SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MENIKMATI, SEMOGA BERMANFAAT
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2011

SEPULUH TAHUN SILAM……
Hari ini tak seperti biasanya, hari ini adalah hari Aku mulai membuka praktek  dokter di rumahku…wuihhh bahagianya , Aku benar-benar ingin mengaplikasikan ilmuku didunia nyata sekaligus beramal sholeh., kini saatnya Aku ingin membahagiakan ibu dan adik-adiku dari jerih payah dan tangis yang pernah kami keluarkan dalam perjalanan hidup ini,  dan saat ini ada asa besar yang akan Aku  wujudkan kepada sosok wanita  yang telah melahirkan ku ke dunia ini, selintas terbayang wajah Emak yang sabar dan penyayang, yang sayangnya tidak hanya kepadAku saja tetapi kepada tetanggAku yang lain, tak heran banyak tetangga yang sering datang kerumah untuk memberikan  kelebihan rezeki mereka untuk Aku dan Emakku nikmati juga, biasanya Emak selalu menyisakan makanan nan sedap dari tetangga apabila Aku sedang tidak ada dirumah, terlebih- lebih ketika saat Aku akan menghadapi ujian akhir kuliahku, Emak begitu tekunnya mengingatkanku agar Aku tidak lupa makan, bahkan menyediakan beberapa mie instan untukku bila saat malam nanti Aku bangun untuk belajar dan kemerasakan lapar Aku bisa  memasaknya, “ Ti…nich Emak letakkan mie di dalam lemari dapur,  kalau-kalau kamu lapar nanti malam, tapi jangan sampai kekenyangan ya ti, nanti kamu nggak bisa belajar lagi…malah tidur karena kenyang. Jangan lupa shalat tahajud, agar Allah SWT memberi kemudahan kamu dalam ujian Sidang besok” begitu pesan Emak panjang padAku, selalu begitu kalau Aku mau ulangan apalagi ujian ini adalah sidang , Aku jadi hapal bait per bait, ucapan Emak. “ Iya mak, makasih, Emak jangan repot-repot sama siti, kalau lapar siti kan bisa makan nasi dingin yang masih ada di meja sama lauk yang sisa, kalau masih bisa dimakan , mending uangnya Emak simpan saja buat keperluan besok, siti juga kan sudah mulai mengurangi makan mie instan mak, karena kalau banyak dan sering nggak bagus buat kesehatan mak,..” ucapku lirih, agar tidak menyinggung perasaannya. Yah…begitulah semenjak Bapak meninggal 8 tahun yang lalu, Aku dan Emak memang hidup memprihatinkan, tidak ada harta yang ditinggalkan Bapak , kecuali rumah yang kami tinggali saat ini, namun bagiku Aku dan Emak selalu bersyukur pada yang Kuasa, karena kami tidak perlu repot-repot mencari uang untuk membayar   sewa rumah, karena itulah warisan kakek yang Bapakku dapati, selain itu Bapak juga tidak meninggalkan hutang semasa hidupnya, sehingga kami tidak dibebankan oleh hal-hal tersebut . Bapak terkenal sangat jujur semasa hidupnya, tegas dan keras, namun beliau pribadi yang sangat rendah hati dan tidak menyenangi permusuhan kepada siapapun, walaupun dia harus kehilangan apa yang telah menjadi haknya, seperti yang dialami Bapak semasa hidupnya. Walaupun Bapak anak bungsu dari dua bersaudara, namun Bapak tidak pernah mau menengadahkan tanganya ke kakek tanpa melAkukan suatu usaha, biasanya menurut cerita Bapak kalau Bapak minta dibelikan sepatu , pasti Bapak akan bangun pagi-pagi dan mengisi bak sumur untuk kakek dan nenek mandi, dan walaupun kakek nenek tidak mewajibkan hal itu namun Bapak melAkukannya dengan ikhlas semata bukan karena suau imbalan, dan ada kalanya dengan usaha yang dia keluarkan belum tentu di berikan ingatanku berulang pada tiga tahun yang silam , ketika saat itu Aku duduk di kelas 3 SMP, saat itu Aku mendengar suara ribut-ribut  dari ruangan tamu.” Pokoknya, tanah di jalan raya panjang itu harus dijual, untuk melunasi hutang pengobatan Ayah kepadAku waktu ayah masih hidup” begitu suara lantang dari Paman Herman, jelas sekali kudengar, “ Iya..tapi kan biaya itu telah kita bagi-bagi secara adil untuk pengobatan ayah, dan Mas Her memang yang paling besar biaya pengeluarannya, tapi itu kan seimbang dengan tanah dan rumah yang telah Mas tempati sekarang, jadi rasanya wajar kalau Mas Herman paling besar biayanya, dan lagian Mas Herman kan yang paling berkecukupan bahkan berlebih dibanding yang lain dan hal inipun telah kita sepakati bersama sewaktu dulu” begitu Bapak mencoba mengingatkan Paman. “ aagh…itu kan dulu, lagian  buat apa sih kita pakai cara patungan , kalau Ayah masih memiliki tanah yang letaknya strategis untuk dijual , buat apa harus kita yang menanggung” hardik Paman Herman. “ Astagfirullah….istighfar Mas , nggak baik mengungkit-ungkit yang telah kita berikan untuk orangtua ,apalagi orangtua kita sudah meninggal, mereka telah memberikan kita banyak kebutuhan sampai kita seperti sekarang ini” Ucap Bapak berusaha mengingatkan Paman Herman. “ Pokoknya Aku tidak perduli, Aku akan jual seluruh tanah Ayah, walau ini adalah yang terakhir, dan kamu  Dadang, kamu kan Adikku , tak pantas kamu mencegah apa yang akan Aku lAkukan, kalau kamu berusaha mencegah…tahu sendiri akibatnya.” Ancamnya kepada Bapak  sambil mengangkat jari telunjuknya kearah muka Bapak. Begitulah dialog akhir yang Aku dengar dari kedua bersaudara itu , yang ternyata adalah dialog terakhir pula dalam kehidupan persaudaraan mereka, karena semenjak itu Paman Herman benar-benar tidak mengindahkan ucapan Bapak , semua tanah warisan yang letaknya memang sangat staretegis dan banyak menjadi incaran para makelar tanah akhirnya telah berpindah tangan dalam hitungan beberapa hari saja semenjak perdebatan tersebut. Paman menjualnya dengan sangat murah menurut Bapak berdasarkan informasi yang Bapak peroleh dari beberapa tetangga,dan Paman Her sekarang tinggal di rumah yang sangat mewah, dan tak sepeserpun Bapak mendapatkan haknya atas penjualan tanah tersebut, namun bagi Bapak , harta banyak bukanlah tujuan hidup, begitulah yang selalu Bapak tanamkan pada kami , sehingga Aku sebagai anak sulung Bapak, tidak iri kepada rini anak Paman Herman yang juga sebaya dan satu kelas dengan ku, yang kemana-mana selalu diantar dengan mobil oleh sopirnya. Bagi Bapak , Aku dan dua adikku bisa sekolah itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi Bapak dan Emak. Inilah yang membuat Aku semangat dalam belajar, dan berusaha membantu meringankan beban Bapak dan Ibu dalam membesarkjan kami, dan walaupun Aku masih belajar di sekolah menengah atas, Aku sudah mulai memberikan les privat pada anak-anak SMP maupun SD yang tentu saja bayaran dari mereka, Aku gunakan untuk kebutuhan sekolahku dan dua adikku.  Saat ini Aku sudah lulus kuliah, ijazah sarjana S1 jurusan Kedokteran telah  kukantongi, dan Aku berhasil meraih gelar itu dengan predikat Cum Laude, Alhamdulillah semua kelulusan dan keberhasilanku tidak lepas dari pertolongan Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan kepadAku dalam belajar di fAkultas yang tidak semua orang mampu  menyelesaikan dengan mudah, apalagi harus nyambi pekerjaan lain sepulang sekolah, makan dengan gizi yang seadanya terhidang di meja itupun bila ada, dan alhamdulillah Aku mempunyai banyak tetangga yang baik-baik, semua biayAku ditanggung oleh mereka secara gotong royong, dan memang ada tetangga dekat rumahku yang menjadi donatur tetap biaya kuliahku juga adik-akdikku,   dia adalah Pak H.Burhan yang memang seluruh anak-anaknya telah menjadi orang yang berhasil dan tidak tinggal lagi dirumah besar itu, dan awalnya pak burhan ini memang ingin sekali punya anak yang sekolah di kedokteran , namun karena ketiga anaknya tidak ada yang berminat pada kedokteran melainkan pada bidang bisnis, sehingga cita-cita itulah yang diamanahkan kepada ku, dia pernah bilang padAku “ Siti.. bukan Bapak mEmaksa siti untuk harus mengikuti keinginan Bapak, tapi kalau siti lihat bahwa dengan menjadi dokter, maka siti akan mempunyai kesempatan untuk menolong banyak orang, terutama orang yang tidak mampu” begitu nasihtanya, memang sebelum pak burhan  berbicara seperti itu, Aku juga sangat ingin sekali untuk menjadi dokter,  karena beberapa tahun yang lalu, Aku sangat tidak berdaya menghadapi kepergian Bapak, yang meninggal dipangkuanku,  saat itu Bapak terkena penyakit Jantung,  Aku ingin membawa kerumah sakit, saat nafas Bapak masih terdengar, namun…Aku  dan ibu tidak punya uang, kucoba meminjam uang kepada Paman Herman, namun hanyalah amarah yang Aku dapat “ Tidak ada uang…kamu pikiri Aku tempat penyimpanan uang… pergi sana… bila saatnya memang harus meninggal…relakan saja..” hardiknya. PadAku “ Astaghfirullah…” batinku , Aku tidak bisa berbuat banyak, Aku hanya menangis disepanjang jalanku mengingat perlAkuan Paman Herman dan istrinya kepadAku , dan inilan awal mulanya Aku dipertemukan Allah SWT kepada seorang pria tua yang umurnya mungkin sekitar 65 tahunan yang ternyata bernama Haji Burhan yang saat itu dari jauh Aku lihat dia sedang berusaha kembali ke jalan setapak yang tadi dia telah lewati  untuk mengambil koyah hajinya karena memang tadi angin agak besar, sepertinya kopyahnya tidak terlalu masuk dikepalanya, sehingga terbang terbawa angin, namun sebelum dia berusaha balik mengambil kopyahnya Aku sudah memungut kopyah itu dan kuberlari kearah pak haji tersebut “ ini , pak haji kopyahnya.., tadi ada disana” katAku sambil menyerahkan kopyah itu,” Makasih ya…neng, udah mau ngambilin kopyah pak haji” katanya seperti mengayomi.” Sama-sama pak haji..” katAku sambil berlalu namun masih agak sesegukan. “ Neng…ini ada sedikit buat ongkos neng…”…panggilnya, membuat ku berbalik badan menghadap ke arah pak haji.” Nggak usah pak haji…siti ikhlas koq. Lagian kan sudah kewajiban siti buat nolongin orang lain.,..yang butuh pertolongan…permisi ya pak haji,…assalamu’alaikum” katAku lagi.” Neng…” panggilnya lagi, yang membuat langkahku terhenti..” Koq neng…nangis sih , ada apan neng, siapa tahu pak haji bisa Bantu..” katanya dengan keBapakan.” Bapak  siti lagi sakit pak haji…mau dibawa ke rumah sakit tapi siti dan Emak nggak punya duit..” katAku menjelaskan.” Kalau gituh sekarang aje yo’ kite bawa kerumah sakit yang paling mahal…” katanya lagi..” jangankan yang mahal pak haji, yang murah aja siti nggak bisa bayar, gimana yang mahal, hanya Allah yang mampu memberikan jalan ke siti, untuk bawa Bapak ke rumah sakit” jelasku sambil berdoa pada Allah di tengah kepiluan hati ini, tapi tiba-tiba pak haji itu mengeluarhan handphonenya dan memintAku untuk menunggu sebentar, lalu tidak lama berselang dari waktu pak haji telepon dari kejauhan datang sebuah mobil mewah yang ternyata milik Bapak haji tersebut, yang ternyata adalah seorang yang kaya dan rumahnya tidak berjauhan dengan tempat dimana Aku bertemu dengan pak haji saat itu. Dan akhinrya Nyawa ayah tidak bisa diselamtkan lagi, manusia bisa berencana , Allah jualah yang menentukan semuanya , namun bagiku Aku menjadi lebih tenang ditinggalkan ayah karena kami telah berikhtiar dalam berusaha menyelamatkan nyawa ayah , terlebih-lebih ayah dibawa ke rumah sakit paling mewah di daerah  kami, dan  sejak sepeninggal ayah pak haji burhan berniat menjadi orangtua asuh untuk Aku dan dua adikku, “ Ya..Allah …terimakasih atas nikmat-Mu, semoga Aku bisa menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur dan mampu mengemban amanah dari_Mu, dan semoga pak Haji Burhan Engkau berikan kesehatan  dan keberkahan akan harta-nya amien” doAku, karena rasa syukur dan dzikir yang tak pernah habis kuukir dalam hati dan ucapku…Sesaat Aku tersentak karena suara azan zuhur membuyarkan lamunanku, karena keberhasilanku  tak lepas dari semua pihak keluyarga termasuk pak haji burhan sebagai orang tua asuhku.
