SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MENIKMATI, SEMOGA BERMANFAAT
Tampilkan postingan dengan label TEMPAT WISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEMPAT WISATA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Januari 2012

THE ADVENTURE OF UMBUL HARJO, SIDOMUKTI




THE ADVENTURE of CANDI GEDONG SONGO

Foto-foto bergaya di Candi Gedong SONGO yang mengasyikan dan menakjubkan




Nuansa Alam Candi Gedong Songo

Sebuah artikel lengkap tentang candi gedong songo...semoga bermanfaat...


Kompleks wisata Candi Gedong Songo terletak sekitar 1.200 meter DPL di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Jika dari Bandungan, ambil arah ke barat sejauh kurang lebih 15 km.
Jalan menuju obyek ini sangat terjal dan berkelok. Tapi kita akan diganjar oleh pemandangan mantab dan keren kota Ambarawa dan Rawa Pening dari atas. Jika cuaca cukup cerah, gunung kembar Sindoro dan Sumbing pun akan terlihat.
Jangan sekali-kali menuju ke tempat wisata ini jika kendaraan ndak dalam kondisi fit. Tanjakan sebesar 30°-40° akan menghajar mesin. Belom lagi tikungan tajam dan berkelok membuat mesin harus bekerja ekstra.
Bahkan ketika saya turun dengan kondisi gigi netral dan mesin sengaja saya matikan untuk menghemat bensin, dalam beberapa detik speedometer menunjukkan angka 60 km/jam dan terus bertambah jika saya ndak ngerem.
Kata “Gedong Songo” berasal dari bahasa Jawa “Gedong” yang berarti bangunan dan “Songo” yang berarti sembilan. Dulunya, nama kompleks candi ini disebut “Gedong Pitu” alias Gedong Tujuh, karena saat pertama kali ditemukan oleh Gubernur Jendral Raffles tahun 1740, ada 7 candi. Kemudian ditemukan lagi 2 bangunan candi sehingga disebut dengan “Gedong Songo”.
Meski namanya Gedong Songo, namun cuma 5 candi saja yang masih berdiri kokoh. Empat candi lainnya cuma tertinggal puing. Semua candi ini terletak menyebar di beberapa bukit ke atas, dengan urutan candi nomor satu berada di paling bawah, kemudian berurutan hingga ke atas.
Selain candi, di kompleks obyek wisata ini terdapat taman bermain dengan berbagai fasilitas pemainan, hutan pinus yang nyaman untuk berekreasi dengan keluarga, ladang-ladang sayuran milik penduduk sekitar, serta bumi perkemahan. Tak jarang pula, pendakian ke puncak Gunung Ungaran juga dimulai dari kompleks ini.
Dengan tiket masuk seharga 5000 rupiah kita bisa menikmati berbagai keindahan di lokasi ini sepuasnya.
Begitu masuk gerbang, jalanan menanjak langsung menyambut.kalau jalan kaki cukup ngos-ngosan juga, padahal candinya aja belum terlihat.
Untuk menuju ke candi, kita dapat mengikuti jalan setapak yang sudah disemen. Ada 2 jalur, lewat barat atau lewat utara. Bila ingin mengikuti urutan candi, ambillah jalan ke utara alias naik. Saya pun mengambil jalur yang ke utara.
Belum sampai ke candi yang pertama, kita akan ditawari menunggang kuda untuk melahap jalan menanjak  itu. Ongkos sewanya sekitar 50.000 rupiah, tapi bisa lebih murah jika kita pandai menawar.

