, syawal, dzul-Qaidah, Dzul-Hajj, Muharram, Shafar, Rabi'ul Awwal, Rabi'ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab hingga Sya'ban. Dalam hal ini, Ust. Aqib mengawalkan bulan Ramadhan karena terinspirasi sebuah hadist "Barang siapa berpuasa di bulan ramadhan dengan iman dan Ihtisab maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang dan kembali suci seperti anak yang baru lahir".

Masa 12 bulan tersebut bisa di tempuh dalam waktu yang singkat, selama ada komitmen dan konsistensi serta konsekuensi pada diri, akan tetapi pada faktanya hanya sedikit orang yang dapat menempuhnya karena kriteria kualitas jiwa dalam setiap bulannya sangat sulit untuk dilalui. Bahkan ada manusia yang usianya hanya 2 bulan saja, Ramadhan yang matang dalam kandungan dan lahir kembali di bulan Syawal, dan kembali bermaksiat pada bulan berikutnya, sehingga kondisinya pada bulan yang lain menjadi tidak mati dan juga tidak hidup 'wa laa yamuutu wa laa yahya', jiwanya tidak mampu lagi meneruskan hidupnya di bulan Dzul-Qa'dah, hanya jasadnya yang hidup.

ke 12 bulan yang harus dilalui manusia antara lain;
1.Ramadhan: Semua mukmin, manusia dalam kandungan penyaksian awal.
2.Syamal: semua muslim, jiwa manusia terlahir kembali di dunia.
3.Dzulqa'dah: Semua syukur, Manusia memiliki kemantapan iman.
4.Dzulhijah: Semua sabar, manusia melaksanakan haji ibadah akbar.
5.Muharram: Semua ikhlas, manusia membersihkan diri demi kemuliaan.
6.Shafar: Semua subhanallah, manusia nol dihadapan Allah.
7.Rabi'ul Awwal: Semua alhamdulillah, manusia melahirkan sifat Rosulullah pada dirinya.
8.Rabiul Akhir: Semua Allahu Akbar, manusia mendewasakan sifat nabi pada dirinya.
9.Jumadil Awwal: Semua laa tkhaf wa laa tahzan, manusia siap memimpin umat yang beku.
10.Jumadil akhir: Semua laa haula wa laa quwwata illa billah, manusia menjadi khalifah.
11.Rajab: Semua shalat dan shalawat, manusia bermi'raj berjumpa dengan tuhannya.
12.Sya'ban: Semua silaturrahmi, Manusia kembali ke tempat asalnya di Bumi.

Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk mengistimewakan bulan hanya bulan-bulan tertentu saja, semua bulan istimewa , karena Allah menjadikan semuanya dengan istimewa yang menjadikan banyak keistimewaan didalam bulan-bulan tersebut. Apakah masih ada alasan bagi kita untuk tidak beribadah pada-NYA??? semua kembali kepada kita, wallahu'alam bisshowab
(dari berbagai sumber)

(Oktober 2010)
“ BAGAIMANA KITA SETELAH RAMADHAN“

Bulan ramadhan yang Mulia kembali meninggalkan kita, bagaimana keadaan kita pasca Ramadhan, lebih baik dari sebelumnya, sama saja , atau bahkan tidak lebih baik bahkan bertambah buruk?, hanya kita dan Sang Pencipta yang bisa menilai apa dan siapa diri kita. Bulan Ramadhan adalah bulan kita mempersiapkan diri kita untuk  menghadapi 11 bulan berikutnya, apabila bulan ramadhan kita sanggup belajar dan meningkatkan ketaqwaan kita , paling tidak kita tidak akan dengan tangan kosong menghadapi 11 bulan kedepan dengan tanpa bekal, karena setan-setan tidak  diikat pada bulan-bulan tersebut tidak seperti bulan ramadhan semua setan diikat . Jadi ramadhan adalah bulan latihan dan pertarungan sebenarnya ada pada 11 bulan berikutnya
Pasca ramadhan , adalah hari-hari yang paling berat dalam beribadah, shalat sunah di saat orang lain tidak melakukan shalat sunah , tidak seperti bulan ramadhan, dimana kita shalat sunah berjamaah  untuk shalat taraweh, puasa sunah disaat orang lain makan dan minum disiang hari , sedangkan pada bulan ramadhan kita puasa bersama-sama sekampung dan senegara, akankah kita mampu memantapkan hati kita untuk menjadi lebih baik. Yaa Allah jangan jadikan kami seperti seorang perempuan yang digambarkan oleh Rasul-Mu yang Mulia dimana pada pagi hari perempuan itu memintal benang dan kemudian di sore hari dia kembali menceraiberaikan benang yang telah dirajutnya tersebut, dan begitu seterusnya, sehingga perbuatan yang dilakukan oleh perempuan tersebut adalah perbuatan yang sia-sia, naudzubillah min dzalik