Setelah melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah dengan ibu di rumah..tiba-tiba ada hal yang Aku tanyakan pada Ibu “ mak…Paman herman sekarang tinggal dimana yah…”katAku hati-hati..sambil mencium tangan Emak.” Emak juga nggak tahu nak, terakhir Emak dengar , dia sudah tidak tinggal dirumah yang dulu lagi, katanya rumah itu dijual dan dia beli rumah baru di tempat lain agak pinggiran , tapi Emak  nggak tahu  lagi selain itu, kita doakan saja biar pada sehat yah ti..” kata Emak..dengan tulusnya” iya…mak”.katAku pamit untuk kembali keruang praktek karena beberpaa pasien sudah menungguku, entahlah sampai saat ini Aku masih belum bisa melupakn perlAkuan kasar yang kutrima dari Paman herman, entah sampai kapan…
Hari berganti hari, begitupun minggu, bulan dan tahun, genap dua tahun sudah Aku telah membuka praktek dirumahku, namun hari ini, Aku melihat pemandangan lain di depan pagar rumahku , kulihat ada  seorang pengemis kotor sedang menggaruk –garuk kulitnya hingga mengeluarkan darah dari tiap garukkannya , mungkin karena demikian sakitnya hingga dia tak sabar untuk menggaruk tangan dan sekujur tubuhnya yang lain, tak heran setiap orang yang melewatinya selalu memalingkan muka, menutup hidung, dan ekspresi lainnya yang beragam terhadap pengemis itu. Akupun jadi penasaran dibuatnya apa yang menyebabkan pengemis itu berada di depan pintu pagar rumahku, karena sedikit banyaknya akan membuat orang yang hendak berobat ke tempat praktekku jadi mengurungkan niatnya…” Maaf Bapak…Bapak mau berobat?” kataku pelan namun agak menjauh…” tidak…nak..Bapak sedang mencari keponakan Bapak yang dulu pernah Bapak usir…tapi Bapak tidak tahu kemana mereka pada pergi…Bapak menyesal telah mengusir mereka…” katanya dengan susah payah..” Opss..tunggu dulu…seketika lamunanku kembali pada kejadian sepuluh tahun silam…jangan…jangan ini Paman hermanku yang dulu yang penuh dengan amarah dan nafsu angkara murka , sesaaat pikiranku bermain main dengan jahilnya, seakan-akan setan datang merayuku untuk menjadi sahabatnya, Aku tak lagi mendengarkan cerita pengemis itu yang ceritanya sama dengan cerita yang Aku alami sepuluh tahun silam, orang itu itu bilang telah tobat dan ingin menebus kesalahannya pada keponakannya itu yang tak lain adalah Aku sendiri, namun dia tidak menyadari hal itu, sekali lagi Aku akan memainkan peranku sebagai orang jahat ,seperti yang dulu pernah ia lAkukan , batinku…Astaghfirullahaladziim…tiba-tiba Aku tersentak  sendiri yang membuat heran pengemis itu melihat Aku mengeluarkan air mata, Aku berkali-kali istighfar…nyaris saja Aku menjadi budak syetan…Aku lupa nasehat yang disampaikan Pak Haji Burhan waktu dia menolongku saata itu, agar Aku tidak dendam kepada orang yang telah menyakitiku seberapapun jahatnya orang itu…..dan Aku sadar, bahwa karena kekejamannyalah saat itu ,yang sekarang membawa Aku menjadi orang yang mandiri dan sukses bersama keluargAku….batinku lagi,…akhirnya…..kuajak masuk pengemis itu kedalam rumah yang tak lain adalah Pamanku….kubersihkan kotoran yang melekat pada kakak Bapakku itu…dan kulihat  dia hanya menatapku penuh dengan keheranan……..


                                                             

Selasa, 02 Agustus 2011

“Ketika Sang Mentari Pergi” 

Langit membiru cerah , seakan ikut mewarnai isi hatiku yang saat itu bagaikan seorang yang sedang melompat-lompat bermain riang diatas awan, dan seolah terbang bebas bak burung Elang yang dengan gagahnya mengembangkan kedua sayapnya, tanpa bisa didahului oleh kelompok burung yang lain dan mampu menukik tajam ke sasarannya dengan tepat bila dia menginginkan sasaran itu. Yah begitulah aku mengungkapkan perasaanku saat ini, ketika siang tadi ,pimpinan perusahaan tempatku bekerja memberi ucapan selamat atas promosi yang berhasil kuraih:” Aisyah, selamat atas promosi jabatan yang pantas kamu terima, kamu memang orang yang sangat semangat, smart, jujur dan pokoknya banyak lah…nanti kalau saya sebutkan satu persatu kamu jadi GR lagi..” ucap pak Haryanto, selaku direktur utama di perusahaanku yang memang langsung memberikan appreciate kepadaku untuk kenaikan jabatan tersebut. yah..senyum kecilku masih terus tersungging tak percaya bagaimana tidak percaya seorang Aisyah Putri Ahmad yang hanya berasal dari kalangan bawah, mampu mencapai posisi terpandang di kantornya yang merupakan salah satu perusahaan bertaraf internasional dan mempunyai kepopuleran sampai diluar negeri, selain itu yang paling menakjubkan adalah posisi tersebut dapat dicapai hanya dalam hitungan bulan, dimana pada umumnya dikantorku tersebut belum ada yang mencapai posisi manager yang aku peroleh, dalam hitungan dibawah satu tahun .” Wah…., aku harus cepat-cepat pulang nih, untuk segera memberikan kabar baik ini kepada ayah dan ibu dirumah, mereka pasti akan senang sekali mendengar berita ini yah..tin” ucapku pada tini yang memang kami selalu pulang bersamaan dengan tini setiap pulang kerja, selain itu tini juga satu bagian denganku, sehingga bisa dibilang aku dan dia selalu berbagi rasa baik suka maupun duka,” kenapa nggak di telepon aja sekarang” saran tini padaku” …eeehm, nggak usah ditelepon sekarang tin, nanti nggak surprise lagi dong” kataku manja pada tini.” Oh…ya nanti kamu masih mau pulang sama aku lagi kan “ kata tini sambil merajuk padaku” ya…iyalah, masa sih aku mau melupakan sobatku setia, kaya…kamuuuu” kataku lagi sambil mencubit lengan tini” siapa tahu kamu nggak mau barengan aku lagi , mentang mentang nanti kamu akan dapat mobil baru dari perusahaan , pokoke walau kamu nggak kasih, aku tetap mau naik mobil baru kamu yah…ai” ucapnya sambil melirikku” sipp… tenang aja, tapi sebelum kamu yang naik aku mau ajak ayah dan ibuku dulu yah…soalnya dia belum pernah ngerasain naik mobil..apalagi kalau yang bawa anaknya sendiri, wow pasti mereka senang banget deh…” kataku semangat.” Iya dong pasti , mana ada sih orangtua yang tidak bangga melihat anaknya berhasil kaya kamu”…kata tini sambil menunjukku” Alhamdulillah, doa ayah dan ibu diijabah Allah yah..makanya yuk pulang cepet-cepet biar segera dapat bus dan pulang kerumah tepat waktu…” kataku sambil berlari mengejar bus yang sudah menunggu di halte terdekat kantorku, dan disusul oleh tini yang juga memang satu arah pulang denganku. Selepas maghrib aku langsung menemui ibu “Ibu…..ibu lagi ngapain? Mengganggu gak?” kataku manja di lengan ibuku, yang kulihat sedang menjahit baju pelanggan ibuku Ibu memang pandai menjahit, namun masih penjahit kecil-kecilan saja, hanya para tetangga terdekat saja yang menjadi pelanggan ibu, namun begitu, ibu sangat menikmati sekali pekerjaannya, lumayanlah hasilnya bisa untuk membantu penghasilan ayah yang sehari-harinya bekerja sebagai guru SD yang letaknya tak jauh dari rumah kami. Aku anak tunggal dari ayah dan ibuku, sehingga tak heran aku sangat manja kepada ayah dan ibuku, walau aku anak semata wayang mereka, mereka tidak pernah memanjakan aku untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, semua permintaanku sejak dahulu tidak pernah dipenuhi apabila tidak ada manfaatnya, apalagi yang menggunakan biaya lain selain kebutuhan sehari-hari, seperti mainan, boneka, dan peralatan mainan lainnya yang umumnya dimiliki oleh anak-anak kecil , namun karena ayah tidak ingin aku hidup dengan bersantai-santai juga ayah tidak memiliki uang untuk membeli hal-hal yang menyenangkan tersebut, untuk kebutuhan sehari-hari saja kami pas-pasan, bagaimana untuk membeli yang lain dan tidak penting. Dan kurasakan dari kecilpun aku sudah berfikir untuk melakukan usaha lain , agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, misalnya aku ingin bermain dengan temanku rita yang tinggal di depan rumah , saat itu usiaku 6 tahun , karena aku ingin sekali main sepeda, biasanya aku akan bilang kepada mamanya rita bahwa aku ingin naik sepeda tapi aku harus melakukan sesuatu untuk biaya pemakaian tersebut “ mama rita, ada yang bisa dibantuin sama ai nggak…? Ucapku saat itu, dirumah aku dipanggil dengan sebutan ai. ,” memangnya ai mau Bantu apa? Sapa lembut mama rita, “ ai mau Bantu apa yang ai bisa, soalnya ai mau naik sepeda rita.” Kataku “ sudah…gak usah, main saja sana sama rita, yah…” balas mama rita.” Kata ayah, kalau mau memakai sesuatu milik orang lain, harus izin dan berusaha