SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MENIKMATI, SEMOGA BERMANFAAT

Sabtu, 03 Desember 2011

“ KEUTAMAAN SUNNAH QURBAN “

Menurut istilah, qurban adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik berupa hewan sembelihan maupun yang lainnya.

                Hukum Qurban

Qurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Imam Malik, Asy Syafi'i, Abu Yusuf, Ishak bin Rahawaih, Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm dan lainnya berkata, "Qurban itu hukumnya sunnah bagi orang yang mampu (kaya), bukan wajib, baik orang itu berada di kampung halamannya (muqim), dalam perjalanan (musafir), maupun dalam mengerjakan haji."
Ukuran "mampu" berqurban, hakikatnya sama dengan ukuran kemampuan shadaqah, yaitu mempunyai kelebihan harta (uang) setelah terpenuhinya kebutuhan pokok (al hajat al asasiyah) -yaitu sandang, pangan, dan papan-- dan kebutuhan penyempurna (al hajat al kamaliyah) yang lazim bagi seseorang. Jika seseorang masih membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka dia terbebas dari menjalankan sunnah qurban
Orang yang mampu berqurban tapi tidak berqurban, hukumnya makruh. Sabda Nabi SAW : "Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami." Namun hukum qurban dapat menjadi wajib, jika menjadi nadzar seseorang, sebab memenuhi nadzar adalah wajib sesuai hadits Nabi SAW :"Barangsiapa yang bernadzar untuk ketaatan (bukan maksiat) kepada Allah, maka hendaklah ia melaksanakannya."

                Keutamaan Qurban

Berqurban merupakan amal yang paling dicintai Allah SWT pada saat Idul Adh-ha. Sabda Nabi SAW : "Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya Qurban yang lebih dicintai Allah selain menyembelih qurban." (HR. At Tirmidzi). Berdasarkan hadits itu Imam Ahmad bin Hambal, Abuz Zanad, dan Ibnu Taimiyah berpendapat, "Menyembelih hewan pada hari raya Qurban, aqiqah (setelah mendapat anak), dan hadyu (ketika haji), lebih utama daripada shadaqah yang nilainya sama." (Al Jabari, 1994). Tetesan darah hewan qurban akan memintakan ampun bagi setiap dosa orang yang berqurban. Sabda Nabi SAW : "Hai Fathimah, bangunlah dan saksikanlah qurbanmu. Karena setiap tetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kaulakukan.. ."

                Waktu  Pelaksanaan Sunnah Qurban

Qurban dilaksanakan setelah sholat Idul Adh-ha tanggal 10 Zulhijjah, hingga akhir hari Tasyriq (sebelum maghrib), yaitu tanggal 13 Zulhijjah. Qurban tidak sah bila disembelih sebelum sholat Idul Adh-ha. Sabda Nabi SAW : "Barangsiapa menyembelih qurban sebelum sholat Idul Adh-ha (10 Zulhijjah) maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyembelih qurban sesudah sholat Idul Adh-ha dan dua khutbahnya, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya (berqurban) dan telah sesuai dengan sunnah (ketentuan) Islam." (HR. Bukhari)
Sabda Nabi SAW : "Semua hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah) adalah waktu untuk menyembelih qurban." (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang diluaskan rezeki untuk melaksanakan sunah qurban setiap waktu , dan diterima amal ibadah kita , amin.
 (Oktober 2009)
“ KEUTAMAAN LAILATUL QADR“

Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita  berbicara tentang surat Al-Qadar. Surat  Al-Qadar  adalah  surat  ke-97  dalam al qur'an ditempatkan  sesudah surat  Iqra'.Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa Surat Al-Qadar turun jauh sesudah turunnya surat Iqra'. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah.

Bulan  Ramadhan  memiliki  sekian  banyak  keistimewaan, salah satunya adalah Lailatul Qadar, suatu malam yang oleh Al-Quran "lebih baik dari seribu bulan."

Tetapi  apa  dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu,  atau  terjadi  setiap  bulan  Ramadhan  sepanjang masa? Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang  yang  menantinya pasti  akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya  air,heningnya  malam,  dan  menunduknya pepohonan dan sebagainya)? Bahkan masih banyak lagi  pertanyaan  yang  dapat  dan  sering muncul berkaitan dengan malam Al-Qadar itu.

Yang  pasti  dan  harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran  bahwa,  "Ada  suatu  malam  yang  bernama Lailat  Al-Qadar,  dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan."