CANDI GEDONG SATU
Candi Gedong Satu
candi pertama. Candi ini hanya terdiri atas sebuah candi saja. Tetapi ditengarai ada candi perwara, dengan melihat puing-puing di sekitar candi ini.
Bentuk atap candinya terdiri atas 3 tingkat. Masing-masing tingkat dihiasi oleh segitiga-segitiga dengan ukiran yang cantik. Yang unik, di dalam candi pertama ini, kita dapat menemukan Yoni namun tanpa Lingga.
tidak ada arca satu pun di candi ini. Setiap sisi candi hanya terdapat relung-relung kosong. Kondisi bangunan candi pun cukup memprihatinkan karena banyak batuan yang rapuh dan rusak.
Perjalanan ke candi kedua. Jalanan panjang menanjak. Dari kejauhan, keempat candi lainnya pun mulai terlihat. Masing-masing berdiri di bukit-bukit yang berbeda. Perjalanan masih panjang, bung! #:-S
CANDI GEDONG DUA
Candi Gedong Dua
Setelah melalui perjuangan panjang, tiba di candi kedua. Candi kedua ini juga terdiri atas sebuah candi saja. Namun kita juga dapat menemukan puing-puing yang ditengarai merupakan candi perwara. Candi ini kondisinya yang paling baik di antara candi-candi lainnya.
Atapnya tersusun atas 4 tingkat, dengan stupa di tiap ujungnya dan hiasan Antefix di tengah-tengah sisinya. Antefix adalah ukiran seorang dewa dalam posisi bersila yang berada di dalam segitiga berukiran pot dengan sulur-sulur daunnya.
Hiasan Antefix pada Candi Gedong kedua
Dari candi kedua, untuk menuju candi ketiga jaraknya sangat dekat. Tanjakannya cukup terjal namun pendek, sehingga ndak begitu menyiksa kaki. #:-S
CANDI GEDONG TIGA
Candi Gedong Tiga
Ada 3 bangunan candi di kompleks candi ketiga ini. Sebuah candi perwara di samping candi utama dan sebuah bangunan semacam ruang penyimpan di depan candi utama.
Atap candi utama terdiri atas 4 tingkat dengan hiasan stupa dan Antefix, atap candi perwara teridiri atas 3 tingkat dengan hiasa stupa dan Antefix, serta bangunan di depan candi utama yang beratap stupa berderet 3 buah.
Candi utama pada kompleks ini satu-satunya candi yang menggunakan hiasan Makara pada tangga pintu masuknya. Selain itu arca-arcanya masih lengkap mengisi tiap relung pada tiap sisinya.
Arca Mahakala dan Nadiswara
Di pintu masuk candi utama, kita dapat menemukan arca Mahakala dan Nadiswara. Kemudian di sisi utara, timur, dan barat masing masing berisi arca Dewi Durga Mahesasuramardhani, Ganesha, dan Agastya.
Arca Dewi Durga - Ganesha - Agastya
Susunannya sama persis dengan susunan arca pada Candi Sambisari di Jogja! ;)
Namun pada candi perwara, arca-arca ini tidak ditemukan dan hanya tersisa relung-relungnya saja.
 candi keempat dan kelima dipisahkan oleh sebuah lembah di seberang sana.
Tapi tunggu dulu, bau apa ini? :-& Saya pun menengok ke arah lembah yang memisahkan bukit tempat candi ketiga dan keempat berada.
MATA AIR PANAS
Sumber Mata Air Panas Berbelerang
 Ternyata ada sumber mata air panas di lembah tersebut dan bau busuk menyengat itu adalah bau belerang dari mata air panas ini!
 penasaran dan menuruni bukit menuju ke lembah. Bau belerang semakin menyengat. Konon mata air ini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.
Mata air panas di Gedong Songo ini konon adalah mata air terpanas di antara 3 mata air panas lain di Gunung Ungaran ini. Suhu uap dan air pada mata air ini mencapai 80°-an Celcius, sedangkan 2 mata air panas lainnya sekitar 40°-an Celcius.
Ada cerita di balik mata air panas ini. Konon mata air ini dijaga oleh makhluk bernama Nyai Gayatri, arwah perempuan asal Pulau Dewata. Nyai Gayatri adalah salah satu dayang dari Raja Sima. Setelah meninggal, arwah Nyai Gayatri mendiami mata air ini.
Nyai Gayatri adalah seseorang yang gemar menolong sesama. Sampai meninggal pun, Nyai Gayatri masih suka menolong. Salah satunya adalah dengan membantu menyembuhkan penyakit bagi orang yang mandi di mata air ini.