dahulu” kataku lancar mengikuti pesan dari ayah” “ ya…udah kalau begitu, ai , kasih makan kucing aja yah…..di ruang belakang…gimana.” Ucap mama rita memberi saran,” makasih mama rita….”, begitulah akhirnya , selalu rutin aku kerjakan memberi makan kucing kesayangan rita, apabila aku ingin meminjam sepedanya , sehingga lama-kelamaan rita dan mamanya pun sudah memahami sikapku, kalau aku memberi makan kucing, pasti aku mau main sepeda. Namun karena aku dididik untuk tidak terpesona dengan berbagai hiburan dan mainan, sehingga tidak semua mainan membuat aku inginkan, kecuali sepeda, maklumlah seusiaku saat itu pasti ingin mencoba hal-hal baru. Walau begitu ayah selalu rajin memberiku buku-buku bacaan, komik anak-anak, walaupun tidak baru, namun enak untuk dibaca, kata ayah “ kalau buku bacaan itu tidak basi sampai kapanpun, jadi nanti kalau ai punya uang banyak , selalu sisihkan uang ai untuk membeli buku, ya sayang…” pesan ayah padaku bila selesai menceritakan kisah sahabat nabi kepadaku.” Iya…ayah, insya allah ai akan ingat terus pesan ayah” kataku saat itu. tetapi tiba-tiba “ Ada apa, ai? Tegur ibu yang membuyarkan lamunanku,” ehm.. oh ya bu, maaf ai jadi melamun, ada kabar gembira yang mau ai sampaikan ke ibu…” kataku dengan nada riang” ada apa, koq ibu perhatikan wajahmu berseri sekali, tidak seperti biasanyan “ terka ibu sambil mengamati wajahku.” Ibu…hari ini, ai mendapatkan kenaikan jabatan bu…sebagai general manager di kantor ai bu…” kataku yang membuat ibu terkejut.” Sungguh…ai?…alhamdulillah …Ya…Rabbi..” berkali-kali ibu mengucapkan syukur dengan mata yang berkaca-kaca, dan dari pintu depan ayah datang sepulang shalat magrib dari mushala “ wah ada apa nih…koq pakai acara tangis-tangisan? Ayah ketinggalan berita nih? Hayooo Ai, kamu mau nikah yahhh, koq nggak bilang-bilang sama ayah…” tebak ayah menduga,” Ayah …, ada ada saja deh tebakannya, bukan itu beritanya yah , hari ini Ai diangkat sebagai manager di tempat ai bekerja…” kataku sambil bergerak mendekati ayah untuk mencium tangannya.” Bener nih Ai?…” katanya lagi tak percaya.” Insya Allah betul ayah,…tadi direktur utama sendiri yang menyampaikannya ke Ai langsung.” Kataku sambil mencoba mengulangi ucapan dirutku tadi siang. Kulihat saat itu mereka demikian bahagianya, dalam hatiku, Ya Allah aku ingin menjadi yang terbaik untuk mereka, aku ingin membahagiakan mereka, semoga aku bisa menjadi anak sholehah bagi orang tuaku. Hari pertama menjabat sebagai manager baru divisi operasional dikantorku membuatku menjadi agak canggung, teman-teman yang tadinya kalau ketemu denganku dikantor bersikap biasa saja, sekarang mereka agak menjaga jarak denganku, aku jadi serba salah , sampai akhirnya aku bilang kepada beberapa temanku “ andi, yuni, tini, nggak usah berlebihan yah dalam menyikapi kenaikan pangkatku, aku nggak mau terlalu dihormati, pokoknya biasa saja yah, kalau lagi meeting atau tugas-tugas lain disesuaikanlah dengan porsinya, tapi kalau diluar kantor seperti sebelumnya saja, gimana oke yahhh?” kataku mencoba menghilangkan kekakuan sikap mereka terhadapku. “Aku juga nggak mau loh nggak punya temen dikantor” lanjutku lagi. Memang sih bukan salah mereka bila mereka begitu hormat dengan setiap manager yanga ada dikantorku, akupun dahulu juga begitu, karena direktur utama dikantorku sangat menekankan kewibawaan perlu dijaga didalam kantor, agar setiap keputusan yang diambil tidak melihat secara subjektif, begitu alihnya, ketika aku mencoba untuk menghilangkan tradisi yang menurutku kurang bijak kepada direktur utamaku itu., namun biarlah peraturan tetap peraturan asal tidak ada yang dirugikan, begitu pikirku untuk tidak berdebat di awal jabatan baruku. Hari berganti hari, sekarang aku tidak lagi menjalani jalan setapak disamping rumahku untuk menunggu bus di halte bila hendak ke kantor, seperti dulu yang rutin aku jajaki ketika aku masih harus berlarian mengejar bus kota, kini aku telah mengendarai sebuah mobil yang bagiku cukup wah, maklum aku belum pernah punya mobil, apalagi untuk bisa menyetir mobil , wow rasanya jauh dari bayangku. Ayah tak henti-hentinya selalu mengingatkanku agar aku tidak sombong akan nikmat yang telah diamanahkan Allah swt kepadaku,” ai…ingat yah dimana saja ai berada, jangan tinggalin shalat, jangan menganggap rendah orang lain, jangan sombong, ….” Nasihat ayah bila aku hendak berangkat kekantor, dan masih banyak kata jangan lagi yang aku hapal dan kuingat, karena bagiku, pria ini sangat bijaksana, jujur dan disiplin ,akupun terlalu terobsesi kepadanya, sampai-sampai akupun juga ingin mencari seorang suami seperti ayah, tapi biarlah semuanya sang Khalik yang mengatur, pikirku sambil menghalau lamunanku tentang ayah. Enam bulan sudah aku dengan posisi baruku, semua serba dinamis, aku dituntut untuk mengunjungi beberapa tempat diluar kota untuk menyelesaikan proyek-proyek yang ditangani oleh perusahaanku , dan lambat laun aku jadi sering tidak berada dirumah , mungkin dapat dihitung aku berada dirumah dalam satu bulan hanya beberapa hari saja, sekarang rumahku tidak sesederhana yang dulu, sedikit demi sedikit rumah kuperbaiki, dirumahpun sudah ada yang membantu ibu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, dan menyiapkan masakan untuk ayah dan ibu, karena secara otomatis dengan kesibukan baruku aku sudah tidak lagi bisa membantu ibu, berkali-kali ditiap kesempatan ayah dan ibu selalu mengingatkanku untuk banyak istirahat, dan menjaga kondisi tubuhku, dan aku hanya bilang pada mereka “ bu…,Yah….tidak usah khawatir pada ai, insya Allah ai selalu menjaga kesehatan, ini semua ai lakukan untuk kebahagiaan ayah dan ibu, bukan yang lain, kalau ayah dan ibu ingin pergi ke mall, tempat pengajian atau yang lain, ibu bisa minta diantar ke pak darmo .” begitu kataku, karena kalau aku sedang keluar kota ,pak darmo lah supir pribadiku , yang aku minta untuk standby di rumah, untuk memberikan pelayanan kepada orangtuaku. “ tapi ai, ayah dan ibu kan kangen sama ai, dulu kita selalu sama-sama, tapi sekarang ai jadi jarang dirumah”…kata ayah lembut” tapi ai, walau bagaimanapun , ayah akan selalu mendoakan ai” lanjutnya. “ iya…ayah terima kasih atas doa ayah.”ucapku. Pagi-pagi sekali aku berangkat kekantor, karena ada proyek pembukaan kantor cabang perusahaanku yang harus aku presentasikan jam sepuluh pagi ini, jadi aku harus benar-benar menguasai materi tersebut sebelum aku presentasikan didepan para manager, dirut, dan juga beberapa kolega kami yang berada di wilayah Medan, tempat dimana kantor cabang akan dibuka.. akhirnya setelah aku merasa siap untuk presentasi dan jam telah menunjukkan angka pada 10 tepat, akupun melangkah ke ruang meeting dengan pasti dan disana baru ada beberapa orang yang sudah datang dan menikmati sajian kopi maupun teh yang telah disediakan di atas meja yang berbentuk elips. Wuih dingin sekali ACnya.. batinku , sambil kurasakan tanganku agak menggigil , ini aku yang deg-degan demam panggung atau memang ACnya yang terlalu dingin, ah..kenapa aku harus grogi, bukankah aku sudah biasa presentasi dimana-mana, namun entahlah ada perasaan lain pada presentasiku kali ini, sesuatu yang tidak dapat aku pahami dan kutemukan jawabannya, namun otak kananku segera mereview apa saja yang akan aku sampaikan rasanya, aku telah kuasai, tapi apa lagi yah…ah entahlah….tunggu nanti aja deh….bismillah ucapku, insya Allah akan dimudahkan. Dan setelah semua jajaran direksi dan kolega telah hadir, acarapun segera dimulai oleh pemimpin meeting, setelah didahului dengan serangkaian acara , akhirnya acara punyaknya adalah presentasi tentang proyek kantor cabang yang akan aku sampaikan, alhamdulillah grogiku hilang setelah aku selesai membaca doa pembuka, lalu kemudian aku sampaikan latar belakang kenapa harus membuka kantor cabang, target dan sasaran, jumlah karyawan yang diperlukan, serta kualitas dari produk-produk yang diberikan, setelah hampir 1 jam lebih aku presentasi, selesailah sudah presentasiku, yang diakhiri dengan tepukan yang meriah, bahkan mereka sambil berdiri memberikan salam kepadaku , karena menurut mereka aku memberikan presentasi dengan sangat semangat dan keyakinan yang sangat tinggi, sehingga para kolega yang dating saat itu sangat optimis akan program- program yang akan dicapai oleh kantor cabang tersebut.