Lalu bagaimana kita setelah Ramadhan? Semua berpulang kepada diri kita, ingin menjadi lebih baik atau sebaliknya.  Orang-orang yang beribadah dan bertaqwa hanya pada bulan ramadhan saja dapat disebut hamba yang Ramadhani , sedangkan hamba Allah yang sesungguhnya adalah hamba Allah yang selalu beribadah mengingat Sang Khalik di setiap saat dan disetiap tempat , kapan pun dan hamba tersebut dikenal dengan hamba Rabbani.  Kita akan pilih yang mana? Pertanyaan ini akan selalu terulang dalam setiap perjalanan kita di dunia ini, jangan sampai lupa niat apabila kita ingin menjadi hamba yang Rabbani , karena syetan sangat pandai dalam membolak bakikkan niat manusia. Sering-seringlah berdoa kepada Sang Khalik yang Maha memudahkan semua niat dan memberi solusi yang terbaik untuk hamba-Nya yang selalu memohon petunjuk kepada-Nya. Insya Allah selalu ada jalan dalam setiap niat , usaha , dan Doa

Ya Allah jadikan kami sebagai hamba-Mu yang Rabbani, panjangkan lah umur hamba, orang tua, saudara, keluarga, kerabat , sahabat, dan orang-orang yang kami cintai dan sayangi, dan pertemukan kembali kami dengan bulan Ramadhan yang Mulia, Amin.
Semoga kita termasuk  hamba-hamba-Nya yang bersyukur, amin

(September 2010)
“ BUGAR DAN SEHAT DI BULAN RAMADHAN “

Siapa yang tidak ingin sehat di bulan ramadhan, beribadah penuh dengan khusyu dan keikhlasan karena mengharap ridho Allah SWT, semua pasti berharap mendapatkan kesehatan yang paripurna, begitupun saya, namun tentunya kita akan berusaha menjaga kesehatan sebelum bulan ramadhan, sehingga bila datang bulan yang mulia tersebut, maka kita sudah dalam kondisi prima. Usahakan sebelum bulan puasa kita tidak terlalu banyak berpergian yang jauh , tetap berolahraga, menjaga konsumsi makanan dan minuman kita dengan makanan yang sehat dan bergizi, lalu bagaimana bila bulan ramadhan sudah datang? Tentu saja ada tips yang dapat membantu kita untuk menjaga kebugaran kita saat berpuasa. Sebenarnya inti dari itu semua ada dalam makanan ketika sahur dan pada saat berbuka puasa. 

Berikut ini Tips pada saat sahur, yaitu sebagai berikut :
1. Sahur dengan makanan yang hangat, agar makanan mudah dicerna sekaligus merangsang keluarnya enzim pencernaan.
2. Selain sahur dengan nasi dan lauk, konsumsi juga sayur, buah-buahan dan minum segelas susu. Hindari minum kopi karena kandungan dalam kopi menyebabkan cairan dalam tubuh sering keluar. Perbanyak minum air putih agar tubuh kelak tidak kekurangan cairan.
3. Mengakhirkan waktu sahur. Setidaknya dengan mengakhirkan waktu sahur kita memiliki cadangan tenaga yang lebih dibandingkan dengan yang lebih cepat sahurnya.
4. Berpuasa bukan berarti kita menghentikan semua aktifitas olahraga. Lakukan olahraga ringan, semacam strecthing atau senam ringan di pagi-pagi buta. Boleh juga jogging atau jalan kaki menjelang berbuka puasa.
5. Redam emosi dan berpikir positif. Scara psikologis, dengan berfikir positif dan tidak mengumbar emosi, akan menyebabkan pikiran lebih tenang dan energi tidak banyak keluar.
6. Tetaplah beraktifitas selama puasa, namun tidak berlebihan. Selalu tidur justru akan menjadikan badan terasa lemas dan tidak bertenaga.
7. Jangan segan mandi ditengah hari. Mandi mampu menyegarkan badan kita kembali.