CANDI GEDONG EMPAT
Candi Gedong Empat
Candi keempat ini mempunyai keunikan tersendiri. Ditengarai ada 8 candi perwara yang mengelilingi candi utama. Ini bisa dilihat dari puing-puing yang berformasi 2 candi di samping kanan-kiri, sebuah di belakang, dan 3 buah di depan candi utama.
Atap candi utama terdiri atas 4 tingkat, di mana masing-masing tingkat terdapat hiasan stupa. Pada dinding candi utama di sebelah selatan, terdapat sebuah arca yang ndak jelas arca siapa.
Di antara candi keempat dan kelima, terdapat tanah lapang luas yang sering digunakan untuk mendirikan tenda. Saya menemukan sisa-sisa pembakaran api unggun di sekitar lapangan ini.
CANDI GEDONG LIMA
Candi Gedong Lima
Melalui lapangan yang terbentang di antara candi keempat dan kelima yang cukup landai, sampailah kita di candi terakhir.
Bentuk candi kelima ini mirip dengan candi keempat. Atap 4 tingkat dengan hiasan stupa, serta puing-puing candi perwara di sekitar candi utama.
Ada yang unik di salah satu puing candi perwara. Ada bagian yang tersusun lucu, tapi setelah diamati, bagian tersebut adalah bagian dinding candi. Walau terlihat cuma seonggok gitu, bagian ini cukup kokoh berdiri.
Sepanjang jalan ini, kita akan melewati ladang-ladang milik penduduk sekitar yang ditanami berbagai macam sayuran dan bunga selain hutan pinus, sehingga selama melewati jalan setapak ini pemandangannya begitu elok.
Saya baru menyadari, bahwa semua candi ini memiliki pola yang sama, yaitu semuanya menghadap ke barat!
CERITA RAKYAT
Ada cerita rakyat yang menyelimuti kompleks candi bercorak Hindu ini. Konon Gunung Ungaran tempat candi ini berada dibawa oleh Hanoman, anak dewa berwujud kera putih ini, untuk menimbun Dasamuka.
Dalam cerita Ramayana, Dasamuka yang ndak bisa mati ini menculik Dewi Sinta, istri Rama. Dalam perang merebut Dewi Sinta dari tangan Dasamuka, Dasamuka ndak bisa mati walau berbagai senjata sudah menghujam tubuhnya. Hanoman pun kemudian mengangkat sebuah gunung untuk menimbun tubuh Dasamuka.
Masyarakat sekitar percaya, jika mendengar suara desis atau bergejolak, itu adalah suara Dasamuka. Padahal sebenernya suara-suara itu muncul akibat aktivitas vulkanik yang aktif.
Ada lagi cerita soal Raja Sima. Raja Sima, merupakan raja yang pernah berkuasa di tanah Jawa. Konon ketika Raja Sima menemui masalah, dia selalu merenung dan menemukan solusinya di kompleks candi ini.
Menurut informasi yang saya peroleh, konon di kawasan candi yang bersuhu sekitar 20° Celcius ini ternyata memiliki kekuatan bio energi terbaik di Asia. Bahkan bio energi di kompleks ini lebih baik dari Pegunungan Tibet atau pegunungan di Asia lainnya.
Berlibur ke tempat ini, selain menambah wawasan budaya juga mampu memberi kesegaran karena panorama dan hawa sejuk yang ada.
Menilik sejarah, candi ini ndak ada yang tau secara pasti siapa yang membangun. Tetapi melihat dari bentuk arsitekturnya, diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-9 oleh Wangsa Syailendra, walau ada versi lain yang menyebutkan dibangun oleh Raja Sanjaya.
Menurut fungsinya, diperkirakan candi ini digunakan selain untuk pemujaan juga digunakan untuk pemakaman.
Candi Gedong Songo, selain memberikan wawasan budaya, keindahan alamnya bisa menjadi alternatif lokasi wisata anda. ;)
CANDI GEDONG SONGO (1)

Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budayaHindu yang terletak di Desa CandiKecamatan BandunganKabupaten SemarangJawa TengahIndonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat sembilan buah candi.
Candi ini diketemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi).
Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin (berkisar antara 19-27 °C)
Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang.

[sunting]Jarak tempuh

Untuk menempuhnya, diperlukan perjalanan sekitar 40 menit dari Kota Ambarawa dengan jalanan yang naik, dan kemiringannya sangat tajam (rata-rata mencapai 40 derajat). Lokasi candi juga dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dari obyek wisata Bandungan. Berikut daftar jarak tempuh menuju candi ini.
  • Gedong Songo - Ungaran : 25 km
  • Gedong Songo - Ambarawa : 15 km
  • Gedong Songo - Semarang : 45 km

Dari artikel lain..