Lalu …sampailah pada acara terakhir, dimana kata penutup akan disampaikan oleh direktur utama kami , biasanya beliau memberikan penutup yang merupakan kesimpulan dari setiap acara.”baikilah para hadirin peserta meeting PROYEK kantor cabang, dengan ini seluruh jajaran direksi telah menetapkan, mempertimbangkan dan memutuskan, bahwa, kepala pimpinan cabang untuk kantor cabang yang akan segera dibuka di wilayah sumatera bagian utara tepatnya di MEDAN adalah “ …..” hening sekali tiada yang berani bersuara, suara nyamukpun menjadi terdengar dengan lantangnya, kulirik beberapa orang temanku yang menurutku sangat ambisius untuk memegang tampuk pimpinan di kantor cabang itu, maklumlah wilayah disana menurut beberapa orang adalah wilayah yang banyak pemasukkannya , jadi kata mereka bisa cepat kaya, astagfirullah batinku bila ingat itu cerita itu, ya Allah jauhkan aku dari posisi disana, aku takut tidak bisa memegang amanahMu, lagi pula pikirku aku tidak mungkin dipilih , karena mereka lebih senior dariku,..” Aisyah Putri Ahmad” ikrar pak haryanto, selaku dirut kami dengan suara lantang, “ Beliau walaupun masih tergolong muda, namun memiliki semangat yang luar biasa, dan kejujurannya yang tidak bisa dipungkiri lagi, kita membutuhkan orang-orang yang pintar namun jujur, jadi hal ini bukanlah syarat yang mudah, tetapi kamipun tidak menutup mata bahwa kami memiliki orang yang berdedikasi seperti itu, Aisyah lah orangnya, selamat untuk Aisyah.” Ucap pak haryanto sambil berdiri dan memberikan ucapan selamat padaku. Aku tidak percaya mendengar itu semua, sepertinya aku sedang bermimipi, namun kusadari bahwa ini adalah kenyataan yang harus kuhadapi, aku harus ikhlas beribadah sambil berdakwah memerangi korupsi yang kerap terjadi di tiap perusahaan termasuk diperusahaanku di wilayah medan tersebut, walau aku belum menyetujui, namun , aku memang ingin sekali mencari pengalaman didaerah lain, dan tujuanku untuk membahagiakan ayah dan ibu sepertinya akan segera terpenuhi, aku ingin meraih kesukesan dunia dan akhirat, dimanapun aku berada, aku ingin memberikan kasih dan sayang kepada orangtua, begitu pikirku, karena dalam segi materilah selama ini ayah dan ibu belum pernah terpuaskan, pikirku lagi. Sesampai dirumah, aku belajar menyusun rangkaian kata-kata apa yang tepat untuk aku sampaikan pada ayah dan ibu, memang sejak sampai dirumah aku belum menyampaikan berita itu, aku hanya dikamar saja, apakah aku akan diijinkan oleh ayah dan ibu, bila aku tidak menerima penawaran itu , aku mungkin akan banyak hilang kesempatan lain yang biasanya akan ditawarkan oleh dirutku bagi orang-orang berprestasi seperti sebelum-sebelumnya. Ehm…aku menarik napas panjang, seakan hendak mengeluarkan gundah yang menggelayuti hatiku. “ aku harus berani menyampaikan hal ini, aku akan merayu ayah dan ibu, walau bagaimanapun aku harus menerima tawaran ini, aku harus mendapakan ridhonya” batinku lagi. “ ada apa dengan Ai , ya bu…” Tanya ayah pada ibu, sangat pelan kudengar suaranya dari dalam kamarku, “kurangtau pak, mungkin kecapekan” kata ibu,” yah udah..nanti kita tanyakan saja ba’da shalat maghrib” lanjut ayah. “Maafkan ai, yah yah...” ucapku sambil mencium tangan ayah setelah shalat maghrib berjamah dirumah, kemudian kususul dengan meraih tangan ibuku,” loh ai…koq tangan ayah basah sih…kamu menagis yah….? Selidik ayah sambil menatapku untuk mencari kebenaran dimataku.” Ah nggak ayah...Cuma kelilipan aja kali yah..” hindarku dari tatapan ayah.” Gak mungkin…ai yang ayah kenal , nggak pernah menagis dari masih kecil, kecuali dari hal yang berhubungan dengan ayah dan ibu..,betul kan?” Tanya ayah.” Iya..yah, ada yang mau ai sampaikan pada ayah dan ibu.” Ucapku pelan.” Ada apa ai, ceritakan saja, jangan takut, ibu dan ayah nggak akan marah koq, ada apa sih?” pinta ibu lembut sambil mengelus rambutku. “ ayah….ibu…ai minta ridho ibu dan ayah , ai mau merantau ke daerah medan, untuk memimpin kantor cabang disana…” kuihat mereka terbengong-bengong dan saling pandang, belum sempat mereka bertanya aku teruskan kata-kataku “ ini kesempatan ai yah..untuk berprestasi lebih besar lagi, ai ingin ayah dan ibu bahagia, ai ingin mengajak ayah dan ibu keluar negeri, itukan yang ai cita-citakan dulu masih kecil, tentu ayah dan ibu masih ingat, karena setelah selesai menjalankan tugas di medan, biasanya akan dipercayakan untuk memimpin kantor perwakilan di luar negeri, yah….boleh yah ..yah…bu”…suasana hening seketika, akhirnya ayah yang mulai membuka pembicaraan” apakah sudah ai fikirkan masak-masak?…ayah senang sekali,ai mendapat tawaran ini, sangat senang sekali, ayah memiliki anak wanita yang shalihah, walaupun ai anak tunggal, ai tidak manja, ai mandiri, dan berusaha membahagiakan kami, apa yang ayah dan ibu tidak bisa berikan ke ai selama ini, justru ai yang memberikan kepada kami, tadinya ayah tidak punya baju mahal sekarang ayah punya, tadinya ayah dan ibu tidak pernah naik mobil pribadi sekarang ayah tinggal duduk saja dibelakang, dengan AC yang dingin…? Ai…kalau ai bahagia dengan tawaran itu, ayah dan ibu akan selalu bahagia dan mendukung kebahagiaan ai , jangan fikirkan ayah dan ibu, karena tugas ayah dan ibu adalah membahagiakan ai, ai jangan bingung , insya Allah doa ayah dan ibu akan merestui ai.” Ucap ayah sambil kulihat ada mutiara bening jatuh ke pipinya yang dipenuhi dengan kerut tanda usia telah lanjut, begitupun kulirik ibu yang mencoba menahan isak tangisnya, akhirnya kami saling berangkulan, melepas tangis kami, mungkin tangis yang penuh dengan berbagai rasa, sedih, bahagia, dan rindu mewarnai tangisan pada malam itu, Ya Allah terimakasih atas kemudahan dari-Mu, ucapkan tulus dan bahagia. Tiga bulan sudah aku berada di Medan , ini adalah pertama kali aku jauh dari orang tua, maklum selama sekolah dari SD sampai kuliah aku memang di Jakarta, walau waktu kuliah aku harus pulang pergi Jakarta-Depok , namun itu semua rela aku lakukan asal aku tetap selalu dekat dengan ayah dan ibu,demi meningkatkan taraf hidup dari segi materi untuk ayah dan ibuku, dan alhamdulillah Allah memberikan otak yang encer, dimana aku lulus sebagai mahasiswa terbaik dari seluruh angkatanku saat itu, dan dengan mudahnya banyak perusahaan besar menawarkanku untuk bekerja di tempatnya, wow, bukan main senangnya ayah saat aku mulai bekerja pada hari pertamaku dulu, banyak angan dan asa yang ayah ibu titipkan kepadaku, karenanya setelah aku mendapat kesempatan dari perusahaan , tempat dimana ku bekerja saat ini, aku bertekad untuk mengubah nasib ekonomi kami, kami memang sangat bahagia, namun dari segi ekonomi kami juga ingin menikmati sebagaimana layaknya tetangga kami. Sehingga sampailah aku sekarang merantau jauh dari kota kelahiranku, untuk memberikan yang terbaik bagi ayah dan ibu. Kenangku akan napak tilas yang telah aku lalui. Alhamdulillah, tiga bulan aku di Medan, komunikasiku dengan ayah dan ibu tidak pernah putus hampir setiap hari aku menelepon ke rumah ataupun ke handphone yang pernah aku belikan untuk ayah, walaupun hanya sekedar menanyakan sudah makan atau belum , dan sebagainya. Namun kumerasakan kegembiraan di batin mereka apabila aku menghubungi mereka terlebih-lebih ibu yang tak lepas dengan isaknya bila aku mengingatkan ibu untuk jangan terlalu capek. Sedangkan ayah selalu mengingatkanku akan shalat dan menjaga diri, karena sebagai seorang wanita yang masih sendiri, ayah sangat menghawatirkan aku, tapi ayah percaya aku bisa menjaga diri, itulah yang membuat aku yakin bahwa restu mereka selalu mengikutiku. Waktu terus berlalu dengan lambatnya, satu tahun aku berada di Medan, setengah tak percaya saat ini, aku menerima surat rekomendasi dari direktur utamaku, bahwa masa tugasku 2 tahun di Medan dan setelah itu aku akan ditugaskan ke Singapura untuk memimpin kantor perwakilan dinegara singa tersebut, wow…kucoba ulangi lagi, sedemikian cepatnya, ayah dan ibu pasti akan senang mendengar berita ini, karena disana aku boleh mengajak orang tua bagi yang belum menikah, biasanya paling cepat tiga tahun, baru kami akan dipercayakan untuk memimpin di kantor perwakilan Singapura, tapi ini, dua tahun…masih ada satu tahun lagi…” pikirku, tidak lama koq.., kuraih handphone, lalu kuhubungi nomor yang sudah sangat kuhapal “ assalamu’alaikum…ayah..? ini ai, yah….kita sepertinya jadi ke singapura, yahh, setelah satu tahun ini..” kataku bahagia.” Sungguh ai…” ucap ayah tak percaya.” Iya ayah…ini sudah ada surat keputusannya, dan ai akan mengajak ayah dan ibu …, jadi doakan ai ya yah…untuk menyelesaikan tugas ai dengan baik disini…” “ pasti ai…pasti ai….nanti ayah beri tahu kabar baik ini pada ibumu…” begitu kata ayah, yang langsung menutup telepon, padahal aku belum selesai bicara. Alhamdulillah kumerasakan keceriaan di hati mereka dengan berita baik ini, semoga Allah memudahkan semuanya , Amien. Lima bulan lagi aku akan menyelesaikan tugasku di Medan, sedikit banyak aku mulai megerti budaya dan bahasa Medan, lumayan buat menambah khasanah bahasa dan budaya yang telah ada, wow..aku akan kumpul lagi dengan ayah dan ibu…” khayalku malam ini sambil berusaha memejamkan mata yang tak kunjung terpejam Entahlah aku tidak tahu mengapa aku gelisah sekali malam ini., biasanya aku sangat mudah tertidur kalau kepalaku sudah menyentuh bantal, apalagi kalau siangnya aku sibuk sekali. Tapi malam ini, kenapa lain dari yang lain, kubalik-balikan bantal, kubaca buku dan majalah yang telah habis kubaca, sama juga belum tertidur juga. Dan…ketika aku sudah mulai lelah dan mengantuk, tiba tiba.”kring.kring…kring…” suara telepon rumah berbunyi, “ huh..siapa sih malam-malam begini telepon, orang iseng kali…” pikirku lagi..dan meneruskan tidurku yang tadi sulit aku dapat…selang 5 menit teleponku berbunyi lagi, tapi tetap aku tak angkat, biasanya kalau dari ayah dan ibu, kalau sangat penting aku akan ditelepon ke handphoneku. Lalu setelah aku mulai melanjutkan tidurku, tiba-tiba ring tone shalawat mengalun panjang dan nyaring dari handphoneku, kulirik jam weker di meja samping tempat tidurku, pukul 2 lewat 10 pagi, siapa yah malam-malam menelepon aku, kalau kolega atau dari kantor mengapa harus malam-malam, bukankah besok pagi bisa dibicarakan , upss nomor HP ayah…ada apa nih ayah nelepon malam-malam, tidak seperti biasanya.kutekan tombol “yes” dengan rasa was was” Assalamu’alaikum…”sapaku” ai , ini mama rita…maaf ai, ibu ai minta mama rita untuk telepon ai, untuk meminta ai pulang besok pagi-pagi sekali…ada hal penting…? Kata mama rita dengan nada sedih, namun lamat-lamat kudengar dibelakang mama rita suara tangisan ibu,” ada apa mama rita, kataku tak sabar untuk mendengar penjelasan dari mama rita, “ ayah ai..sudah tidak ada lagi sekarang…”katanya terbata-bata” apa???? Mama rita nggak salah kan..?ke..na…pa.. ma..? tanyaku tak percaya” selagi hendak mengambil air wudhu untuk shalat tahajud jam setengah dua pagi tadi , ayah terjatuh dikamar mandi, dan baru diketahui jam 2 pagi ini, ayah ai sudah tiada, sabar ya ai…” hibur mama rita , kututup gagang telepon, tak peduli masih ada suara memanggil dari seberang telepon, kumenangis sambil beristigfar meminta ampunan pada Allah akan dosa-dosa ayah…segera kuambil foto ayah di koleksi albumku, kupandangi sambil menangis, dan mengingat segala nasihatnya, senyumnya, kejujurannya yang selalu dia tanamkan pada aku anak semata wayangnya. Tekadku aku harus pulang besok, pada penerbangan pertama, walau aku belum mendapatkan tiket, namun aku akan berusaha untuk mendapatkan tiket pulang, berapapun harganya, sambil ku bermunajat pada Rabbi..untuk kemudahan perjalananku, agar aku bisa melihat jasad terakhir ayah. Aku tak mengira pembicaraan sore tadi dengan ayah adalah yang terakhir. pantas saja ayah seperti sudah merasa akan ajalnya , disela-sela obrolan kami dia berpesan “ bila ayah sudah tidak ada, kamu jaga ibu kamu yah , jangan dibiarkan sendiri, dia selalu merindukan ai tiap malam…” katanya,” ayah nggak boileh ngomong begitu, tenang deh nanti kita sama-sama ke Singapura, kita bisa kumpul lagi deh…tinggal lima bulan lagi koq…, doakan ai ya..yah, ai akan ingat pesan ayah” itulah baik terakhir yang aku ingat dari ayah, dan sekarang dia sudah pergi.tak tak akan kembali lagi..jauhhhh…sekali untuk menghadap Sang Pemilik raga di dunia ini, Allahu Rabbi. Satu minggu sudah kepergian ayah ,aku memang mengambil cuti panjang kurang lebih 2 minggu dengan mendapat dispensasi dari kantor pusat, dan ketika aku sedang melamun, kutatap wajah ibu, kumerasakan wajah yang renta dan lelah…yang membutuhkan kasih dari belaian seorang anak…apakah aku tega meninggalkan ibu sendirian dirumah sebesar ini, yang hanya ditemani oleh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari..tiba-tiba kuteringat pesan ayah terakhir, bahwa aku diminta oleh ayah untuk menjaga ibu, bila ayah sudah tiada..Rabb aku diantara dua pilihan ,kembali ke Jakarta mendampingi ibu yang telah berusia 60 tahun lewat atau menyelesaikan 5 bulan tugasku di Medan demi melengkapi kebahagiaan mereka, yang kini hanya tinggal ibuku..batinku lirih. Ibu memang orang yang pendiam , bila meminta sesuatu dia hanya diam , sehingga kita tidak tahu apa keinginanya, akhirnya aku beranikan diri bicara ke ibu yang kulihat masih tampak kesedihannya, walau ibu mencoba untuk tegar.” Ibu …4 hari lagi ai..akan kembali ke medan, apa yang ingin ibu inginkan dari ai.., ..ucapku lembut. Ibu hanya diam sambil meneteskan bulir air mata , “ ibu ingin ai disini ?, menemani ibu…dan kita kumpul sama-sama lagi?” kataku memberanikan diri walau pertanyaan itu sangat berat untuk aku penuhi. Tiba-tiba ibu memelukku sangat erat, seolah tidak ingin melepasku pergi…dan ternyata benar dugaanku , dari ucapan ibu.” ibu ingin kita berkumpul lagi…ibu tidak ingin ditinggal ai lagi, ibu mau menghabiskan masa tua ibu bersama anak ibu, itupun kalau ai tidak keberatan, tapi…” ibu memutuskan ucapannya…”tapi apa bu…?” kataku ingin tahu kelanjutan ibu,” tapi…bila ai tak ingin kehilangan kesempatan emas ai yang selama ini ai bangun dan mimpi-mimpikan , ibu tak bisa memaksa, pergilah ai …gapai semua mimpi ai…restu ibu tetap bersamamu…” kata ibu terlihat pasrah. Ya…Allah inikah pilihan yang harus aku jawab dalam waktu yang cepat, aku harus memberikan jawaban sebelum kepergianku ke medan, dan inikah pertanyaan yang ibu simpan dalam-dalam sepeninggal ayah ,karena takut mengecewakanku… setelah kami selesai bicara, aku langsung mengambil wudhu untuk shalat istikharah demi mencapai keputusan yang tepat dari Sang Pencipta, ku keluarkan mobil di garasi , ku setir menuju arah kantorku…kunyalakan komputer dan kuketik sebuah kalimat : “ SURAT PERMOHONAN PENGUNDURAN DIRI dari Kantor Cabang Medan”, yah…inilah keputusan yang kudapat dari shalatku, kutak perduli lagi dengan singapura dan jabatan lainnya yang akan kuperoleh, bagiku ibu lebih penting dari segalanya, ridho allah terletak pada ridho orangtua. Akan aku serahkan surat pernyataan ini pada direktur utamaku hari ini, semoga beliau mau mengerti. Ibu… ai akan selalu mendampingimu….ucapku penuh dengan kepuasan , sambil berjalan pasti menuju ruang direktur utama, Bismillah……ucapku yakin.