Tips Berbuka Puasa
1. Jangan menunda waktu berbuka puasa
2. Berbukalah dengan makan kurma, atau buah-buahan dan minumlah air putih.
3. Jangan berbuka dengan yang manis-manis. Kecuali manis yang keluar dari buah-buahan.
4. Tidak baik berbuka dengan makan kolak. Selain sudah manis karena pisang, juga banyak campuran lain yang menambah manisnya kolak, misalnya gula dan santan. Alangkah baiknya jika pisang segar di makan tanpa kolak.
5. Jangan berbuka dengan minum es. Minum es mampu menahan rasa lapar, sehingga kita kehilangan selera untuk menyantap makanan yang bergizi.
6. Makanlah makanan berbuka secara bertahap. Setelah minum segelas air putih atau makan kurma, pergilah shalat maghrib. Barulah 15 menit kemudian (perkiraan waktu selesai shalat maghrib) makan-makanan yang lebih ‘berat’, misalnya kolak, nasi atau panganan yang lain.
7. Berhentilah makan sebelum kenyang. Seperti yang dikatakan Rasulullah, porsi perut kita untuk menampung makanan adalah sepertiga angin, sepertiga air, dan sepertiganya berupa makanan.
Bagaimana, mudah bukan , awalnya mungkin sulit, tapi insya allah dapat dilaksanakan dengan mudah asal kita kuatkan niat untuk memburu kebugaran untuk menggapai pelaksanaan ibadah ramadhan yang paripurna. Selamat berpuasa di bulan Ramadhan, semoga Allah swt memberikan keridhoan-Nya untuk kita semua , amin

(Agustus 2010)
Nafkah Halal & Baik Membawa Keberkahan & Nikmat
Dalam segala nafas dan tindakan kita di kehidupan ini kita, kita akan selalu berupaya agar apa yang kita usahakan adalah rezeki yang halal dan thoyyib, karena terkadang kita khilaf dan lupa untuk mengetahui sumber rezeki yang kita peroleh.
Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :  Wahai manusia, sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik (thoyyib) dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukmin sebagaimana halnya Ia memerintah para Rasul. Kemudian, Ia berfirman, " Wahai para Rasul, makanlah dari rejeki yang baik-baik, dan berbuat baiklah kalian. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang engkau ketahui." Selanjutnya Beliau bercerita tentang seorang laki-laki yang berada dalam perjalanan yang sangat panjang, hingga pakaiannya lusuh dan berdebu. Laki-laki itu lantas menengadahkan dua tangannya ke atas langit dan berdoa, "Ya Tuhanku, Ya Tuhanku..", sementara itu makanan yang dimakannya adalah haram, minuman yang diminumnya adalah haram, dan pakaian yang dikenakannya adalah haram; dan ia diberi makanan dengan makanan-makanan yang haram. Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?" (HR Muslim)
Al Qadliy berkata, "hadits ini merupakan salah satu pilar agama Islam dan tonggak dari hukum-hukum Islam. Ada 40 hadits yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hadits ini. Di dalam hadits ini ada perintah kepada kaum Muslim untuk berinfak dengan rejeki yang halal serta larangan untuk berinfak dengan rezeki yang haram. Hadits ini juga menerangkan bahwa minuman, makanan, pakaian dll harus halal dan terjauh dari syubhat; dan siapa saja yang berdoa hendaknya ia memenuhi syarat-syarat tersebut dan menjauhi minuman, makanan dan pakaian yang haram." (Imam Nawawiy, Syarah Sahih Muslim, hadits no 1686).
Kini, Makin jelas bagi kita semua ummat muslim yang ingin meraih 'berkat' dan berkah bahwa kita harus senantiasa memastikan nafkah kita, pemasukan dan pengeluarannya harus benar-benar halal. apalagi, ia menjadi prasyarat diterimanya doa-doa kita .
Semoga hal ini  menjadikan kita insan Allah yang selalu dipenuhi dengan 'berkat' dan keberkahan. Insya Allah...amin