Malam  Qadar  yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung  tentang diri  beliau  dan  masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya,  turunlah  Ar-Ruh  (Jibril)  membawa  ajaran  dan membimbing  beliau  sehingga  terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat  manusia. Karena  itu  pula  beliau  mengajarkan  kepada  umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar  itu,  antara  1ain adalah melakukan i'tikaf.

Walaupun  i'tikaf  dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja --bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i,  walau sesaat  selama dibarengi oleh niat yang suci-- namun Nabi Saw. selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa.  Di  sanalah  beliau  bertadarus  dan  merenung  sambil berdoa. Salah satu doa yang  paling  sering  beliau  baca  dan  hayati maknanya adalah: Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan Di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kamian siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201).

Doa ini bukan  sekadar  berarti  permohonan  untuk  memperoleh kebajikan  dunia dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai  usaha.  Permohonan  itu  juga  berarti  upaya  untuk menjadikan  kebajikan  dan  kebahagiaan  yang  diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di  dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.

Adapun   menyangkut   tanda   alamiah,   maka  Al-Quran  tidak menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal tersebut,tetapi  hadis  tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar hadis yang dikenal  melakukan  penyaringan  yang  cukup  ketat
terhadap hadis Nabi Saw.

Sehingga paling tidak ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk menyambut malam lailatul Qadr diantaranya adalah berjaga-jaga di sepuluh malam terakhir dan memperbanyak ibadah wajib maupun sunah di sepuluh malam terakhir tersebut. Hanya Allah SWT yang mengetahui kapan malam mulia tersebut akan turun. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang menjumpai malam 1000 bulan tersebut dan dalam penuh kesucian dan keikhlasan dalam berdoa dan beribadah kepada Allah SWT amin.

Wallahu 'alam bisshowab

Sumber : WAWASAN AL-QURAN
(Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat)
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

(September 2009)
“ KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN “
Alhamdulillah, hari ini tepatnya tanggal 22 Agustus 2009 kita sudah memasuki bulan Ramadhan. Sudah seharusnya bagi kita menyambut kedatangan bulan yang penuh kemuliaan ini dengan sikap dan amalan terbaik kita, sehingga walaupun sudah sering kita berlatih dari tahun ke tahun namun senantiasa kita selalu menjadi peserta dari pelatihan ini , karena walau bagaimanapun kita tetap harus mengkaji sumber-sumber yang mengupas tentang bulan Ramadhan sehingga pada akhirnya kita akan membawa ijazah dari training di bulan Ramadhan ini dengan predikat SUMA CUMLAUDE, Amin
Berdasarkan sumber yang diperoleh dari beberapa hadist ataupun kutipan lain ada beberapa hal yang perlu kita lakukan dalam menyambut Bulan Ramadhan ini, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Berdoa kepada Allah SWT untuk memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat , kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal baik puasa, tilawah, dan dzikir. Sebagaimana Rasulullah SAW apabila telah memasuki bulan Rajab selalu berdoa ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)
2. Bersyukurlah dan puji Allah atas karunia bulan Ramadan yang kembali diberikan kepada kita.
3. Bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabat setiap kali datang bulan Ramadan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).
4. Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.
5. Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas kebaikan.
6. Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadan. Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.
7. Sambut Ramadhan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Bertaubatlah secara benar dari segala dosa dan kesalahan. Ramadan adalah bulan taubat. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]
8. Siapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadhan.
9. Siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadhan dengan membuat catatan kecil untuk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh dan zhuhur.
10. Sambutlah bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah, dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah saw., dengan melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahmi. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