Rabu, 20 Juli 2011

JANGAN TAKUT HANTU...”


Berita Gembira
Krinnnnnggg.....
Krinnnnnggg.....
Krinnnnnggg.....
 Telepon di rumahku berdering, kuhitung sudah lima kali bunyi deringan, namun tidak ada juga yang angkat telepon, uhhhh aku malas sekali untuk angkat telepon, maklumlah tempat telepon berada di ruang tamu sedangkan kamarku adalah kamar yang paling jauh dari ruang tamu,
”....kenapa sih gak ada yang angkat tuh telepon, pasti bukan buat aku deh...”  gerutuku, dengan rasa malas, akhirnya aku hampiri telepon dengan segera,  dan mengangkatnya....” “Hallo, ...bisa bicara dengan Ajie “ sambut suara di seberang telepon, eeeh malu juga nih ternyata buat aku deh teleponnya.
“ Iya, saya sendiri, ini siapa yah”
“ Aku Lia, Jiee, ...”.,
“ Lia ? Lia mana yah...”? tanyaku menegaskan
“ Lia , anaknya Pak Marsali, teman waktu SMP dan tetangga Jie..” jelasnya
“ Oh, Lia apa kabarnya..? “ sahutku senang, ternyata yang menghubungiku adalah Lia, teman sekolahku sewaktu kami masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Kami pernah satu kelas di SMP tepatnya kelas 1 , Lia anak yang pintar , kami sering belajar bersama sewaktu di SMP , selain itu jarak rumah Lia dan aku cukup dekat dan masih satu RW , namun walaupun rumah kami dekat tapi kami jarang bertemu, atau main layaknya anak-anak remaja, sepertinya kami memang sibuk dengan urusan kami masing-masing.  Dan sewaktu lulus dari SMP kami memang tidak memilih sekolah menengah atas yang sama, Lia lebih memilih meneruskan sekolah di sekolah khusus agama sedangkan aku lebih memilih di sekolah umum, dan sejak lulus sekolah itulah  kami sudah tidak pernah bertemu lagi, kecuali sama bapaknya Lia, Pak Marsali . Aku sering berpapasan dengan bapaknya Lia ketika aku mau berangkat sekolah . Bapaknya Lia ramah seperti anaknya,  tak jarang , aku juga menanyakan kabar Lia pada bapaknya, kenangku sesaat, dari seberang telepon Lia menjawab pertanyaan ku
“ Alhamdulillah kabarku baik Jie, ...kalu Ajie apa kabarnya..? tanya Lia padaku
“ Alhamdulillah baik, ya, tumbenan nih telepon, ada angin apa nih? Tanyaku penasaran.
“ Gini Jie, Aku mau tanya , kamu masuk di  IPB ya?
“ Koq tau Li,? tanyaku penasaran  , koq Lia tahu padahal informasi aku dapat di IPB baru keluarga aku aja yang tahu. Kemarin memang secara serentak di sekolah-sekolah yang mendaftarkan siswanya untuk mengikuti jalur khusus masuk ke perguruan tinggi negeri diumumkan, dan Alhamdulillah aku masuk ke daftar siswa yang berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri tanpa ikut test, hanya dengan mengandalkan prestasi belajar yang stabil selama kelas 1 sampai kelas 3 ,akhirnya  IPB menerima aku untuk menggali ilmu di universitas terkenal yang berada di kota hujan, demikian julukan kota Bogor tempat IPB bernaung. Masih jelas kuingat, ketika kami seluruh siswa kelas 3 dikumpulkan di lapangan untuk mendengarkan pengumuman dari Bapak L.Nadeak kepala sekolah SMA ku, dag dig dug juga saat mendengarkan satu per satu nama disebutkan beserta nama perguruan tinggi dimana siswa mendaftar.
“ Wina Agustina...kelas III Fisika 1 , berhasil masuk ke IKIP Bandung....,” ucap Pak Nadeak lantang,  sesaat riuh bergemuruh suara siswa-siswi bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada Wina,
“ Hardi Prasetyo...kelas III Fisika 1, berhasil masuk ke UNPAD Bandung....” lanjut Pak Kepala Sekolah, suara riuh kembali membuat pekak telingaku, sampai akhirnya Pak Kepala Sekolah diam sejenak, menunggu suasanan lebih hening...
Kemudian , satu per satu nama kembali disebutkan ada yang di terima di UI, UNDIP, tapi tak ada satupun namaku disebut khususnya UNDIP, padahal aku ikut juga ambil formulir di UNDIP Fakultas Kedokteran , kemudian, dengan agak gelisah aku dengar Pak Nadeak kembali mengumumkan hasil pengumuman...
“ Jihana OktafIra..kelas III Biologi 2, berhasil masuk IPB Bogor..”
Apa??? aku masuk  IPB? beneran nih? hatiku masih gak percaya sampai akhirnya teman-teman memberi aku ucapan selamat, baru deh aku percaya, kalau ternyata Allah SWT memberikan IPB untuk tempat aku menuntut  ilmu lebih tinggi lagi, sebelumnya aku takut juga , kalau aku diterima di UNDIP Fakultas Kedokteran , aku takut dengan biaya kuliahnya yang mahal , sedangkan bapakku dengan gaji PNS nya apakah bisa membiayai kuliah kedoketranku bila aku diterima di UNDIP, semua orang sudah tahu kalau kuliah di kedokteran butuh biaya yang tidak sedikit, namun Allah SWT maha tahu hikmah yang ada di setiap hal, dan alhamdulillah IPB lah yang Allah SWT pilihkan untukku. Seketika  terlintas deh memori aku dulu waktu masih kelas 2 SD, aku bercita-cita ingin menjadi Insinyur Pertanian.
“ Jihana, cita-cita kamu ingin menjadi apa? Demikian Ibu Nani guru kelas SD ku menanyakan aku ketika semua anak diminta memikirkan cita-citanya,
“ Saya , mau jadi Insinyur Pertanian , Bu..”  jawabku, dan aku masih ingat , di sampul muka bukuku yang memakai sampul kopi , aku selalu lengkap mengisi biodataku mulai dari nama, kelas, nama ayah, hobi dan cita-cita, yang selalu aku tulis ingin menjadi Insinyur Pertanian. Entah kenapa , aku sangat ingin menjadi Insinyur Pertanian, yang pasti berawal karena aku sering nonton televisi , zaman waktu  aku SD saluran televisi yang ada hanya saluran TVRI, yang acaranya biasanya seputar pertanian, dan kalau melihat ada penyuluh pertanian, aku suka sekali melihat mereka, yang selalu mengajari petani menjadi pintar.
Kembali ke percakapan di teleponku dengan Lia tadi .
“ Iya Jie, kemarin bapak Lia ketemu Ka OJie kakaknya Ajie, katanya Ajie dapat IPB , Alhamdulillah Jie, Lia juga dapat di IPB nih, Lia seneng Jie, kalau ada temannya...” ucap Lia seneng.
“ Wah enak dong Li, kita bisa sama-sama ke Bogornya, syukur-syukur kita bisa satu kost..”  timpalku sangat senang.
“ Iya Jie, rencananya bapak Lia besok mau ke Bogor, mau cari tempat kost, biar bapak Lia dulu aja yang cari, nanti kalau sudah ada tempat yang cocok , baru kita ikut bapak ke Bogor Jie, bapak mau cariin tempat kost kita yang lebih dekat dengan kampus, kata bapak, kalau ada kuliah malam , kita gak jauh pulang ke tempat kost, gitu kata bapak,Jie”
“Oke deh Li, aku ikut aja, soalnya aku juga gak pernah ke Bogor, gak tau cari kost dimana, kalau gitu titip minta cariin juga ya Li”
“Ya udah, nanti kalau bapak udah dapat kamar di Bogor , Lia telepon Ajie lagi ya, kalau kita sama-sama ke Bogornya kan lebih enak Jie , gak sendiri di kampung orang.., dan harus segera cari tempat kost, karena khawatir penuh dan dapat yang jauh”
“ Sipp, makasih banget ya Li, Alhamdulillah Lia udah telepon aku, kalau gak, aku gak tau kapan harus cari kamar kost dan cari dimana...”
“ Oke deh Ji, udah dulu ya , ntar tunggu telepon Lia lagi ya Jie...” ucap Lia sambil mengakhiri teleponnya
“  Makasih Ya Li,...”
Alhamdulillah Allah memang maha baik, merencanakan segala sesuatu diluar pemikiran hamba-Nya, aku gak kebayang deh kalau harus ke Bogor sendiri untuk mencari rumah kost, dan Alhamdulillah tanpa aku ke Bogor , sudah ada yang mau cariin kost untukku, fikirku., tak lupa aku ucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah memberiku banyak nikmat di tahun ini dengan penuh kemudahan.

Malabar 7

Malabar 7 adalah nama sekaligus alamat tempat kost pertamaku saat aku menginjakkan kaki pertama kali di kota Bogor. Letaknya tepat di depan kampus hijau IPB di Baranangsiang , dari jalan raya dekat kampus berjejer tiga rumah sebelum Malabar 7, ternyata kalau di Bogor  rumah-rumah berderet  tidak berurut seperti di Jakarta, namun berdasarkan nomor ganjil atau nomor genap . suasana hijau yang ditawarkan di lingkungan Malabar tidak diragukan lagi, sungguh asri, kiri dan kanan menuju Malabar 7 atau sepanjang jalan Malabar diisi dengan pohon-pohon besar dan rindang yang kalau aku bisa prediksi pasti umurnya sudah berpuluh-puluh tahun karena batang dari pohon-pohon tersebut  yang  besar, juga akar-akarnya sudah banyak yang menembus aspal jalan sepanjang kampus. Namun sayangnya udara yang sejuk harus rela tergantikan oleh asap knalpot bemo yang memang lalu lalang disepanjang jalan Malabar , kulihat banyak mahasiswa dan mahasiswi yang memanfatkan kendaraan bemo ini sebagai  sarana transportasi menuju kampus, mungkin rumah mereka jauh, fikirku.