(Juli 2010)
“ Agar Doa Dikabulkan“
Sering kita merasa pada diri kita, kenapa doa kita tidak dikabulkan, kenapa apa yang kita harapakan belum juga tercapai, sampai terlintas prasangka negatif dalam hati, eittt jangan pernah berburuks angka pada Allah SWT, bisa jadi kita sendiri yang membuat doa kita lambat bahkan tidak terkabul, bisa jadi ada adb atau aturan berdoa yang kita lewati. Berikut ini Adab berdoa yang saya kumpulkan dari beberapa sumber .

Adab Berdoa

Pertama, Memakan makanan dan memakai pakaian dari yang halal. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?” Imam Muslim

Kedua, Hendaknya memilih waktu dan keadaan yang utama, seperti:
1. tengah malam, Rasulullah saw. bersabda:
“Keadaan yang paling dekat antara Tuhan dan hambanya adalah di waktu tengah malam akhir. Jika kamu mampu menjadi bagian yang berdzikir kepada Allah, maka kerjakanlah pada waktu itu.”
Dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bagian dari malam ada waktu yang apabila seorang hamba muslim meminta kebaikan kepada Allah dan sesuai dengan waktu itu, pasti Allah mengabulkannya.” Imam Ahmad menambah: Itu terjadi di setiap malam.”
2. saat sujud. Rasulullah saw. bersabda: “Dan adapun ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian berdoa, niscaya akan diijabahi doa kalian.”
3. ketika adzan. Rasulullah saw. bersabda: “Ketika seorang muadzin mengumandangkan adzan, maka pintu-pintu langit dibuka, dan doa diistijabah.”
4. antara adzan dan iqamat. Rasulullah saw. bersabda: “Doa antara adzan dan iqamat mustajab, maka berdoalah.”
5. ketika bertemu musuh. Dari Sahl bin Saad, dari Nabi saw. bersabda: “Dua keadaan yang tidak tertolak atau sedikit sekali tertotak; doa ketika adzan dan doa ketika berkecamuk perang.”
6. ketika hujan turun. Dari Sahl bin Saad dari Nabi saw. bersabda: “Dan ketika hujan turun.”
7. potongan waktu akhir di hari Jum’at. Rasulullah saw. bersabda: “Hari Jum’at 12 jam tiadalah seorang muslim yang meminta kepada Allah sesuatu, kecuali pasti Allah akan memberinya. Maka carilah waktu itu di akhir waktu bakda shalat Ashar.”
8. doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya. Dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Darda’ berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang berdoa bagi saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu, kecuali Malaikat berkata, bagimu seperti apa yang kamu doakan untuk saudaramu.” Dalam kesempatan yang lain Rasulullah saw. bersabda: “Doa seorang al-akh bagi saudaranya tanpa sepengetahuan dirinya tidak tertolak.”
9. hendaknya ketika tidur dalam kondisi dzikir, kemudian ketika bangun malam berdoa. Dari Muadz bin Jabal dari Nabi saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang tidur dalam keadaan dzikir dan bersuci, kemudian ketika ia bangun di tengah malam, ia meminta kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, kecuali Allah pasti mengabulkannya.”

Ketiga, Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat doa tangan.
Dari Salman Al-Farisi berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Hidup lagi Maha Pemurah. Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, Dia tidak menerima doanya, nol tanpa hasil.”

Keempat, Dengan suara lirih, tidak keras dan tidak terlalu pelan.
Rasulullah saw. bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian berdoa kepada-Nya tidak tuli dan juga tidak tidak ada / gaib.”

Kelima, Tidak melampaui batas dalam berdoa.
Allah swt. berfirman: “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh rendah diri dan takut (tidak dikabulkan). Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang melampaui batas.” Al-A’raf:55. Contoh melampai batas dalam berdoa adalah minta disegerakan adzab, atau doa dalam hal dosa dan memutus silaturahim dll.