Baru saja menjejakkan kaki di Candi pertama, rasa penat kaki mulai terasa. Saat itulah para tukang kuda mulai menawarkan kudanya untuk disewa guna menapaki candi-candi berikutnya yang semakin tinggi sesuai dengan urutannya. Candi Gedong Songo, yang berarti sembilan candi dengan lokasi yang paling tinggi adalah candi dengan angka paling besar.Kata Gedong berarti bangunan dan songo berarti sembilan sehingga kurang lebih berarti candi yang berjumlah sembilan. Candi yang terletak di Gunung Ungaran dengan ketinggian 1200 – 1800 meter diatas permukaan laut ini memang sangat unik. Pada awalnya disebut Gedong Pitoe karena pertama kali ditemukan oleh Rafles hanya terdiri dari tujuh bangunan candi. Namun kemudian ditemukan dua candi lagi walaupun dalam keadaan tidak utuh. Candi-candi yang terbuat dari batu andesit tersebut telah dipugar oleh Dinas Purbakala, yaitu candi I & II dipugar tahun 1928 – 1929, sedangkan candi III, IV, V dipugar tahun 1977 – 1983.

[navigasi.net] Budaya - Candi Gedongsongo
Seekor kuda yang sedang merumput. Kuda ini bisa disewa untuk mengunjungi candi-candi di Gedongsongo yang memiliki jarak relatif jauh
Candi-candi yang terletak di Gunung Ungaran ini diyakini sebagai Candi Hindu dengan ditemukannya arca-arca Hindu yang terletak didalam dan disekitar lokasi candi. Diantaranya dengan ditemukannya arca Ciwa Mahadewa, Ciwa Mahaguru, Ganeca, Durga Mahisasura Mardhini, Nandi Swara, Mahakala dan Yoni yang ada di bilik candi. Keistimewaan yang lain dari Candi Gedong Songo adalah terletak pada arca gajah dalam posisi jongkok di kaki Candi Gedong III, dan Yoni dalam bentuk persegi panjang pada bilik Candi Gedong I.
Mengenai kapan berdirinya Candi Gedong Songo tidak ada yang tahu pasti, namun diperkirakan oleh para ahli bahwa candi-candi tersebut telah dibuat semasa dengan Candi Dieng yang dibuat pada kurun waktu abad VII – IX Masehi pada masa Dinasti Syailendra. Hal ini diketahui dari artefak-artefak yang ditinggalkan di sekitar lokasi candi, serta adanya kemiripan-kemiripan fisik antara Candi Gedong Songo dan Candi Dieng. Lokasi kedua candi yang terletak di ketinggian gunung semakin menambah keyakinan bahwa kedua candi tersebut dibangun pada masa yang sama.

[navigasi.net] Budaya - Candi Gedongsongo
Gerbang masuk ke lokasi Candi Gedongsongo
Untuk mencapai candi ini tergolong sangat mudah, baik menggunakan angkutan umum, angkutan pribadi, jenis mobil sedan ataupun jenis minibus. Candi yang terletak di Desa Candi kecamatan Ambarawa ini hanya berjarak 39 km dari kota Semarang atau hanya 20 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor dalam  kecepatan 70 km / jam . Praktis dari Semarang menuju tempat ini relatif lancar karena jalan yang lebar dan mulus serta  melewati beberapa lampu merah saja.
Sesaat setelah sampai di daerah Bandungan, kemudian belok ke kiri dan ikuti jalan terus sampai Pasar Bandungan. Sesampainya di Pasar Bandungan ambil arah kiri kurang lebih 7 km sampailah kita di Candi Gedong Songo. Setelah melewati pasar ini, kita harus berhati-hati karena jalanan yang hanya pas untuk dua  mobil dengan tanjakan dan kelokan yang tajam. Bahkan di beberapa ruas jalan ada yang mencapai kimiringan 45 – 50 derajat. Karena itu, kalau mobil anda dalam keadaaan tidak sehat jangan coba-coba membawa kendaraan sendiri ke lokasi Candi Gedong Songo.
Memasuki wilayah candi ini udara sejuk mulai terasa dengan angin khas pegunungan yang mendayu-dayu. Shelter yang cukup luas bisa memuat puluhan mobil, serta pintu masuk candi yang hanya beberapa meter dari lokasi parkir semakin mempermudah para wisatawan untuk mencapai lokasi ini. Dengan hanya membayar tiket masuk sebesar Rp. 2,000,- kita bisa memasuki dan mengitari lokasi candi sepuas-puasnya.
Boleh dikatakan kalau Candi Gedong Songo tidak hanya menawarkan wisata sejarah, namun juga menawarkan wisata keindahan alam juga wisata olah raga. Candi yang terletak di ketinggian Gunung Ungaran ini memang menampilkan pesona alam yang luar biasa karena lokasinya yang terletak di ketinggian gunung. Selepas gerbang masuk Candi, berjalan sedikit ke atas sudah terlihat lokasi candi pertama yang merupakan candi yang terletak di lokasi yang paling bawah.