Perlahan aku dan Lia memasuki Malabar 7, kulihat bangunan rumah itu sudah tua sekali, begitupun rumah-rumah sebelumnya juga demikian.
“ Rumah kost Ajie dan Lia nanti , bapak udah carikan yang dekat dengan kampus, dan rumah itu punya dosen senior IPB, jadi Ajie dan Lia bisa nyaman dan bisa fokus belajar, ditambah suasananya yang tenang” Demikian ku ingat betul ucapan bapak Lia, Pak Marsali, ketika telah menemukan tempat kost di Malabar 7, dan langsung membayar uang kost untuk kami berdua sebagai DP , tanda jadi, bahwa kami jadi menyewa kamar.
“ Tempatnya sepi ya Li?” ucapku agak takut-takut
“ Iya Jie, tapi sejuk banget yah, benar  juga kata bapak, dekat kampus, jadi kalau kita ada jam kuliah gak nunggu lama-lama Jie di kampus, kita bisa pulang dulu, sambil nunggu jam kuliah mulai “ ucap  Lia sambil nyegir dan melirikku
“ Hehehe belum apa-apa , udah pasang strategi nih...? gak sekalian Li, kita juga bisa tidur dulu , kalau jam kuliahnya selisih waktu yang lumayan lama, hehehe...” ucapku menimpali dengan nakal.
“ tapi, ngomong-ngomong koq tempatnya agak-agak aneh ya Li? ...
“Aneh gimana, Jie?, ...eh aku koq tiba-tiba merinding nih,....hiiiiii...”
“ belum apa-apa udah merinding, lebay banget deh... kita ketuk pintunya yuk..” ujarku
Tok..tok...tok.... kuketuk pintunya, karena suasana rumah sepi sekali
“ Eh...ada bel tuh Jie, coba deh pencet..” kulihat tunjukan jari tengah Lia kearah bel di bagian atas pintu...
“Ting...Nong...Ting...Nong...Assalamu’alaikum...” tiba-tiba ada suara seorang wanita , bersamaan ketika aku memencet bel, ternyata belnya bisa ngomong, hehehe lucu juga nih bel, baru pertama kali aku dengar ada bel bisa ngomong, canggih juga.
kulihat pintu di buka, kreeeeeekkkkkkk......
“ Waalaikumsalam, ...” sahut suara wanita yang membuka pintu. Ternyata yang membuka pintu seorang wanita tua renta, mungkin usianya sekitar 70 tahunan, jalannya pelan dan perlahan, namun terlihat sehat, dan dari gurat wajahnya terlihat kalau di masa mudanya, wanita renta ini pasti cantik, karena di usia sekarang saja masih terlihat kecantikannya.
“ Maaf Tante, apa benar ini , rumah Tante Erom?” tanya Lia sopan , membuka pembicaraan awal kami. aku tersenyum kecil, saat Lia memanggil tante kepada ibu tua renta ini, maklum kata bapak Lia sebelumnya berpesan kalau memanggil  ke Ibu Erom ini panggilnya tante, dia nggak mau dipangggil ibu apalagi nenek.
“ Iya benar, ada apa Nak...”
“ Kami, Lia dan Ajie, yang mau kost di rumah Tante,yang beberapa hari yang lalu , bapak Saya Pak Marsali datang dan sudah membayar uang  DP untuk kost disini”...lanjutnya
“ Oh iya betul, silahkan masuk, kebetulan kamarnya sudah disiapkan, memang sewaktu bapak Lia kesini, hanya tersisa satu kamar yang bisa diisi dua orang, kamar yang lain sudah penuh, tante punya 6 kamar, tapi semuanya udah keisi, dua kamar diisi sama anak semester 3 dan 5, yang dua kamar sudah ada mahasiswi baru dari Makassar, Bandung dan Aceh,  mudah-mudahan betah ya disini, lagi pula banyak temannya disini juga dekat dengan kampus.” ucapnya lirih, sambil mempersilahkan kami masuk, dan menuntun kami menuju kamar kami.
Kulihat ruangan rumah Tante Erom rapi sekali, semua tertata dengan teratur, suasana rumah yang hening, dan bagian belakang rumah ada kebun, yang luas, pohon-pohon besar mengisi kebun belakang Tante Erom, ada pohon durian yang buah-buahnya menggelayut dan siap jatuh apabila tidak segera dipetik, kemudian ada pohon rambutan , alpukat, dan masih banyak lagi pohon lainnya, Seperti Tante Erom suka menanam pohon semasa mudanya dulu. Kulihat kamar-kamar kost mengelilingi kebun belakang  rumah Tante Erom, wah bisa belajar dengan tenang nih begitu batinku, karena suasana yang sejuk, hening, serta pemandangan hijau yang langsung bisa terlihat dari kamar merupakan modal awal untuk menciptakan suasana belajar  , sehingga belajar tidak terasa membosankan, masuk tidaknya pelajaran ke otak, itukan tergantung otaknya juga hehehe..
“ Silahkan, ini kamarnya, dan disebelah kamar ini ada kamar mandi..” tunjuk Tante Erom ke ruang sebelah kamar kami, yang ternyata kamar mandi.
“ Baik Tante terima kasih, untuk pelunasan kamar bagaimana Tante? tanya Lia
“ Istirahat saja dulu, nanti sore saja ketemu Tante , kalau sudah santai , sisanya bisa dilunaskan..” ucapnya lagi
“ Terima kasih ...Tante” ucap kami serempak sambil kami memasuki tempat peraduan kami , tempat pertama kami hidup berpisah dengan keluarga, tempat kami menjalani hari-hari kami di kota orang, terutama aku, aku adalah orang Jakarta asli, dirumah akulah anak orang tuaku  ang pertama merantau tinggal di kota lain di luar Jakarta. Walau aku anak bungsu tapi tekadku kuat untuk menuntut  ilmu di kota ini, jauh dari keluarga. Umiku dari awal selalu meminta aku untuk mengambil kuliah di Jakarta saja tapi aku tidak mau,  aku hanya minta restu dan ridho Umiku, agar aku selalu diberi kemudahan. Jarak Bogor –Jakarta kurang lebih 60 km , namun bagi orang yang belum  pernah jauh dari keluarga, 60 km adalah jarak yang sangat jauh, harus berpisah setiap hari , merupakan bukan hal yuang mudah bagi aku dan Umi saling berjauhan. Masih ingat di fikiranku, Umi menangis tersedu-sedu menjelang satu hari keberangkatanku ke Bogor, tak kuasa aku melihatnya menangis, namun aku selalu bilang “ Insya Allah Mi, tiap Minggu Ajie akan pulang, lagipula ini kesempatan emas masuk ke PTN, banyak orang yang ingin masuk ke PTN ini , tapi gak keterima, dan Ajie mau ngebuktiin , bahwa orang Betawi pun bisa merantau, tidak seperti yang orang-orang bilang, kalau orang betawi nggak bisa merantau Mi,..” ucapku menghibur Umi yang masih kudengar isakan tangisnya.
Kini, di kota ini tidak bisa lagi setiap hari aku dapat menatap wajah sabar Umiku, kini aku harus banyak belajar dari kesabaran Umiku untuk menjadi orang yang bersabar dalam menuntut ilmu, jauh dari keluarga serta sabar dalam mengelola keuangan yang diberikan orangtuaku untuk mencukupi kebutuhan selama satu bulan secara bijaksana.
Ehhhm kota Bogor....sesaat kurebahkan badanku untuk melepas lelah dan melepas penatku....I am Coming Bogor....

Day 2 Day In Malabar 7

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, genap tiga bulan sudah aku menjalani status baru sebagai mahasiswi baru perguruan tinggi negeri ternama di kota Bogor, Alhamdulillah semua lancar-lancar saja, mulai dari mata kuliahnya, penyesuaian dengan Lingkungan kampus, teman-teman kampus maupun teman kost di Malabar 7, namun aku masih belum mengerti dengan ucapan Mba Mahes dan Mba Ira yang setiap bertemu aku dan Lia selalu menanyakan hal-hal yang aku gak mengerti.
“ Ajie, Lia, udah kenalan belum sama teman barunya” tanya Mba Mahes pada aku dan Lia.
Aku dan Lia hanya geleng kepala karena memang tidak mengerti , “ teman baru yang mana Mba? “ tanya Lia bingung,
“ Kalau belum kenalan, ya kenalan dulu...hehehehe” sambil jalan ngacir meniggalkan kami juniornya di ruang makan yang kebingungan.
“Nanti juga kenal koq, Jie, Li...dulu aja aku dikenalin koq” tiba-tiba Mba Ira keluar dari kamarnya melanjutkan obrolan kami dan Mba Mahes tadi.
“ Teman di mana sih Mba?” “ anak baru di sini yah?” tanyaku mendesak
Tapi sepertinya Mba Ira hanya senyum-senyum kecil saja, tapi sambil melirik aneh ke kamar kami. Deggg....jantungku berdebar cepat, kenapa dengan kamar kami, ada apa yah..? aku pribadi sih merasa kalau kamar tempat kami tinggal memang agak berbeda dibanding kamar-kamar yang lain, semua kamar kost disini yang sudah aku masuk kedalamnya, suasana yang terasa hangat tidak sedingin suasana kamarku , itu yang aku rasakan. Namun aku selalu menghibur diriku, bahwa selama kami rajin shalat, mengaji, Insya Allah tidak ada apa-apa.
“ emang ada hantunya ya Mba”? selidik Lia
“Iya...semua orang yang tinggal disini sering digoda, tapi gak nakal sih, sedikit-sedikit aja godanya...tapi gak apa-apa koq..Mba Ira juga pernah koq di kamar ini..” lanjut Mba Ira dengan spontan, saat cerita itu terlihat pipi chubby Mba Ira turun naik karena semangatnya bercerita,maklum ceritanya agak horror, namun cerita Mba Ira membuat ciut nyaliku, Aku kan termasuk penakut, ihhh serem ah, gimana kalau penunggu kamar itu godain Aku yah...
“ Trus..gimana Mba...Mba digodain seperti apa...” tanya Lia, namun Mba Ira sepertinya enggan bercerita banyak, dia hanya bilang kalau malam ketika dia bangun untuk belajar, terdengar suara mesin tik seolah-olah ada yang mengetik, atau ada suara tangisan , dan dia juga bilang kalau kamar dekat garasi rumah Tante Erom ini, ada penunggunya juga, tapi penunggunya muslim, karena kalau dia belum sholat , ada suara yang ingetin untuk shalat, hiiiiiiiiiiiiiii, yang muslim aja serem gimana yang gak muslim...pasti tambah menakutkan.
“ Kalau yang dikamar ini gimana  Mba, suka menampakan gak???” aku semakin penasaran.
“ hehehe kalau yang disini lebih serem dari kamar yang dekat garasi, tapi masih dalam taraf normal koq...” katanya sedikit menghibur, sambil menenangkan kami.
Duhh tambah bikin aku takut aja nih, tapi untung deh selama ini setiap Sabtu dan Minggu aku selalu pulang ke Jakarta bersama Lia, jadi aku dan Lia memang tidak pernah sendirian dikamar, kami selalu pulang bersama ketika Sabtu dan Minggu menjelang. Jadi tempat kost sepi kalau Sabtu dan Minggu, karena mahasiswi yang asal Jakarta pada mudik pulang, dan kembainya lagi hari senin pagi, karena ada mata kuliah.