(Agustus 2009)
“ KEUTAMAAN BULAN SYA'BAN “
Alhamdulillah, kita sudah memasuki bulan Sya'ban, hari ini  pada saat pembuatan materi kultum Juli kita telah berada pada tanggal 2 sya'ban Ini artinya kurang dari satu bulan  lagi kita akan bertemu dengan Ramadhan, Insya Allah, jika Allah Mengijinkan. Ramadhan adalah bulan berjuta keutamaan. Sya’ban juga memiliki keutamaannya sendiri, terutama bagi mereka yang bersiap-siap, melakukan pemanasan, agar bisa langsung tancap gas begitu Ramadhan tiba dan insya allah semoga kita dipanjangkan umur, amin..
“Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim daripada Sayidatina Aisyah R.A., beliau telah berkata yang maksudnya: “Adalah Rasulullah S.A.W sering berpuasa hingga kami menyangka bahwa Baginda berpuasa terus menerus dan Baginda sering berbuka sehingga kami menyangka bahwa Rasulullah akan berbuka seterusnya. saya tidak pernah melihat Baginda berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan saya tidak pernah melihat Baginda berpuasa sunat dalam sebulan yang lebih banyak dari puasanya di bulan Sya'ban.” Rasulullah SAW, menjawab kepadanya dengan mengatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang terletak antara bulan bulan Rajab dan Ramadhan sering kali orang melupakan fadilah dan keutamaan yang terkandung didalamnya bulan tersebut. Padahal bulan tersebut segala amal perbuatan selama satu tahun diangkat kehadapan Allah SWT. Dan inilah sebabnya kenapa saya banyak berpuasa sunnat pada bulan tersebut, karenanya ingin amal dan perbuatan saya diangkat kehadapan Allah SWT. Dan saya dalam keadaan puasa.
Hadis diatas kemudian diperkuat lagi oleh hadis riwayat Anas ra. ” Orang muslim di zaman Rasulullah SAW, dan sahabatnya selalu meningkatkan bacaan Al-Quran setiap kali memasuki bulan Sya’ban, dan pada bulan Sya’ban jugalah mereka selalu membayar zakat mereka terhadap fakir miskin demi untuk membantu menghadapi bulan Ramadhan dengan jiwa yang tenang”. Kedua hadis Rasulullah itu mengingatkan kaum muslimin menyambut bulan Sya’ban dengan melaksanakan perintah Allah SWT, dan melaksanakan perbuatan yang baik-baik. Bagi mereka yang mendapatkan rezki yang dilebihkan Allah jangan lupa menyisihkan sebagian rezki itu untuk bersedekah dan membayar zakat. Mudah-mudahan Allah SWT, dengan menunjukkan amal ikhlas seorang muslim sejati disisi Allah SWT, akan menurunkan rahmat yang berlimpah kepada manusia dan alam sekitar. Seperti rahmat kesehatan, rahmat kesempatan, rahmat Iman dan rahmat Islam.
Beliau bersabda, ' Lakukan amalan menurut kemampuanmu, karena Allah tidak pernah merasa bosan terhadap amal kebaikanmu sehingga kami sendiri yang bosan.’ Dan, shalat (sunnah) yang paling dicintai Nabi adalah yang dilakukan secara kontinu, meskipun hanya sedikit. Apabila beliau melakukan suatu shalat (sunnah), maka beliau melakukannya secara kontinu.”  Aisyah r.a. berkata, “Saya biasa mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, dan saya tidak dapat mengqadhanya melainkan di bulan Sya’ban.” Yahya berkata, “(Hal itu karena) sibuk dengan urusan Nabi.”

KEISTIMEWAAN BULAN SYA'BAN
Sesungguhnya untuk yang mau mempelajari bulan demi bulan mengandung kelebihan tersendiri, Ramadhan turunnya Al-Quran, Zulhijjah disebut bulan haji, Nabi Ibrahim mengorbankan anak sendiri Ismail kemudian umat Nabi Muhammad SAW, menamakannya bulan korban. Bulan Rajab Isra’ Mikraj Rasulullah SAW. Bulan Sya’ban meiliki jumlah keistimewaan dan hikmah pula, yakni hikmah dan kebaikan yang dikandungnya. Bulan Sya’ban mendatangi kita tiap tahun guna memberikan kesempatan agar meningkatkan dan melipatgandakan berbagai amal kebaikan. Pada bulan inilah kesempatan bagi kaum muslimin memperbanyak amal ibadahnya serta perbuatan lainnya seperti memberi sedekah fakir miskin, membina anak yatim, memperbanyak puasa sunnat guna melatih diri menghadapi puasa Ramadhan nantinya. Selain itu juga didalam bulan Sya'ban ini ada satu malam yang dikenal dengan malam Nisfu Sya'ban, dan ada kisah yang meriwayatkan malam tersebut sebagai berikut : Suatu malam rasulullah shalat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai shalat beliau berkata: "Hai A'isyah engkau tidak dapat bagian?". Lalu aku menjawab: "Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama". Lalu beliau bertanya: "Tahukah engkau, malam apa sekarang ini". "Rasulullah yang lebih tahu", jawabku. "Malam ini adalah malam nisfu Sya'ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki" (H.R. Baihaqi)

Setelah kita memahami esensi dari bulan Sya'ban diatas, semoga kita menjadi bulan Ramadhan menjadi bulan yang sangat istimewa  karena dengan bermodalkan pengalaman di bulan Sya’ban Insya Allah kita dapat dengan ikhlas mengamalkan ibadah selama bulan Ramadhan nanti dengan ikhlas karena Allah SWT dan hanya ridha Allah SWT saja yang kita cari .