Keenam, Rendah diri dan khusyu’. Allah swt. berfirman:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Al-Araf:55. Allah swt. berfirman dalam surat Al-Anbiya’:90:
“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”

Ketujuh, Sadar ketika berdoa, yakin akan dikabulkan dan benar dalam pengharapan.
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Berdoalah kepada Allah, sedangkan kalian yakin akan dikabulkan doa kalian. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” Imam Ahmad

Rasulullah saw. juga bersabda: “Jika salah satu di antara kalian berdoa, maka jangan berkata: “Ya Allah ampuni saya jika Engkau berkenan. Akan tetapi hendaknya bersungguh-sungguh dalam meminta, dan menunjukkan kebutuhan.”
Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Janganlah salah seorang dari kalian menahan doa apa yang diketahui oleh hatinya (dikabulkan), karena Allah swt. mengabulkan doa makhluk terkutuk, iblis laknatullah alaih. Allah swt. berfirman: “Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” Al-Hijr:36-37

Kedelapan, Hendaknya ketika berdoa memelas, menganggap besar apa yang didoakan dan diulang tiga kali.
Ibnu Mas’ud bekata: “Adalah Rasulullah saw. jika berdoa, berdoa tiga kali. Dan ketika meminta, meminta tiga kali. Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah satu di antara kalian meminta, maka perbanyaklah atau ulangilah, karena ia sedang meminta kepada Tuhannya.”

Kesembilan, Hendaknya ketika berdoa dimulai dengan dzikir kepada Allah dan memujinya dan agar mengakhirinya dengan shalawat atas nabi saw.

Kesepuluh, Taubat dan mengembalikan hak orang yang dizhalimi, menghadap Allah dengan ringan.
Dari Umar bin Khattab ra. berkata: “Sesungguhnya saya tidak memikul beban ijabah, akan tetapi memikul doa, maka ketika saya telah berupaya dalam doa, maka ijabah atau dikabulkan akan bersamanya.”
Ia melanjutkan: “Dengan sikap hati-hati dari apa yang diharamkan Allah swt. Allah akan mengabulkan doa dan tasbih.”

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan kecuali orang yang sadar dalam berdoa. Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan dari orang yang mendengar, melihat, main-main, sendau-gurau, kecuali orang yang berdoa dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati.”

Dari Abu Darda’ berkata: “Mintalah kepada Allah pada hari di mana kamu merasa senang. Karena boleh jadi Allah mengabulkan permintaanmu di saat susah.” Dia juga berkata: “Bersungguhlah dalam berdoa, karena siapa yang memperbanyak mengetok pintu, ia yang akan masuk.”

Dari Hudzaifah berkata: “Akan datang suatu zaman, tidak akan selamat pada zaman itu, kecuali orang yang berdoa dengan doa seperti orang yang akan tenggelam.”

Menghindari kesalahan dalam berdoa

Ada beberapa praktek doa yang disebagian umat muslim masih terus berlangsung, padahal itu menjadi penghalang doa dikabulkan. Di antaranya adalah:

Pertama, Berdoa untuk keburukan keluarga, harta dan jiwa.
Dari Jabir ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian berdoa untuk kemadharatan diri kalian, dan jangan berdoa untuk keburukan anak-anak kalian. Jangan berdoa bagi keburukan harta-harta kalian. Janganlah kalian meminta kepada Allah di satu waktu yang diijabah Allah, padahal doa kalian membawa keburukan bagi kalian.” Imam Muslim

Kedua, Terlalu keras dalam berdoa. Allah berfirman:
“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu (doamu) dan janganlah pula merendahkannya. Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” Al-Isra’:110

Ketiga, Melampau batas. Seperti berdoa agar disegerakan adzab, doa dengan dicampuri dosa dan memutus tali silaturahim.

Keempat, Berdoa dengan pengecualian. Contoh: “Ya Allah, ampuni saya jika Engkau berkenan.”

Kelima, Tergesa-gesa. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Akan diijabahi doa kalian, jika tidak tergesa-gesa. Sungguh kamu telah berdoa, maka atau kenapa tidak diijabahi?” Imam Bukhari

Ya Allah luruskan dan mudahkan kami dalam berdo'a , ijabahkanlah doa-doa kami untuk kebaikan dunia dan akhirat Kami,  Amin. Allahu a’lam.

 (Juni 2010)