Namun sudah satu bulan ini Lia jarang pulang ke Jakarta, dia memang sibuk dengan humaniora merpati putihnya, Lia mengambil jadwal Sabtu dan Minggu untuk humaniora mahasiswa baru, aku juga mengambil humaniora yang sama merpati putih, namun aku lebih memilih jadwal Rabu dan Kamis untuk latihan, karena aku tidak mau mengurangi waktu bertemu dengan Umiku tercinta juga keluargaku yang lain.
Suatu hari di Senin pagi sepulang aku dari Jakarta, sebelum ke kampus aku mampir dulu ke rumah kost, kulihat Lia sedang memijit punggungnya,sepetinya pegal sekali , mungkin habis latihan berat di merpati putihnya.
“ Kenapa Li?  cape banget sampai pijit-pijit segala” candaku, namun si Lia tambah serius dan mendekatiku yang sedang duduk di meja belajarku
“ Jie...tau gak, tadi malam aku digodain sama hantu sini Jie?” ucapnya meringis.” Dia ada diatas kasurku Jie, dibelakang punggungku , saat aku tidur miring, bagian belakangku seperti ditusuk-tusuk Jie, pas bangun badanku sakit semua”..ucapnya serius
“ Tadi malam sebelum tidur, baca doa gak Li? atau mungkin kamu kecapean karena latihan terus”?
“ Gak Jie, aku sempat nengok kebelakangku, tapi gak bisa, sprei aku kan warna hijau, tapi kenapa yang kelihatan warna putih ya, trus aku paksakan aja balik badan..susah banget, dan Alhamdulillah aku bisa bangun Jie, tapi pas bangun badan pada sakit semua.” ujarnya menyakinkan
“ Mudah-mudahan cuma dalam mimpi aja ya Li, bukan beneran” kataku mencoba menghidur Lia sekaligus menenangkan diriku , karena aku takut itu adalah hantu yang selama ini diicarakan Mba Mahes dan Mba Ira.
“ trus tau gak Jie, aku memang belum pernah cerita akhir-akhir ini , selama Ajie gak ada, kalau malam jam 1–an aku selalu mendengar suara mesin tik bunyi seperti ada yang ngetik, suara kertas ditarik dari masin tik,..dan karena aku penasaran, aku intip dari jendela Jie, tapi gak ada apa-apa, hanya meja makan yang kosong , tidak ada mesin tik”
“ Mungkin memang ada yang lagi ngetik kali Li, dikamar lain?”  kataku mencari solusi
“ Gak juga Jie, besok paginya aku tanya ke semua penghuni kamar, apa ada yang ngetik jam satu malam, tapi gak ada yang ngetik, pada tidur semua” jelas Lia
“ Secara logika nih Li, ngapain ngetik  jam 1 malam yah, selain ganggu orang tidur, juga kan ngantuk gitu loh ngetik jam 1 malam”
“ Iya Jie, kayanya emang ada penunggunya nih kamar kita Jie? simpul Lia
“ Iya deh , mudah-mudahan dia gak ganggu kita aja yah apalagi sampai  menampakan , ihhh serem ah.., lebih baik kita banyak ngaji di kamar kita ini dan yang lebih penting lagi jangan takut sama hantu, dia kan makhluk Allah juga” kataku meniru gaya tausiyah ustadzah seperti yang di TV.

Akhirnya “ DIA” Datang!!!!

Ujian semester 1 tinggal seMinggu lagi, aku sedang merancang apa saja yang harus kupersiapkan, mulai dari buku-buku yang akan aku baca, Literatur yang mendukung hingga cemilan atau snack ringan untuk menemaniku saat belajar, maklum kalau lagi belajar aku bawaannya cepat lapar. Ujian pertama jatuh pada hari senin pagi jam 8.00 mata kuliahnya fisika dasar dan dilanjutkan jam 11.00 dengan mata kuliah bahasa Inggris, hari kedua Selasa, jam 8.00 juga  matematika dasar wuih semuanya berurut  yang diawali dengan mata kuliah yang penuh dengan tantangan, jamnya pagi juga nih, waduh pulang ke Jakartaku bisa terancam nih kalau senin jam 8 waktu ujian, aku tidak mau mengambil resiko pulang ke Jakarta , namun Seninnya aku telat ujian, begitu  fikirku, sehingga aku bertekad untuk Sabtu dan Minggu ini untuk tidak  pulang ke Jakarta, aku mau serius belajar, aku mau konsentrasi belajar di Bogor, aku ingin index prestasiku tinggi, aku tidak mau jadi orang yang pas-pasan nilainya. Karena aku tahu kalau aku ke Jakarta pasti aku tidak belajar, walau setiap pulang ke Jakarta aku selalu bawa buku kuliah, namun selama di Jakarta tak sedikitpun aku belajar, tak pernah buku-buku yang kubawa berat-berat dari Bogor kusentuh, aku lebih memilih berdekatan dengan Umiku, menggoda keponakanku, atau jalan-jalan bersama kakak-kakakku. Kini aku harus menentukan  jalanku, mau dapat IP yang bagus dengan belajar fokus atau IP seadanya , tentu saja aku memilih  IP tinggi , walau untuk sementara aku harus tidak pulang dulu di Minggu ini, Insya Allah Minggu depan aku bisa pulang karena jadwal ujian sudah berakhir.
“ Ajie, gak pulang nih, Sabtu ini?” tiba-tiba Lia bertanya padaku
“ Gak Li, aku mau belajar aja disini, kalau dirumah gak bisa belajar, kemarin juga sudah ijin  sama Umi untuk gak pulang dulu  Minggu ini karena mau ujian”
“ Aku juga gak pulang Jie, mungkin Minggu depan aja ya Jie, kita bisa pulang sama-sama lagi, biar fresh” kata Lia
Wah aku senang sekali , ada teman nih buat belajar bareng, dan memang menjelang ujian, banyak anak-anak asal Jakarta yang gak pulang , karena mereka lebih memilih fokus belajar untuk menyiapkan ujian semester ini.
Ujian semester semakin dekat, sekarang hari Sabtu, dua hari lagi ujian, upsss aku hanya fokus pada belajar fisika dasar saja, padahal aku juga harus menyiapkan matematika dasar untuk besoknya ,sehingga malam Selasa aku hanya mengulang-ulang saja untuk sekedar mengingatkan. Namun jam 8.00 pagi kulihat teman sekamarku Lia sedang berkemas-kemas dengan pakaian rapi..
“ Mau kemana Li?” tanyaku bingung, karena kufikir hari Sabtu dan Minggu semua kegiatan humaniora dihentikan sementara karena ada ujian semester.
“ Ajie, maaf aku mau balik ke Jakarta dulu, ada yang mau aku ambil di Jakarta, kemarin bapak telepon, mungkin besok  Minggu pagi aku udah balik lagi koq, Ajie gak apa-apa kan sendirian dulu malam ini?”
“ Koq tumben dadakan  Li, iya deh Insya Allah aku gak apa-apa, tapi jangan lama-lama ya Li, gak enak belajar sendirian gak ada teman diskusi dan ngobrol kalau lagi jenuh “ harapku pada Lia
“ iya Jie , aku Cuma semalaman aja koq, besok pagi sudah ke sini lagi, good luck ya belajarnya “ ujar Lia menyemangatiku
Ternyata tidak enak dikamar kost sendirian gak ada teman, ini adalah pertama kali aku ditinggal  Lia, aku gak pernah sendirian, justru Lia yang selalu kutinggal sendiri di kamar, kini aku yang harus sendirian, namun aku bisa lebih fokus belajar, kuputar kaset murotal di tape kesayanganku yang selalu menemaniku dan mengisi hatiku dengan ayat-ayat suci, surat Ar-Rahman mengisi pendengaranku dengan merdunya, bibirku komat komit menghapal kalimat-kalimat penting dari pelajaran fisika dasar ku yang tebalnya minta ampun, sambil sesekali kucatat rumus-rumus untuk memudahkanku mengingat.
Suara adzan Isya mengalun terdengar masuk kedalam ruangan kamarku yang tidak terlalu besar namun cukup untuk dihuni oleh dua orang  wanita aku dan Lia, ku hentikan aktifitasku belajar, ku beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, sajadah kuhamparkan untuk melepas dan mengaduh memohon kemudahan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat, kemudahan dalam menghadapi ujian pertama ku sebagai seorang mahasiwa, hanya Allah SWT yang bisa membuatku mampu menyelesaikan semua ujian dengan mudah dan hasil yang indah, Kutunaikan shalat sunnah qobliyah 2 rakaat, dan kulanjutkan dengan shalat Isya 4 rakaat, kunikmati heningnya malam Minggu pertama di kamar kostku, kuperpanjang sujud akhirku karena mengharap ridho dan takut akan hari pembalasan, kututup shalat Isya ku dengan salam, tak lupa dzikir dan doa yang penuh harap untuk limpahan keridhoan-Nya, dan kutambah shalat sunnah bakdiyah Isya sebagai tambahan ibadah untuk menutupi kekurangan shalat-Isya ku. Tadarus Al-Quran tak lupa aku ladzimkan untuk mengisi relung hati, mensucikan jiwa yang sombong dan kotor ini, berharap Allah SWT  mengampuni dosa-dosaku baik yang sengaja maupun yang tidak, kelalaianku sebagai seorang anak, seorang teman, dan sebagai hamba Allah yang kecil dan penuh kealpaan.
Selepas melakukan rutinitas ibadah , aku biasakan menyempatkan diriku untuk membaca kisah-kisah sahabat Rasulullah, kali ini aku membaca tentang perjuangan Umar Bin Khattab,r.a yang gagah dan berani, aku menyukai membaca kisah-kisah sahabat Rasul, karena dengan mengetahui kisah mereka, maka secara sadar ataupun tidak , aku berusaha untuk  mencontoh tauladan rasulullah yang telah diduplikasi oleh sahabat-sahabatnya, kumulai dari diriku, mulai saat ini, dan mulai yang paling kecil, begitu tekadku.
Selepas Isya, masih sempat kutekuni kembali buku-buku catatan fisikaku, menunggu kantuk datang, barulah aku akan beranjak menuju peraduanku yang sangat empuk, sebenarnya gak empuk-empuk juga sih, namun kalau lagi penat, capek, dan suntuk , kasur keras pun terasa empuk bagikan bulu angsa. Malam kian larut , malam semakin hening, hanya detik jam yang bergerak teratur terdengar sangat jelas , sesekali suara tokek terdengar nyaring dari arah kamar mandi. Bolak balik ku membaca buku mulai dari duduk dikursi meja belajarku, kemudian merubah posisi sambil tidur di atas tempat tidur mencari posisi yang pas, spreiku berwarna hijau sengaja kupasang supaya lebih fresh , kulihat jam dinding sudah menunjukan pukul 23.00 wib, kupaksakan mata ini untuk terpejam, aku tidak mau melewatkan shalat malam hanya karena aku tidur terlalu larut, karena bagiku belajar setelah shalat malam luar biasa pengaruhnya ke dalam otak , lebih banyak yang terserap masuk. Setelah wudhu , kemudian kubaringkan badanku kearah kiblat, sambil kupegang buku kuliahku hanya untuk mempercepat rasa kantuk, dan sepertinya aku terlelap ...zzzz
....Bismika Allahuma Ahya Wabismika amut......
Tiba-Tiba mata yang terpejam ini terbelalak melihat sosok wanita tinggi besar , rambut tergerai panjang hingga bawah, dengan wajah putih serta mata yang besar dan berwarna merah menatap tajam kepadaku berdiri dengan tegaknya dari pojok kamar tepat dari arah kamar mandi atau tepatnya dari ujung tempat tidur  Lia teman sekamarku entah kapan datangnya, tak henti melihat kearahku , aku ketakutan setengah mati, mataku tak berkedip menyakinkan apakah aku sedang bermimpi, siapa sosok itu, kenapa tiba-tiba hadir dari pojok kamarku, kucubit tanganku, sakit, kupegang betis kakiku ..auww... sakit, ternyata...ternyata ...aku tidak bermimpi ini nyata, Tapi...siapa sosok itu...menyeramkan dan sangat menakutkan, tak kuasa aku terus membaca bacaan ayat suci yang aku bisa dan ingat ...