(JULI 2009)
“ KEUTAMAAN BULAN RAJAB “
Bulan Rajab telah kita masuki , pada saat pembuatan materi kultum ini tanggal 27 Juni 2009 , kita telah memasuki hari ke-4 bulan rajab, yang awal bulan rajab jatuh pada hari rabu tanggal 24 juni 2009,  Ini berarti bulan depan adalah bulan Sya’ban dan dua bulan lagi kita akan bertemu dengan Ramadhan, Insya Allah, jika Allah Mengijinkan. Ramadhan adalah bulan berjuta keutamaan. Sya’ban juga memiliki keutamaannya sendiri, terutama bagi mereka yang bersiap-siap, melakukan pemanasan, agar bisa langsung tancap gas begitu Ramadhan tiba.

Lalu bagaimana dengan bulan Rajab? Bulan Rajab termasuk bulan haram dan puasa di bulan-bulan haram itu maqbul (diterima) dan musthahab (disukai) dalam keadaan apa pun. Bulan haram adalah bulan yang peperangan dilarang atau diharamkan dalam bulan itu. Bulan haram ada empat bulan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” QS. At Taubah [9] : 36.

Diriwayatkan bahawa Nabi SAW telah bersabda: "Ketahuilah bahawa bulan Rajab itu   adalah bulan Allah SWT  maka barangsiapa yang berpuasa satu hari dalam bulan Rajab dengan ikhlas, maka pasti ia mendapat keridhaan yang besar dari ALLAH SWT.   Barangsiapa yang berpuasa dua hari dalam bulan Rajab mendapat kemuliaan  disisi ALLAH SWT.  Barangsiapa berpuasa tiga hari dalam bulan Rajab, maka ALLAH akan menyelamatkannya dari bahaya dunia, siksa akhirat, dari terkena penyakit gila,  dan diselamatkan dari fitnahnya syaitan dan dajjal. Barangsiapa berpuasa tujuh hari dalam bulan Rajab, maka ditutupkan tujuh pintu neraka Jahanam. Barangsiapa berpuasa delapan hari dalam bulan Rajab, maka dibukakan lapan pintu syurga baginya.  Barangsiapa berpuasa lima belas hari dalam bulan Rajab, maka ALLAH mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan dan barang siapa yang  menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan pahalanya."
Sabda Rasulullah SAW: "Pada malam Mi'raj, saya melihat sebuah sungai yang  airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya Jibril as : "Wahai Jibril untuk siapakah sungai ini?"Berkata Jibril as: "Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca sholawat untuk engkau dibulan Rajab."

Dalam sebuah riwayat Tsauban bercerita: "Ketika kami berjalan bersam-sama Nabi SAW melalui sebuah kubur, lalu Nabi berhenti dan Baginda menangis dengan amat sedih, kemudian baginda berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya Rasulullah SAW: "Ya Rasulullah SAW,mengapa anda menangis?" Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur mereka, dan saya berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa ke atas mereka."
Sabda Rasulullah SAW lagi: "Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya mereka ini mau berpuasa satu hari saja dalam bulan Rajab, dan mereka tidak tidur semalam saja di bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa dalam kubur." Tsauban bertanya: "Ya Rasulullah SAW, apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah boleh mengelakkan dari siksa kubur?"
Sabda Rasulullah SAW: "Wahai Tsauban, demi ALLAH Zat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat kerana ALLAH,kecuali ALLAH mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan sholat malam satu tahun."

Sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Rajab adalah bulan ALLAH, Sya'ban adalah bulan aku (Rasulullah SAW) dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku." "Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi, keluarga nabi dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab,Sya'ban dan bulan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang serta tidak ada rasa lapar dan haus bagi mereka." (Kitab Duratun Nashihin)

Sehingga, yang paling baik bagi kita untuk bulan Rajab ini adalah memperbanyak amalan-amalan shalih dan memperbanyak puasa karena keutamaan bulan haram, juga mempersiapkan diri menjelang pertemuan kita dengan Ramadhan. dan Apabila memasuki bulan Rajab Rasulullah  senantiasa berdo’a:
“Allahumma Baarik Lanaa Fii Rajab Wa Sya’baan Wa Ballighnaa Romadhan” (Yaa Allah, Anugerahkanlah kepada kami barokah di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan) (HR Ahmad dan Bazzar).
Semoga Allah SWT mempermudahkan kita menjadi ummat-Nya yang memuliakan bulan Rajab  untuk persiapan di bulan Ramadhan, Amin. Wallahu'alam bisshowab

(Juni 2009)
TAUBAT

Manusia tempatnya salah dan lupa, tidak ada manusia yang sempurna , terkadang semua yang menurutnya bagus untuk dilakukan belum tentu lepas dari dosa, karena ada hal yang terkadang manusia tidak menyadari bila ada sombong , riya atau perasaan lainnya yang tidak sengaja terselip dalam aktifitas sehari-hari. Namun manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, akan tetapi manusia yang terbaik adalah manusia yang ketika dia berbuat kesalahan dia langsung bertaubat kepada Alloh dengan sebenar-benar taubat. Bukan sekedar tobat sesaat yang diiringi niat hati untuk mengulang dosa kembali. Lalu bagaimanakah agar taubat seorang hamba itu diterima?

Namun , janganlah berkecil hati dengan dosa-dosa yang pernah kita buat atau yang sudah ada, satu hal yang kita yakini bahwa sebesar apapun dosa kita, Insya Allah , Allah SWT akan mengampuni dosa kita. Karena dalam beberapa kitab seperti dalam duratun Nashihin maupun Nasyaihul Ibad, bahwa Allah akan mengampuni dosa kita apabila kita  memang benar-benar ingin bertobat , dan seseorang yang ingin bertobat , apabila taubatnya ingin di terima dan dosanya akan diampuni , maka dia harus memenuhi tiga hal yaitu: (1) Menyesal, (2) Berhenti dari dosa, dan (3) Bertekad untuk tidak mengulanginya.

Taubat tidaklah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa yang dikerjakan. Barang siapa yang tidak menyesal maka menunjukkan bahwa ia senang dengan perbuatan tersebut dan menjadi indikasi bahwa ia akan terus menerus melakukannya. Akankah kita percaya bahwa seseorang itu bertaubat sementara dia dengan ridho masih terus melakukan perbuatan dosa tersebut? Hendaklah ia membangun tekad yang kuat di atas keikhlasan, kesungguhan niat serta tidak main-main.

Dosa-dosa yang dilakukan oleh seseorang bermacam-macam jenisnya, ada dosa yang dilakukan hanya seseorang itu yang rasakan dan tidak berhubungan dengan pihak lain, dan ada dosa yang berkaitan dengan hak anak Adam, namun apabila yang kedua ini yang ada maka ada satu hal lagi yang harus ia lakukan, yakni dia harus meminta maaf kepada saudaranya yang bersangkutan, seperti minta diikhlaskan, mengembalikan atau mengganti suatu barang yang telah dia rusakkan atau curi dan sebagainya.

Namun apabila dosa tersebut berkaitan dengan ghibah (menggunjing), qodzaf (menuduh telah berzina) atau yang semisalnya, yang apabila saudara kita tadi belum mengetahuinya (bahwa dia telah dighibah atau dituduh), maka cukuplah bagi orang telah melakukannya tersebut untuk bertaubat kepada Alloh, mengungkapkan kebaikan-kebaikan saudaranya tadi serta senantiasa mendoakan kebaikan dan memintakan ampun untuk mereka. Sebab dikhawatirkan apabila orang tersebut diharuskan untuk berterus terang kepada saudaranya yang telah ia ghibah atau tuduh justru dapat menimbulkan peselisihan dan perpecahan diantara keduanya.