[navigasi.net] Budaya - Candi Gedongsongo
Lokasi penjualan tiket masuk kawasan wisata Gedongsongo
Bersamaan dengan itu biasanya ada orang yang akan mengikuti kita. Tapi jangan takut, biasanya orang tersebut menawarkan jasa menunggang kuda. Kalau kita ingin menjajal tingginya candi dengan jalan kaki tolak saja secara halus untuk tidak memakai kuda, tapi kalau tidak ingin terlalu capai bisa naik kuda dan dikenakan biaya Rp. 40,000,- per kuda untuk mengitari seluruh areal candi. Namun sebagai saran lebih baik kita naik kuda, karena selain lebih menghemat tenaga, kita bisa leluasa menikmat indahnya alam sekitar dengan santai.
Setelah candi demi candi dilalui, sampailah kita pada lokasi candi yang keempat. Di depan lokasi candi keempat terdapat lapangan yang cukup luas, kurang lebih dua kali lapangan sepakbola dan datar. “Lapangan ini biasanya dipakai untuk bermain sepakbola oleh warga sekitar, buat perkemahan atau buat acara-acara tertentu,” begitu tutur Pak Slamet salah satu pegawai Candi Gedong Songo ini. Pemandangan lain, yaitu sumber air panas alam kita juga bisa temui antara perjalanan antara lokasi candi ketiga dan keempat. Disamping sumber air panas tersebut, disediakan tempat mandi dengan tempat tertutup, sehingga buat yang mau menikmati sumber air panas bisa meluangkan waktu ntuk mandi.
Akhirnya sampailah kita pada lokasi candi yang kelima atau merupakan lokasi candi terakhir dan tertinggi. Begitu memasuki pelatarannya, kita bisa bebas memandang ke bawah, bahkan kalau cuaca sedang cerah berturut-turut bisa kita lihat dari sisi selatan candi, yaitu Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu, Gunung Andong dan Gunung Merapi. Berlama-lama duduk di lokasi candi yang kelima ini memang sangat mengasyikkan, sampai-sampai tak terasa waktu makin sore dan Sang Tukang Kuda menghampiri untuk mengajak turun kembali.
Ketika ditanya kepada Pak Latif, Si Tukang Kuda, “ Mana empat candi lainnya Pak ? kan jumlahnya ada sembilan candi,”Tanya saya. “ Candi-candi yang lain sudah tidak utuh alias hanya berupa batu-batuan yang terlihat semacam situs,”jawab Pak Latif. Akhirnya kami turun dengan melewati jalan yang berbeda ketika kami naik, dengan melewati kebun-kebun sayuran milik penduduk sekitar. Rasa puas terasa di hati setelah puas mengelilingi areal Candi Gedong Songo, nilai sejarahnya, keindahan alamnya selalu mengajak kita kembali ke sana.

GADIS BERKALUNG SORBAN 
WISATA KE CANDI GEDONG SONGO


Dua hari sebelumnya kami ziarah ke sembilan wali atau wali songo, dan tanpa disangka lagi kami mengunjungi tempat wisata yang ada kata songonya yaitu candi gedong songo. Kami awalnya datang jam 17.30 sore, maklum karena banyak tempat yang mau dikunjungi jadilah sampai di gedong songo sore dan hujan pula, ternyata sudah tutup lagipula seram banget tempatnya udah gitu dingin. kemudian kami diantarkan ke hotel di sekitar wisata, namun kami gak sreg dengan tempatnya, bukannya bikin kami tenang dan nyaman istirahat bisa-bisa kami justru sebaliknya, apalagi bulu merinding karena udaranya yang dingin banget. Akhirnya kami turun untuk mencari penginapan. Awalnya kami berniat tidak ingin kembali lagi ke candi gedong songo, karena selain penginapan yang kami rencanakan cukup jauh walau masih booking, namun ternyata di daerah Bandungan hotelnya bagus-bagus, dan alhamdulilah kami dapat hotel bagus di puncak gunung namanya Susan Spa and Resort, bagus banget tempatnya, lengkap dengan fasilitas kolam renang, fitness, dll. Kemudian esok harinya kami datang ke candi gedong songo setelah kami check out.