Alhamdulillahirrabbilalamin...arrahmannirrohim.....................  kubaca Al-fatiha seingatku, namun.....makhluk itu terus mengikuti apa yang aku baca...kucoba bangun dari tempat tidurku , berniat untuk meraih radio tape diatas mejaku, ingin aku putar murotal , dengan harapan makhluk itu akan kabur dan terbirit-birit karena lantunan ayat suci, namun lagi-lagi kaki ini berat sekali untuk kuangkat, aku hanya bisa melihat tapeku tanpa bisa kuraih menghampirinya...laulu kucoba ganti dengan menbaca surat yaasin yang aku ingat..
“Yaasiiin...”
“Wal Qur’anil hakim, innaka laminal mursalin....”
Sambil membaca surat yasin samai selesai dan semampuku ,mataku terus kupejamkan, namun lagi-lagi makhluk itu mengikuti bacaanku dan bahkan kini sosok itu bergerak perlahan ke arahku sambil merentangkan kedua tangannya ke arahku seperti hendak mencekikku...
“Ya Allah , aku belum mau mati dulu, apalagi dicekik oleh hantu ini, ya Allah aku mau ikut ujian dulu, kasihan orang tuaku ya Allah, tolong aku ya Allah, semua bacaan yang aku bisa selalu diikuti makhluk jelek ini, ya Allah tolong hamba, hanya pada-Mu hanya meminta ya Allah...” demikian jerit batinku, antara harap-harap cemas, apakah umurku akan menutup pada malam ini atau ahh entahlah aku tidak berharap , aku hanya mohon pada-Nya, semakin dekat dan semakin dekat, lalu....terlepas dari bibirku ayat-ayat kursi mengalir begitu saja...
“Allahulailahailahuwal hayul qoyumm”
Laatakhudzuhu sinatu walanaum...kubaca ayat kursi terus  sampai akhir dan makhluk itu juga terus mengikuti bacaanku, namun hingga... Walaa Yauduhu khifzuma wa huwal aLiiyul 'adzim, kubaca berulang-ulang ketika sampai pada ayat ini,  inilah senjata terakhirku fikirku , karena aku tak tahu harus baca apalagi, sambil memejamkan mata karena makhluk itu kurasakan semakin dekat dengan kedua tanganya yang hendak mencekik ku, aku pasrah hingga aku berkata,” ya Allah , kalau umurku sampai disini, ampuni dosa-dosaku... lalu setelah aku ikhlas dan ayat terakhir ayat kursi kubaca berulang-ulang, kulihat makhluk itu membelokan gerakannya kearah pintu kamar, dan hilang...
Subhanallah ...Allah menyelematkan aku dengan perantara surat ayat kursi . Dan barulah kemudian  aku bisa bangkit kembali dari tempat tidur, langsung ku bersujud dari apa yang baru saja aku alami.
Tiba-tiba aku teringat kisah seorang saudagar kaya raya yang berhasil menghanguskan Jin Ifrit dengan bacaan ayat kursi, saudagar kaya itu bernama Ka’ab, aku merasa apa yang aku alami agak mirip dengan kisah saudagar Ka’ab, yang pada saat itu sedang melakukan perjalanan ke negeri Basrah. Karena Ka’ab adalah pedagang besar sehingga membawa banyak barang dagangan untuk dijual, namun sesampai di negeri Basrah , dia mencari penginapan , akan tetapi semua penginapan pada saat itu tidak ada yang kosong, karena telah ditempati oleh pedagang lain yang sudah lebih dulu datang. Karena sudah sangat lelah, akhirnya Ka’ab mencari tempat beristirahat, dan menemukan rumah kosong yang sudah lama tidak ditempati , bangunan yang sudah tua,kotor dan banyak dipenuhi oleh sarang laba-laba. Kemudian Ka’ab berusaha mencari pemiliknya dengan maksud menyewa rumah tersebut selama berada di negeri Basrah. Ketika bertemu dengan pemilik rumah, Ka’ab menyampaikan keinginannya untuk menyewa rumah tersebut,...
“ Rumah ini aneh, banyak kejadian aneh terjadi dirumah ini, masyarakat disini selalu memperbincangkan rumah ini” kata si pemilik rumah
“ Apa yang terjadi dengan rumah ini?” tanya Ka’ab
Menurut berita yang saya dengar, rumah ini di huni oleh Jin Ifrit , banyak orang yang mencoba menempatinya, namun akhirnya mereka semua binasa”, ujar si pemilik rumah
Karena keadaan darurat dan tidak menemukan penginapan, akhirnya Ka’ab tetap menyanggupi untuk beristirahat di rumah tersebut, asalkan diizinkan oleh si pemilik rumah.
“ Baiklah saya tidak keberatan apabila rumah itu ingin ditempati dan saya tidak akan mengambil bayaran sedikitpun” jawab  si pemilik rumah.
Akhirnya Ka’ab menempati rumah kosong yang angker itu. Sepanjang malam tidak ada hal ganjil yang ditemui hingga esoknya. Semua berjalan normal saja, Ka’ab dapat berjualan barang dagangannya dan ketika matahari terbenam dia kembali ke rumah kosong tersebut untuk beristirahat. Namun malam itu Ka’ab merasakan beberapa keanehan , dan matanya sulit sekali dipejamkan.
Kemudian dengan suasana yang sunyi, tiba-tiba sosok bayangan hitam dengan kedua mata yang menyala-nyala membara seperti api mendekatinya. Dengan spontan Ka’ab terjaga dan membaca ayat kursi, namun tanpa disangka nya sosok bayangan hitam tersebut tetap tidak menghilang bahkan diluar dugaannya turut mengikuti apa yang dibaca oleh Ka’ab hingga hampir sampai pada akhir dari ayat kursi. Ketika Ka’ab  membaca Walaa Yauduhu khifzuma wa huwal aLiiyul 'adzim,  bayangan tersebut tidak mengikuti apa yang dibaca Ka’ab dan secara tiba-tiba  bayang-bayang hitam itu lenyap . namun Ka’ab terus saja membaca ayat kursi berulang-ulang sampai memastikan bayangan itu benar-benar hilang. Dan dengan lenyapnya bayangan tersebut disertai bau seperti barang yang terb akar.
Dimana keesokannya  Ka’ab menemukan abu seperti bekas sesuatu yang terbakar di sudut rumah itu, dan tiba-tiba terdengar suara gaib , “"Hai Ka'ab, engkau telah membakar Jin Ifrit yang sangat kuat “ kata suara gaib kepada Ka’ab.
“Dengan apa aku membakarnya ?” tanya Ka’ab
“Dengan firman Allah, Walaa Yauduhu khifzuma wa huwal aLiiyul 'adzim,."jawab suara
Gaib.
Dari cerita tersebutlah akhirnya aku melafalkan ayat kursi ketika sosok menyeramkan itu menampakan wujudnya dihadapanku.
Keesokan paginya ba’da shalat subuh aku langsung berkemas-kemas , semua buku-buku kuliah yang jadwal hari pertama ujian , aku kemas ke dalam tas, tanpa ijin sama teman-teman yang lain ,aku langsung pulang ke Jakarta, niat pulang minggu depan aku percepat, aku ingin belajar di Jakarta saja.Senin pagi aku pulang ke Bogor lagi .
Senin pagi sesampaiku di Bogor ku ceritakan semua yang terjadi pada Lia, dan Lia terlihat ketakutan, lalu malamnya kami berniat belajar bersama, dan tidur pun juga janji bareng
“ Li, kita tidur bareng yuk jamnya,  trus nanti kita bangun malam sama-sama, kita shalat dulu baru deh kita belajar “ pintaku
“ iya Jie, kita belajar jangan malam-malam, kita tidur jam 10 malam aja ya, nanti jam tiga-an kita bangun sama-sama..”ulang Lia untuk memastikan.
Kemudian setelah buku ujian besok aku baca, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, kamipun segera bergegas tidur setelah mengambil  wudhu.
Namun 15 menit kami terlelap..
“ Brrrrrrraaaakkkkk.....”
Kami sama-sama terbangun, kulihat meja rias milik Lia berjatuhan , ternyata Lia yang menjatuhkan semuanya. Kami mimpi yang sama namun berbeda reaksi yang kami  keluarkan.
Lia bercerita , kalau sesaat setelah dia terlelap, dia melihat ada makhluk menyeramkan berada satu tempat tidur dia, dan berusaha mendekap  Lia, namun dia berontak, dan akhirnya refleknya keluar hingga menjatuhkan barang-barang pribadinya. Sedangkan aku menceritakan kepada Lia apa yang aku alami, bahwa sesaat aku terlelap , aku melihat ada sosok menyeramkan memakai topeng-topeng yang buruk rupa dan berusaha mendekatiku, namun aku tidak bisa berteriak, karena kulihat Lia sedang tertidur nyenyak disampingku namun tidak mendengar panggilan teriakku...” Lia...Lia...tolong aku, Lia ...bangun...’
Dan akhirnya aku bersyukur bisa terbangun dari tidurku, dan di saat yang sama ternyata Lia juga terbangun .
Sejak kejadian tersebut akhirnya aku memutuskan untuk tidak memperpanjang sewa kamar kostku di Malabar 7, karena saat ujian berakhir memang berakhir pula masa sewaku, aku memang menyewa hanya untuk enam  bulan saja, kalau cocok rencananya aku ingin memperpanjang sewa kamar lagi, namun kost ditempat rumah tua walau dekat sungguh tidak menyenangkan, dan sesaat aku sedang mengemas pakaian untuk persiapan pindah kost, ternyata baru aku tahu juga kalau rumah sebelah kost kami adalah ruang mayat rumah sakit  PMI Bogor, karena siangnya aku mendengar tangisan seorang  wanita yang baru saja ditinggal mati oleh anggota keluarganya. Barulah setelah kami tahu di sebelah belakang Malabar 7 adalah kamar mayat, teman-teman kost saling membuka rahasia mereka, bahwa setiap malam mereka selalu mendengar suara tertawa  seperti kuntilanak dari arah pohon durian  yang usianya sudah puluhan tahun. Dan jujur aku pun pernah mendengar suara-suara menyeramkan tersebut ,namun aku selalu putar murotal  dengan volume yang besar untuk menghindari mendengar suara misteri tersebut.
Kini , enam bulan telah lewat dari kejadian yang aku alami,  setiap ku melintas Malabar 7 sepulang mengikuti kuliah di kampus, aku hanya melirik sekilas ke Malabar 7 yang penuh dengan misteri dengan senyum  yang penuh arti, dan lucunya lagi ketika aku berjalan bersama Maknun temanku   melewati Malabar 7, aia tiba-tiba spontan berkata padaku,
“ Jie, tahu gak di kost-an ini ada hantunya loh Jie, ? ada mahasiswa baru yang melihat penampakan dari hantu ini Jie, katanya wajahnya seram, rambutnya panjang, pokoknya seram deh Jie..” ucap Maknun bersemangat .
“ Masa sih...kamu kata siapa? emang mahasiswa itu siapa ? Kamu kenal?” tanyaku menyelidik , sambil geli juga sih mendengarnya, Karena ternyata cerita itu sudah menjadi cerita dari  mulut ke mulut yang hangat dibicarakan dikalangan mahasiswa IPB saat itu.
“ Aku gak kenal Jie sama mahasiwanya,  aku juga tahu ceritanya dari orang-orang juga sih..” katanya kecut..
Hehehehe...Maknun temanku, kamu gak tahu kalau mahasiswa yang mengalami kejadian menyeramkan itu adalah AKU, yang Allah SWT tolong melalui kisah Ka'ab dan ayat kursinya. Kini aku selalu memotivasi diriku sendiri bahwa kita “ Jangan Takut Hantu”, karena Allah SWT selalu berserta kita.
Semoga setiap kejadian yang kita alami selalu ada hikmah yang bisa kita ambil pelajarannya untuk menjadi guru yang terbaik dalam menapaki kehidupan ini. Wallahu ‘alam bishowab