Nikmat Dibukanya Pintu Taubat
Apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Alloh bukakan pintu taubat baginya. Sehingga ia benar-benar menyesali kesalahannya, merasa hina dan rendah serta sangat membutuhkan ampunan Alloh. Dan keburukan yang pernah ia lakukan itu merupakan sebab dari rahmat Alloh baginya. Sampai-sampai setan akan berkata, “Duhai, seandainya aku dahulu membiarkannya. Andai dulu aku tidak menjerumuskannya kedalam dosa sampai ia bertaubat dan mendapatkan rahmat Alloh.” Diriwayatkan bahwa seorang salaf berkata, “Sesungguhnya seorang hamba bisa jadi berbuat suatu dosa, tetapi dosa tersebut menyebabkannya masuk surga.” Orang-orang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Dia menjawab, “Dia berbuat suatu dosa, lalu dosa itu senantiasa terpampang di hadapannya. Dia khawatir, takut, menangis, menyesal dan merasa malu kepada Robbnya, menundukkan kepala di hadapan-Nya dengan hati yang khusyu’. Maka dosa tersebut menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan orang itu, sehingga dosa tersebut lebih bermanfaat baginya daripada ketaatan yang banyak.”
Semoga kita termasuk hamba-Nya yang selalu bertobat walaupun kita tidak melakukan dosa, sehingga kita menjadikan hari-hari kita penuh dengan pertaubatan, jadikan malam-malam kita penuh dengan tangis dan ratap dalam memohon ridho dan ampunan Allah SWT sehingga kita diwafatkan dalam keadaan iman dan KHUSNUL KHATIMAH. Amin.

(Mei 2009)
HIDUP INI ADALAH UJIAN
Hidup kita merupakan ujian. Susah senang yang kita alami dalam hidup telah diatur rapi oleh Allah untuk kita. Ujian senantiasa mendampingi dan mewarnai kehidupan kita sebagai seorang manusia. Hidup mudah tanpa kesusahan akan membosankan. Kesusahan yang berkepanjangan akan mengecewakan. Kehidupan pasti ada naik dan turun, menang dan kalah, sukses dan gagal. Itu sudah menjadi sunnatullah, Allah yang lebih memahami sifat makhlukNya. Tugas kita sebagai hamba Allah hanyalah menjalankan apa yang perintahkan-Nya. Biarlah ketetapan/kesudahan sesuatu perkara itu menjadi hak milik Allah semata. Dalam (QS 67 : 2) “ yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. selanjutnya dalam  ( QS 2: 155 “ dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dan Secara umum beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi ujian hidup diantaranya :
1. Waktu Ujian
Batas waktu sudah ditentukan secara pasti “Apabila telah datang ajalmu, tidak akan dapat dicepatkan ataupun dilambatkan, karena semua itu adalah rahasia Allah”. Hikmahnya; tidak boleh mengabaikan/melalaikan setiap perintah Allah. Gunakan waktu sebaik mungkin karena waktu yang telah berlalu tidak akan dapat dijemput kembali. Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. tiap-tiap umat mempunyai ajal. apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS 10: 49)
2. Bentuk Ujian
Secara garis besar, ada 2 bentuk soal ujian; yaitu berupa keburukan ataupun kebaikan. tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS 21 : 35).
Selama menjalani ujian ingatlah selalu bahwa Allah senantiasa mengawasi. Tidak satupun perbuatan, perkataan dan hati bisa luput dari pengawasan Allah. Selalu mengingat adanya pengawasan akan membuat kita berhati-hati dalam setiap perbuatan maupun perkataan.
Sedangkan bagi yang dinyatakan tidak lulus atau gagal akan menerima azab yang setimpal dengan kesalahan yang diperbuatnya. Tak ada tenggat bagi mereka yang memohon untuk dikembalikan kedunia karena tidak ada ujian susulan bagi keyakinan yang terlambat.

Sepanjang kehidupan yang dilalui manusia di dunia ini tak lepas dari ujian. Akal yang dikaruniakan pada manusia merupakan alat yang bisa digunakan untuk memikirkan seni dalam menjalani kehidupan, karena sesungguhnya hidup itu adalah sebuah perjalanan yang sarat dengan ujian. Dan kini saatnya kita merenung alur perjalanan hidup kita, dan tepatlah
firman Allah " Dia lah yang menciptakan kematian dan kehidupan adalah untuk menguji siapa yang paling baik amalnya," ada beberapa pelajaran dalam ayat ini, pertama kita harus yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian,jadi matilah untuk hidup jangan hidup untuk mati, kedua : hasil dari perjalanan kehidupan bahwa kita hanya diminta oleh Allah untuk berbuat yg terbaik,bukan quantitas  melainkan qualitas. Jalan menuju yang terbaik adalah siapa yg paling bisa menjaga keilkhlasan dalam beramal dan paling mengikuti sunnah Rosulullah, wallahu a'lam bishshowab.
SELAMAT UJIAN SEMOGA SUKSES!

(April 2009)