Aku fikir candinya deket2an eh ternyata jarak satu candi ke yang lain jauh bener, makanya ada wisata dengan kuda, yang harganya per kuda Rp 50.000,-. Aku takut banget, makanya mau pake kuda ber-2, tapi sepertinya perkiraan aku gak muat dan gak nyaman kalau bersama keponakanku. akhirnya kami pakai kuda masing2. Ihhh jalannya serem banget naik turun, maklum namanya juga gunung. udah gitu jauhhhh banget, gimana kalau jalan kaki ya...lama deh sampainya. Awalnya takut dan tegang tapi alhamdulillah aku bawa enjoy aja, sambil mensyukuri karunia dan kebesaran alam Allah SWT. Sambil berfoto-foto dan meliput perjalanan, ternyata abang tukang kudanya bisa juga loh ambil gambar foto dan handycam, dan bagus hasilnya shootnya.

Awalnya kuda aku yang bernama putri melinda dituntun sama si abang yang namanya aku lupa deh, tetapi lama kelamaan aku yang tunggangi sendiri deh pokoknya mirip perempuan berkalung sorban deh yang pake kuda dengan lincah hehehe.

Alhamdulillah pengalaman naik kuda merupakan petualangan liburan yang luar biasa, dan tak akan terlupakan. Pulangnya pun mampir beli madu lengkeng dan kapuk di sebuah rumah penduduk harganya Rp 75.000- rp 85.000, dan yang aku suka adalah bisa cicipi gratis sepuasnya. hehehehe

Ohya baca juga tentang detail candi gedong songo yah.....
KOLAM RENANG ALAM "UMBUL SIDOMUKTI"

Alhamdulilah gak sangka bisa datang ke kolam renang yang luar biasa. Siapa sangka aku dan keluarga bisa jauh-jauh datang dari jakarta ke umbulharjo, karenanya aku tidak tahu pasti sebenernya ada apa di sana, kalau tidak diceritakan oleh guide yang pandai dan cerdas mungkin aku malas aja liburan ke tempat yang memang aku belum tahu cerita dan latar belakangnya. So ketika sampai di tempatnya Subhanallah bagus banget. Dan ketika udah sampai di rumah aku pastikan kembali beberapa artikel yang membahas tentang  kolam renang alam ini. berikut ini suatu artikel yang menurut saya cukup lengkap untuk dibaca.

Keelokan alam menyergap begitu kaki kita menapaki pelataran lokawisata Girigahana Sidomukti. Hamparan sawah berundak, hutan pinus, air terjun, dan sungai kecil, begitu memesona. Jauh di seberang sana terlihat Bukit Kembar Cimanggal, Gunung Ungaran, dan Gunung Merbabu. Sebuah harmoni alam nan menawan. 

Ya, suasana alam di Desa Sidomukti, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang itu memang membuat pengunjung betah berada di sana. Apalagi air di kolam renang alam Umbul Sidomukti, yang disebut-sebut tertinggi se-Indonesia bahkan Asia itu, selalu baru alias fresh dari Tuk (mata air) Ngetihan yang mata airnya memiliki umbul (air yang memancar dari dalam tanah). Maka, di sana kita akan melihat semburan air secara alami ke udara, setinggi 1,5 meter dari dasar kolam.

Kolam di Umbul Sidomukti tergolong unik. Ia terletak di lereng Gunung Ungaran, persis di tepi jurang dan lembah Ungup-ungup. Jadinya kita seakan berada di puncak ketinggian atau kahyangan kalau berenang atau sekadar berendam di sana. Dan air umbul yang mengalir sepanjang tahun itulah sumber air utama untuk taman renang alam Umbul Sidomukti. Limpahan air tersebut meluber ke kolam di bawahnya, selanjutnya menuju kebun dan sawah-sawah. Yakinlah, kesegaran air tuk tersebut seolah mampu membasuh jiwa yang sedang penat.

Objek wisata Umbul Sidomukti yang dibuka 2 Agustus 2007 itu dibangun dengan desain kolam tradisional, bergaya minimalis dan menawarkan kenyamanan bagi pengunjung. Di tamannya banyak tempat duduk berundak model panggung terbuka sehingga pandangan bebas ke segala penjuru.

”Dinding kolam ini disusun dari tumpukan batu alam. Ini menjadikan penampilannya lebih unik, sederhana, dan terasa akrab bagi pengunjung,” kata Bambang Wijanarko, Manajer Lapangan PT Panorama Agro Sidomukti.

Bambang adalah yang dipercaya Siswono Yudohusodo (Direksi PT PAS) untuk mengelola kawasan wisata yang menjadi magnet baru turis lokal dan asing itu.

Kalau kita mau ke Girigahana Sidomukti, sekitar 50 meter setelah Pasar Jimbaran, Bandungan (dari arah Ungaran-Lemahabang), belok ke arah kanan, dan naik sekitar 3,5 kilometer. Sudah banyak penunjuk arah untuk ke lokasi. Kalau dari Semarang, jaraknya sekitar 40 kilometer.

Permainan Menantang

Siswono Yudohusodo terbilang jeli menangkap peluang keindahan alam Desa Sidomukti. Ia membuat konsep REAL atau Recreation (hiburan), Education (pendidikan), Adventure (petualangan), dan Leisure (pengisian waktu senggang). Di lahan PT PAS seluas 36 hektare tersebut, kini juga digunakan untuk outbound dan bumi perkemahan modern. Ada pula sekitar 400 hektare lahan Perhutani yang layak untuk wisata hutan.

Wisata Sidomukti tak sekadar menawarkan buaian alam, kesegaran udara, dan keindahan langit desa ini, tapi juga menantang pengunjung untuk menguji nyali. Di antara lembah yang ada terpasang flying fox sepanjang 110 meter dan 60 meter dengan ketinggian 70 meter. Dengan kedalaman lembah lebih dari 70 meter sangat mungkin flying fox tersebut yang tertinggi di Indonesia.

Atau, ingin meniti marine bridge (jembatan tali) sepanjang 60 meter dan terombang-ambing di atas jurang? Wow, tentu pengalaman sensasional, mendebarkan, dan mengasyikkan.

”Di lokasi ini juga ada outbond untuk perusahaan dan sekolah,” imbuh Bambang.

Untuk anak-anak tersedia wahana melatih keberanian dan sportivitas. Untuk mereka, ada flying fox anak sepanjang 15 meter. Fasilitas lainnya yaitu camping ground atau lokasi kemah. Di atas lahan itu pengunjung dapat menikmati malam di alam bebas. Pada tengah malam sunyi, gemeretak kayu api unggun menjadi musik tersendiri yang indah dan hangat, untuk mengusir udara dingin.

”Keajaiban” alam masih tersisa di lereng Gunung Ungaran. Jalur aliran air sungai yang jernih pada cekungannya menawarkan sensasi tersendiri. Biasanya, pengunjung secara rombongan menyusuri sungai kecil di lokawisata alam tersebut.

Sedot Pengunjung

Mengapa Umbul Sidomukti dalam waktu singkat menarik perhatian banyak orang? Tidak hanya warga Kabupaten Semarang yang suka menenangkan nurani di objek wisata itu. Orang-orang dari Kota Semarang, Salatiga, bahkan luar Jateng dan luar Jawa, tergoda oleh keelokan Umbul Sidomukti.

”Pada liburan Hari Raya Idul Fitri, jumlah pengunjung pernah mencapai lebih dari 1.000 orang sehari,” terang Bambang lagi. Sebuah angka yang fenomenal untuk kelas objek wisata yang tergolong anyar.

Yossiadie BS, Tim Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispartabud) Kabupaten Semarang, salut atas inovasi, kreatif, semangat, dan kerja keras tim PT PAS. ”Kuncinya adalah profesional. Saya sepakat swastanisasi wisata berpotensi di kabupaten ini biar pariwisata bisa cepat maju,” tegas Yossi, penggerak One Day Tour di kabupaten tersebut. Ia juga berharap pucuk pimpinan eksekutif dan legislatif di Kabupaten Semarang dapat kompak mencintai pariwisata yang menjadi salah satu sektor andalan setempat.

Yossi juga mengatakan, selain alam Sidomukti menarik, PT PAS cukup pandai mencitrakan diri lewat publikasi dengan kalimat ”kolam renang alam tertinggi di Indonesia bahkan Asia”. ”Pernah diukur ketinggian kolam alam itu 1031 dpl,” tuturnya.

Umbul Sidomukti selain menawarkan panorama juga jalur trekking ke puncak Gunung Ungaran, Gua Jepang, dan Kebun Teh Medini. Yang pasti, Sidomukti yang telah menjadi paket agenda One Day Tour merupakan magnet baru wisata alami.

”Jangan Ada Hotel di Sini”

Banyaknya turis ke Umbul Sidomukti memberi peluang peningkatan kesejahteraan warga Desa tempat lokawisata tersebut berada. Peningkatan pendapatan tersebut bisa dilakukan dengan menyediakan homestay di rumah-rumah penduduk. Warga setempat juga perlu disiapkan untuk menyambut para tamu. Kamar tidur, ruang tamu, dan kamar mandi harus dijaga tetap bersih untuk tamu. Selain homestay, di kawasan PT PAS terdapat sejumlah vila untuk keluarga penikmat wisata alam.

”Tidak perlu rumah bagus. Rumah bernuansa pedesaan tapi bersih mungkin lebih menarik perhatian tamu. Kesan agraris tetap harus terpelihara,” kata Yossiadie BS yang merangkap tim jelajah Dispartabud ini.

”Jangan sampai ada hotel besar di sini karena akan menghalangi view alam. Sebab di kawasan Bandungan dari Lemahabang sudah banyak hotel. Jika homestay dapat berkembang, perekonomian warga otomatis terangkat. Dan orang kota pastinya terkesima melihat kehidupan agraris.”

Keberhasilan PT PAS juga tidak luput dari keterlibatan masyarakat sekitar. Ada jasa pemandu kuda, ojek wisata (jekwis), dan pemandu wisata. Di desa itu juga dibentuk Kelompok Masyarakat Sadar Wisata.

”Selain ada petunjuk arah, warga turut memandu pengunjung yang hendak naik ke Umbul Sidomukti,” ucapnya seraya mengimbuhkan bahwa kawasan wisata Bandungan tidak segera dibenahi, orang akan memilih Sidomukti sebagai gantinya.

Akses Jalan

Hingga kini persoalan yang masih mengusik adalah soal akses jalan menuju wisata Umbul tersebut. Jalan naik menuju lokasi masih belum bagus. Kondisi jalan juga sempit.

Sejumlah pihak berharap akses jalan menuju objek wisata ini segera diperbaiki. Saat ini setidaknya ada 3,5 kilometer yang dalam kondisi tidak baik. Nino, pengunjung asal Semarang mengatakan, potensi wisata di Desa Sidomukti sangat besar.

Sinta, pengunjung lainnya, mengatakan aneka permainan seperti flying fox, marine bridge, kolam renang, dan pemandangan alam yang sangat indah di Sidomukti berpotensi mengundang banyak wisata. ”Akan lebih bagus kalau jalan menuju lokasi dalam kondisi baik,” tuturnya.

Pengaruh jalan juga dikhawatirkan pengelola. Jika hujan turun, jalan agak becek. ”Kami bersedia gotong royong membangun jalan bersama Pemkab Semarang. Kalau bisa juga dengan perusahaan lain yang memiliki tanah di lereng Gunung Ungaran ini,” tandas Bambang Wijanarko.

”Untuk simpangan roda empat sebenarnya masih bisa tapi sangat mepet. Memang banyak yang mengeluhkan kondisi jalan di sini,” ujar dia, ”Padahal, apabila pengunjung Umbul ini ramai juga berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).”

Sekda Ir Warnadi MM mengatakan, pada intinya Pemkab sangat mendukung rencana pembangunan jalan tersebut. Pemkab juga harus melakukan survei, jika layak mengapa tidak dibangun bersama.

Wah, bila jalan menuju ke sana mulus, akan semakin banyak orang memanjakan diri di Sidomukti.

Sumber : SuaraMerdeka

Peta Lokasi :
Data peta ©2011 Tele Atlas - Syarat Penggunaan
Peta
Satelit
Hibrida